Muzakarah

Jangan Sia-siakan Keringanan yang Diberikan Allah

Ditulis oleh Panji Masyarakat

Saudara Dini melahirkan bayi, setahun lalu, lewat operasi caesar. Dokter menyarankan ikut KB, karena hamil sangat riskan buat orang yang baru menjalani operasi. Setidaknya sampai satu setengah tahun. Ternyata suntikan KB cocok untuknya. Tapi, ya itu, sejak disuntik ia tidak pernah mengalami haid, sekarang ia tidak pernah lagi absen salat. Begitupun di bulan Ramadan; untuk yang pertama kali ia bakal berpuasa sebulan penuh. “Sahkah puasa dan salat saya itu?” ia bertanya. Biasanya, sebagai wanita normal yang masih dalam usia haid, seminggu paling tidak dalam sebulan dia kan tidak salat dan berpuasa. Ditanyakannya pula hukum suntik KB yang dapat menghilangkan haid itu, dari sudut syariat.

Saudara Dini pernah mendengar bahwa sekarang ada pil penghilang haid. Kabarnya, sudah ada pula yang mengkonsumsinya pada saat haji atau di di bulan Ramadhan ini agar bisa berpuasa penuh. “Bolehkah itu menurut syariat Islam?”

Jawaban K.H Ali Yafie:  

Haid atau melahirkan, dik Dini, adalah bagian dari kehidupan wanita yang normal. Keduanya juga bagian dari hukum alam yang diciptakan Allah untuk mengatur alam ini, untuk menjamin keseimbangan dan keberlanjutan alam ini, khususnya keturunan manusia.

Haid,  berbeda dengan kepercayaan yang dulu, bukan kutukan Tuhan. Islam melihat haid sebagai sesuatu yang lumrah, bukan petanda kerendahan martabat atau kekotoran wanita. Memang dalam Alquran disebut-Nya haid itu “kotoran” atau “penyakit” (adza), tapi itu dalam kaitannya dengan larangan persetubuhan. Artinya, kalau orang tetap melakukan persetubuhan di saat haid, itu bisa menimbulkan penyakit.

Bagi wanita yang bersangkutan, haid dirasakan sebagai “penyakit”. Banyak wanita, khususnya yang belum punya anak, mengalami rasa sakit  kala haid baru tiba — selama 1-2 hari. Karena aitulah sekarang diproduksi beragam obat untuk menghilangkan rasa sakit ini.

Haid juga masyaqqah, beban. Paling tidak, bila sedang haid, kesibukan Anda jadi bertambah, yaitu bagaimana menjaga agar darah itu tidak menetes keluar. Dengan pembalut misalnya. Beruntunglah wanita sekarang karena sudah diproduksi pembalut praktis. Nah bagaimana dengan wanita zaman dulu?

Secara fikih, haid sebagai musyaqqah bisa dibandingkan dengan penyakit atau perjalanan. Hal-hal itu oleh Islam dijadikan alasan atau uzur diberikannya keringanan (rukhshah). Bahkan kadar ke masyaqqah-an haid masih lebih tinggi dibanding penyakit atau perjalanan. Bukan sekadar boleh, tapi haram hukumnya, juga tidak sah, berpuasa dan salat (juga bertawaf) buat orang sedang haid.

Bagaimana kalau orang yang darah haidnya tidak keluar karena suntikan, seperti Anda? Dalam hal ini, yang harus dilihat dan diperhitungkan adalah kenyataannya karena, ya itu tadi, haid itu uzur. Jadi, kalau kenyataannya anda tidak haid, Anda tetap wajib berpuasa dan salat. Ibadah-ibadah anda juga ini sah dan insya Allah mendapat pahala.

Anda, dik Dini, tidak perlu resah, Agama ini tidak hendak memberatkan apalagi membahayakan umatnya. “La dharra wala dhirara“. Tidak boleh melakukan hal yang membahayakan diri sendiri atau orang lain, “Sabda Rasulullah. Kalau menurut saran dokter, anda barus ber-KB karena hamil setelah operasi caesar berisiko terhadap kesehatan Anda, Anda boleh bersuntik. Perkara kemudian Anda jadi tidak normal lagi, tidak lagi mengalami haid, itu ekses, saya juga cenderung membolehkan (mubah) orang ber-KB sepanjang ada alasan yang bisa dipertanggungjawabkan, meski itu tidak ada dengan hubungan kesehatan.

Namun, orang yang menelan pil dengan bertujuan menghentikan haid supaya bisa berpuasa sebulan penuh, itu lain masalahnya. Sebab, dalam kasus tadi tidak jadi alasan pokok. Itu sama dengan mengubah hukum alam yang ditetapkan Allah. Mengapa memaksakan diri berpuasa sehingga harus mengubah hukum Allah? Padahal, Allah pun sudah merancang ketentuan yang mengimbangi atau menyelesakan kesulitan yang mungkin ditimbulkan dari dari adanya hukum alam tadi, yaitu dengan keringanan (rukhshah) dari kewajiban-kewajiban-Nya. “Allah menghendaki kemudahan pada kalian, dan tidak mengiginkan kesukaran bagi kalian” (Q. 2.185). “Dan allah tidak menjadikan dalam agama ini beban” (Q 22.78).

Menurut saya, menelan pil tadi minimal hukumnya makruh, tidak disukai oleh agama. Yang lebih baik adalah memanfaatkan keringanan (rukhshah) yang diberikan Allah. Itu rasanya lebih santun kepada Tuhan — tidak menyia-nyiakan keringanan yang yang dianugrahkan-Nya — daripada mengubah hukum alam-Nya, lagi pula, bukankah kita masih bisa meng-qadha puasa yang kita tinggalkan? Insya Allah, meski dilaksanakan diluar bulan Ramadhan, pahalanya tidak berkurang. Sebab kita, meninggalkan puasa bukan karena malas atau teledor, tapi karena ada uzur.

Prof. KH Ali Yafie,  Ketua Dewan Penasihat Panji Masyarakat. Pernah menjabat Ketua MUI Pusat (1990-2000), pejabat sementara Rais Aam PBNU (1991-1992), setelah sebelumnya menjabat wakil Rais Aam dari tahun 1989. Sumber: Panji Masyarakat, 26 Januari 1998                 

Tentang Penulis

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda