Tasawuf

Akrobat Puasa

Ramadhan tahun ini memang terasa agak lain, setidaknya bagi kami. Ada saja orang ‘ajaib’ yang tiba-tiba nyelonong bertamu ke ghota’an. Baru sepertiga Ramadhan saja, sudah tiga mahluk ajaib yang mampir.

Yang pertama, seorang lelaki agak muda, sekitar empat puluh lima tahunan, tinggi besar, berewokan. Wajahnya bersih, putih, tapi pakaiannya kumal dan berdebu seperti habis berjalan jauh.

“Saya dari timur, mau ke barat. Kebetulan lewat..” katanya membuka pembicaraan setelah kami persilakan duduk. Suaranya lembut dan halus.

“Nama saya Abdullah. Saya diberitahu orang untuk mampir kesini…” lanjutnya.

“O ya? Alhamdulillah. Mungkin ada yang bisa saya bantu?” Saya sedikit berbasa-basi.

“Membantu? Jelas tidak! Tidak! Sampeyan tidak akan sanggup membantu…”

Kami benar-benar terkejut dengan jawabannya. Kurang ajar betul ini orang. Belum kenal, tapi omongannya langsung memanaskan kuping.

“Mbok jangan menghina…” celetuk Giman.

Orang tersebut malah tertawa.

“Menghina? Siapa menghina? Siapa dihina? Siapa hina? Apa ukurannya? Bagaimana cara pandangnya? Seberapa sudut dan jarak pandangnya? Siapa memandang, siapa dipandang? Kan semua tidak, atau sekurang-kurangnya, belum jelas…”

Tentu jawabannya ini membuat kami melongo. Menyangka bahwa orang tersebut hanya mencari sumbangan, lik Jum berinisiatif memberinya uang.

“Nah, siapa yang sekarang menghina? Sudah saya katakan: saya tidak butuh bantuan. Kok malah mau diberi uang? Kalian kira saya pengemis?”

“Begini Mas, kami belum kenal sampeyan…” sahut lik Cecep.

“Saya Abdullah, dari timur ke barat…”

“Ya, kami tahu, tapi kami…” sambar lik Jum.

“Tidak akan pernah kenal, wong saya yang sudah puluhan tahun bersama diri ini saja tidak pernah bisa sungguh-sungguh kenal kok, apalagi kalian yang baru beberapa menit bertemu…” potong tamu tersebut.

“Maksud kami…”

“Kartu pengenal? KTP? Apa kalian kira KTP bisa mewakili diri saya? Apa kalau tanpa KTP lantas saya bukan siapa-siapa, bukan apa-apa? Aneh, wong saya saja tidak bisa mewakili diri sendiri, kok malah kartu yang disuruh mewakili…”

“Waduh kok malah ruwet gini…” keluh Giman sambil garuk-garuk kepala.

Kami saling berpandangan. Diam-diam kami saling memberi kode, bahwa yang kami hadapi mungkin memang orang gila.

“Saya tidak gila. Mohon jangan berpikir macam-macam! Kalian ini terbiasa cari gampangnya saja, kalau tak mampu memahami sesuatu lantas buru-buru bikin cap, kasih stempel, stigma…Ngawur saja!”

Waduh. Kami jadi salah tingkah.

“Kopi Mas?” celetuk lik Cecep mengalihkan pembicaraan.

“Saya puasa!”

Kembali kami saling berpandangan.

“Puasa? Masak malam begini belum juga buka?” ujar Giman keheranan.

“Hidup saya adalah puasa. Buka saya nanti saat malaikat maut datang…!”

“Waduh,” teriak Giman sambil menepuk jidatnya, “Ini…ini…”

“Lantas, apa maksud Mas mampir kemari?” tanya lik Jum.

“Memberi kabar…”

“Kabar? Kabar apa?”

“Sampeyan wartawan? Wartawan dari mana? Punya kartu wartawan?” tanya Giman.

Orang tersebut malah terbahak-bahak mendengar pertanyaan Giman.

“Ini serius Mas. Banyak wartawan sekarang menulis berita seenaknya. Bukan cuma mengabaikan peliputan dua sisi, tak jarang juga hanya mengutip dari media sosial,” sahut lik Cecep.

