Berbagi Cerita Corona

Our New Routine, Our New Adventure

Afifah Rahmawati
Written by Afifah Rahmawati

Serial tulisan testimonial di panjimasyarakat.com ini didedikasikan untuk mendokumentasikan dan membagikan pengalaman baik dari berbagai tempat dan latar belakang penulis untuk saling menguatkan dalam menghadapi wabah Virus CORONA COVID-19.
Kami tunggu partisipasi Anda, kirim tulisan via WA 
0895616638283 atau email panjimasyarakat.com@gmail.com
–Pemimpin Redaksi

Sebuah usaha diri seorang ibu bekerja dengan 3 anak balita untuk tetap waras selama #dirumahaja

Sebagai ibu bekerja dengan tiga anak balita, tentu tidak mudah ketika harus beradaptasi dengan kondisi saat ini. Di tengah pandemik Covid-19, harus bekerja dari rumah sembari mendampingi anak-anak belajar dan bermain. Ketika saya menuliskan ini, ternyata sudah tepat 38 hari di rumah saja. Di bulan Ramadan ini, saya ingin berbagi pengalaman bagaimana saya tetap bekerja sembari mendampingi anak-anak di rumah.

Saya dan suami sama-sama bekerja, kerja kantoran yang kebetulan sama-sama di bidang energi. Sejak dicanangkan Work From Home (WFH) per 16 Maret 2020 lalu, praktis saya dan suami bekerja dari rumah. Maraton rapat virtual, menyajikan data dan laporan, tak jarang lembur untuk menyelesaikan pekerjaan.

Bersama ayah, mengasah kreatifitas. (foto: dok pribadi)

Awalnya senang sih di rumah, bisa dekat dengan anak-anak, setidaknya impian saya dulu bekerja di rumah, bisa lihat anak-anak tp tetap digaji bisa kesampaian. Hehehe. Saya ingat betul di tahun 2016, saat kantor membuka kompetisi ide gila saya mengusulkan ide “remote office” yang masuk ke 35 besar terpilih dari ratusan peserta. Meski tidak menang saat itu, tapi saat ini saya merasa ide saya itu bisa diwujudkan, meski dengan kondisi agak dipaksakan.

Tiga anak kami laki-laki semua. Mereka Athar, Arza dan Thariq, ketiganya masih usia balita. Si sulung berusia 5 tahun, sementara adiknya berusia 4 dan 2 tahun. Mereka tentu saja senang, ayah bundanya di rumah. Bisa main sepuasnya seharian, setidaknya begitu bayangan awal mereka. Hari pertama kami di rumah, pertanyaan si sulung muncul, “kok ayah bunda di rumah? Kok aku enggak ke sekolah? Kenapa kita enggak bisa jalan-jalan?”, disusul pertanyaan adiknya, “kenapa kita enggak boleh keluar Bunda? Kenapa Bunda enggak ke kantor?” dan sederet pertanyaan khas anak-anak lainnya. Kami jawab sebisanya, “di luar sedang banyak virus, jadi kita di rumah saja”. Dan setiap hari muncul pertanyaan-pertanyaan baru, “virusnya itu apa? kayak gimana? virus itu sekecil apa? Aku bisa lihat enggak? Emang dia nyeremin? Kapan kita sekolah dan jalan-jalan lagi?” And it become more challenging than anything, manakala menjawab pertanyaan anak-anak tentang hal ini setiap hari dengan jawaban yang mereka bisa pahami.

Walau di rumah saja, berkegiatan terus, asah kreatifitas.

Awal WFH, saya dan suami berusaha merapikan segala hal di rumah. Membuat jadwal, baik jadwal saya dan suami, jadwal anak-anak sekolah di rumah, membuat menu harian selama satu minggu, membuat budget mingguan dan bulanan, berbelanja kebutuhan rumah, sampai menulis daftar toko/penjual online sebagai pengganti pasar tradisional yang tadinya biasa kami kunjungi seminggu sekali. Minggu pertama semua berjalan lancar.

Anak-anak tertib sekolah pagi, saya dan suami bergantian bekerja dan mendampingi anak-anak. Oh iya, masih ada ART (Asisten Rumah Tangga) di rumah yang membantu saya beres-beres dan membantu pekerjaan domestik lainnya, sehingga saya dan suami bisa fokus bekerja dan mendampingi anak-anak. Berharap kondisi indah tersebut berjalan hingga hari ini. Ternyata tidak seindah itu Ferguso…

Mewarnai, salah satu kegiatan favorit

Memasuki minggu kedua, anak-anak mulai bosan rutinitas sekolah yang dibawa ke rumah. Mereka rindu berlarian, memanjat dan bermain tembak-tembakan di lapangan luas. Saya dan suami mulai keteteran karena pekerjaan semakin banyak. WFH terasa lebih melelahkan karena maraton rapat online yang terus ada, sekali rapat bisa bersamaan dua meeting. Handphone dan laptop bersahutan semua online.

Kabel charger di mana-mana. Belum lagi kalau anak-anak mulai bosan lalu terasa mengganggu kami bekerja, yang kalau enggak digubris ruang tengah tiba-tiba seperti jadi ada gempa atau disambar petir. Buku dan mainan berhamburan kemana-mana, bahkan rak mainan dan rak buku bisa berubah jadi meja dan kursi. Padahal kami tahu, sebetulnya mereka juga ingin fokus dengan pekerjaannya. Kan pekerjaan anak-anak itu bermain ya, mereka juga ingin professional bekerja dengan minta partner bermainnya fokus dengan mereka, yaitu orang tuanya.

