Pengalaman Religius

Deddy Mizwar: Mensyukuri Pengetahuan (3)

Written by Asih Arimurti

Melalui film atau sinetron saya mencoba mengajak orang intospeksi. Soalnya, kalau sebuah karya film atau sinetron yang hanya berdasarkan pemikiran-pemikiran manusia belaka, tanpa ada nilai-nilai wahyu dan sunah Nabi di dalamya, saya kira sulit bisa membantu orang mendapatkan kebenaran itu sendiri. Nah itu yang menjadi pegangan saya.

Sejarah yang saya pahami dari ajaran Islam, saya ingin dalam hidup ini selaras antara ilmu yang saya kuasai dan amal yang saya lakukan. Nah, salah satu pengetahuan yang Allah berikan kepada saya, ya dunia film. Saya sadar sepenuhnya bahwa saya mesti harus berbuat di sana. Apalagi jika bukan bagaimana pengetahuan itu bisa bermanfaat. Soalnya pengetahuan itu kan sangat berat. Itulah mengapa jika pengetahuan di tangan orang yang tidak beriman bisa menjadi sifat merusak. Barangkali, modal saya itu iman. Itu yang membuat saya bisa bisa berbuat lebih baik. Itu saja. Sangat sederhana. Tidak ada yang istimewa.

Coba lihat kembali film-film saya yang terdahulu, yang tidak jelas visinya itu. Kadang-kadang sangat vulgar. Itu ‘kan bisa membangkitkan atau merangsang orang ke arah hal-hal yang maksiat. Memang tidak semua film saya begitu. Saya tidak tahu seberapa besar dosa yang saya tanggung. Hanya Allah yang tahu. Saya hanya merasa bahwa saya sudah melakukan kemaksiatan. Hanya itu yang bisa saya akui saat ini. Selanjutnya, jangan sampai deh saya mengulangi kesalahan yang sama saat ini dan waktu-waktu mendatang.

Itulah mengapa saya jarang sekali main di luar fim yang tokohnya tidak seperti Haji Husein dalam serial Lorong Waktu, atau Bang Jek alias Zakaria dalam Para Pencari Tuhan. Saya pikir, film-film saya harus saya buat sendiri saja, sehingga apa yang saya inginkan, yang saya yakini, bisa memberi manfaat kepada orang lain.

Sebuah karya, khususnya di dunia audio visual, ‘kan tidak hanya kita saja yang akan menikmatinya. Apa yang kita hasilkan juga juga mempunyai dampak di masyarakat. Ini yang kadang-kadang dosanya tidak kentara. Kita ‘kan tidak tahu siapa saja yang menonton dan apa pengaruhnya setelah menonton karya kita. Secara sadar atau tidak, melalui sebuah karya kita ‘kan sedang mengajak sebagian masyarakat. Padahal, kalau itu negatif, maka akan berdampak negatif pula. Makanya kita harus mendasari dalam berkarya itu, sejak awal, dengan niat yang baik. Juga, dengan kehati-hatian berdasarkan pengetahuan yang kita miliki.

Saya tidak bisa menilai apakah film-film saya, baik di dalam dunia sinetron maupun film, nilai-nilai negatif itu masih ada atau tidak. Saya tidak bisa menilai sampai sejauh itu, bagaimana dosa yang ditampilkan. Biarlah publik yang menilai. Tetapi bagaimana bos film dan sinetron  yang justru membangkitkan nafsu kebinatangan itu? Saya tidak bisa menilai sinetron yang seperti apa. Itu adalah urusan mereka. Tapi kalau kita hanya berdoa saja tanpa berbuat, itu juga tidak semena-mena namanya. Lebih baik kita melakukan dengan kekuatan yang ada ditangan. Yang penting buat saya, bagaimana caranya saya mencoba membuat yang lebih baik. Karena kemampuan saya saya ada di film, membuat sinetron, media televisi, ya di situlah saya akan  tunjukan karya.

Melalui film atau sinetron saya mencoba mengajak orang intospeksi. Soalnya, kalau sebuah karya film atau sinetron yang hanya berdasarkan pemikiran-pemikiran manusia belaka, tanpa ada nilai-nilai wahyu dan sunah Nabi di dalamya, saya kira sulit bisa membantu orang mendapatkan kebenaran itu sendiri. Nah itu yang menjadi pegangan saya. Wahyu dan sunah Nabi yang menjadi pegangan saya. Jangan sampai kita justru mengabaikan hal itu. Bersambung

About the author

Asih Arimurti

Wartawan Majalah Panji Masyarakat

Tinggalkan Komentar Anda