“Itu masih bagus. Kadang yang ditulis malah cuma berdasar gosip atau pesanan orang,” guman kang Sam, “atau, kalau sampeyan idealis, yang muncul di media sangat mungkin bukan seperti yang sampeyan tuliskan. Karena yang memutuskan di muat atau tidaknya; cara, sudut dan jarak pandang yang dipakai dan lain sebagainya dan lain sebagainya adalah redaktur…”

“Dan redaktur akan selalu tunduk pada pemilik perusahaan…” celetuk lik Jum.

“Sementara pemilik perusahaan akan selalu mengamankan modalnya…” sambung lik Cecep.

Orang tersebut malah tertawa.

“Kok malah tertawa?” tanya lik Cecep.

“Memang ini lucu?” sahut lik Jum.

“Kalian yang lucu…” kata orang tersebut.

“Kok malah kami yang lucu?”

“Bahwa kalian tidak pernah benar-benar sanggup berpuasa.  Mulut kalian terlalu cerewet, tangan kalian terlalu usil…”

“Maksudnya?”

“Sudah lama kalian hapus Allah dari kesadaran…”

“Ini arahnya kemana?” kang Sam tampak penasaran dengan cara bicara tamu tersebut.

“Tidak kemana-mana, ke hidup kalian sendiri…”

“Hidup kami?”

“Ya! Kalian tidak pernah membaca!”

“Membaca apa?”

“Apa saja. Lebih-lebih kitab kalian sendiri.”

“Al Qur’an maksudnya?”

“Ya. Salah satunya. Kalian baca: semua akan diuji. Tak ada iman tanpa ujian”

“Terus, apa hubungannya?”

“Coba baca: Bani Israil dilarang bekerja di hari Sabtu. Allah memberi ujian: tiap Sabtu banyak ikan; selain Sabtu, ikan malah sulit dicari”

“Saya tahu. Kaitannya dengan puasa?”

“Baca sendiri. Di uji sedikit saja, mulut kalian sudah berbusa-busa dan tangan kalian sudah gatal”

“Itu kan aksi reaksi?”

“Ya, artinya kalian tak beda dengan apa yang diungkap Allah tentang bani Israil tadi. Baik kalian berjubah atau bersarung, bersurban atau berkopiah; isinya sama.”

Saya dan kawan-kawan terbengong-bengong.

“Puasa itu sabar, itu kalau kalian benar-benar beriman. Allah tidak pernah lepas dari apapun. Tak pernah abai atau absen dari kejadian mana pun. Ini baca!”

Dia menyorongkan Al Qur’an yang kebetulan ada di dekat tempat duduknya. Surat  Al-Kahfi ayat 65-82 yang dia tunjuk. Saya dan kawan-kawan merubung untuk membaca. Isinya tentang perjalanan Nabi Musa bertemu Nabi Khidr.

Begitu selesai, kami baru sadar bahwa orang tadi sudah menghilang, entah kemana perginya.

About the author

Anis Sholeh Ba'asyin

Budayawan, lahir di Pati, 6 Agustus 1959. Aktif menulis esai dan puisi sejak 1979. Tulisannya tersebar di koran maupun majalah, nasional maupun daerah. Ia aktif menulis tentang masalah-masalah agama, sosial, politik dan budaya. Di awal 1980an, esai-esainya juga banyak di muat di majalah Panji Masyarakat. Pada 1990-an sempat istirahat dari dunia penulisan dan suntuk nyantri pada KH. Abdullah Salam, seorang kiai sepuh di Kajen - Pati. Juga ke KH. Muslim Rifai Imampuro, Klaten. Sebelumnya 1980an mengaji pada KH. Muhammad Zuhri dan Ahmad Zuhri serta habib Achmad bin Abdurrahman Al Idrus, ahli tafsir yang tinggal di Kudus. Mulai 2001 kembali aktif menulis, baik puisi maupun esai sosial-budaya dan agama di berbagai media. Juga menjadi penulis kolom tetap di beberapa media. Sejak 2007 mendirikan dan memimpin Rumah Adab Indonesia Mulia, sebuah lembaga nirlaba yang bergerak di bidang pendidikan non formal, penelitian, advokasi dan pemberdayaan masyarakat. Karya lainnya, bersama kelompok musik Sampak GusUran meluncurkan album orkes puisi “Bersama Kita Gila”, disusul tahun 2001 meluncurkan album “Suluk Duka Cinta”. Sejak 2012, setiap pertengahan bulan memimpin lingkaran dialog agama dan kebudayaan dengan tajuk ”Ngaji NgAllah Suluk Maleman” di kediamannya Pati Jawa Tengah mengundang narasumber tokoh lokal maupun nasional.

Tinggalkan Komentar Anda