Acara makan yang kadang kurang mulus.

Belum lagi anak bungsu, tiba-tiba jadi GTM (gerakan tutup mulut), enggak mau makan apapun kecuali minum susu, saya makin stres. Kerjaan numpuk, anak rewel, satu enggak mau makan, rumah berantakan. Sungguh rasanya ingin salto depan rumah sambil karaokean 15 album non stop. 

Harus dicari cara. Tidak bisa seperti ini terus menerus. Saya bisa berubah jadi singa bersurai atau jadi ibu ty-rex. Diawali dengan sadar dulu. Mari sadar dan mengenali apa yang sedang kita rasakan. Capek? Bosan? Marah? Silakan dikenali dan diterima rasanya dulu sambal tarik nafas. Bisa dilakukan sembari olahraga di rumah atau sambal jalan kaki sederhana.  Ini seperti meditasi versi mini menurut saya.

Dengan mengenali dan menerima perasaan kita terlebih dahulu, kita lebih bisa menata hati dan pada akhirnya bisa menyusun strategi selanjutnya. Ini ibarat membetulkan ancang-ancang kita sebelum lari, betulkan dulu tali sepatunya, siapkan dulu bekalnya, baru bisa lari dengan lancar. Apalagi sebagai ibu, center of heart in our home (jantung di dalam rumah kami), perasaan saya bisa memengaruhi satu perasaan seisi rumah. When mom is happy, everyone will happy too

Beres dengan perasaan diri sendiri, mari mulai susun strategi, karena suami sudah ijin bakal wfh lebih padat, mau gak mau saya puter otak. Tema bermain dan belajar dari sekolah anak-anak sudah harus di back up materi lain, karena lembar kerja dari sekolah buat 5 hari, bisa dikerjakan anak-anak sehari aaja, karena memang bundanya kadang-kadang kehabisan ide permainan.

Penting, mengatur jadwal kegiatan setiap harinya

Jadilah tiap malam saya cari materi kegiatan anak-anak besok hari, pagi sebelum anak-anak Bangun, saya harus selesaikan pekerjaan rutin harian. Maksimal pukul 08.00 saya harus selesai kerja pagi. Kalau ada meeting, terpaksa saya mendampingi anak-anak sambal bawa hape dan telinga kiri pasang earphone ikut rapat. 

Hari ini fun cooking (masak Bersama), besok main tempel-tempel, besoknya membuat rumah Dino, besoknya lagi bermain kardus. Harus berganti-ganti cara meskipun satu tema. Kuncinya satu, anak dilibatkan, anak merasa terlibat dalam permainan. Indikator permainan kita berhasil  itu menurut pengamatan saya : pertama anak enjoy, setelahnya anak jadi terasa tidak mengganggu kita bekerja karena sudah penuh perhatian dan cinta di pagi hari nya.

Biasanya sih begitu ya, kalau tidak begitu ya berarti kondisi tidak biasanya, sakit misalnya. Tak lupa memenuhi kebutuhan dasar anak di pagi hari wajib terpenuhi lebih dahulu seperti mandi dan makan harus beres dulu. Hal ini berlaku pula untuk ayah ibunya, posisi perut harus kenyang dulu. Alhamdulillah bertepatan dengan puasa Ramadan, usahakan kita tidak terlewat sahur sehingga sudah siap di pagi hari mendampingi anak-anak sembari bekerja.

Solat, salah satu kegiatan yang wajib diikuti anak-anak.

Para ibu, jangan lupa me time. Beri jeda diri sendiri untuk rileks. Cari me time masing-masing sesuai selera masing-masing. Salat tahajud, mandi agak lama, makan makanan sehat 10 menit bisa jadi me-time. Nonton drama Korea juga boleh. Tidak harus kemana-mana untuk me time. Cukup izin suami sebentar untuk mengurus anak-anak dulu sembari kita me time. Harapannya dengan me time, kita tetap waras dan bahagia.

Semoga rekan sesama ibu-ibu dan ayah-ayah yang WFH sembari membersamai anak-anaknya di luar sana diberi kelancaran dan kebahagiaan. Tetap semangat dan bahagia ya pak, bu. Tetap bersyukur di tengah pandemik Covid-19 ini. Karena tanpa disadari banyak kebiasaan baru terbentuk. Kami jadi punya kebiasaan sholat berjamaah 5 waktu di rumah yang biasanya hanya bisa magrib saja, bersama para ART juga tentu saja , makan Bersama dan melakukan pekerjaan rumah bersama. (*)

About the author

Afifah Rahmawati

Afifah Rahmawati

Seorang Ibu biasa dengan 3 anak balita. Karyawan PT. Pertamina (Persero) tergabung dalam tim Fuel Operation Supply Chain sebagai Officer Sea Supply, mengurus pendistribusian BBM via kapal laut se-Indonesia. Lulusan Ilmu Komputer UGM Yogyakarta. Tinggal di Depok, Jawa Barat. Hobi masak, crafting, berkebun dan tentu saja hobi makan. Bisa diintip di Instagram @afirahma.

Tinggalkan Komentar Anda