Pengalaman Religius

Deddy Mizwar: Tanda-tanda Masih Beriman (2)

Seluruh ayat-ayat Allah baik yang tersirat maupun tersurat, itu merupakan tanda-tanda kebesarannya agar kita berpikir. Sebab tidak ada satu pun daun yang jatuh tanpa seizin Allah. Itu cara bagaimana Allah memberikan petunjuk.

Menginjak masa remaja, saya akui saya sering ngelantur ke sana kemari. Padahal dalam hidup ini, setiap hari Allah ‘kan memberikan petunjuk-petunjuk kepada kita. Namun, kita sering cuek, acuh tak acuh. Demikian pula tak terkecuali saya. Untung, saya, saat masa kecil sebagaimana umumnya anak Betawi yang tinggal di Jakarta, dengan segala kekurangannya, sempat belajar agama: ngaji. Mungkin karena ada yang pernah tertanam sejak kecil itu, ada saja kegelisahan ketika saya saat melakukakan kesalahan atau dosa. Ya, itu tanda-tanda kalau saya sebenArnya masih beriman. Tapi toh kesalahan tetap saya lakukan. Tak perlulah saya sabut satu per satu.

Kalau ingat saat-saat mengabaikan petunjuk Allah itu, saya sering merasa malu sendiri. Mungkin karena bekal itu, sehingga saya bisa menemukan jalan kembali, jalan yang benar. Tapi kalau yang benar-benar bertaubat dan berniat menindaklanjuti petunjuk, paling tidak ini menurut ukuran saya, saya lakukan saat saya tidak lagi remaja.

Saya menjadi semakin yakin, akhirnya pondasi dalam pendidikan di setiap keluarga itu memang jatuh kepada pelajaran agama. Waktu yang paling pas adalah pada masa kanak-kanak. Masa-masa dini itu tiap anak manusia sebaiknya dididik  paling tidak agar mereka suatu saat bisa menemukan kesadaran dan petunjuk itu. Misalnya, beritahu dulu kepada mereka tentang siapa Tuhan itu. Itu yang pertama yang harus ditanamkan. Siapa saja bisa memperkenalkannya. Entah itu ayah, ibu, kakek atau nenek. Mereka yang ingin berkerluarga hendaknya tidak melupakan hal penting ini. Tentang siapa Tuhannya, betapa pun mereka sebenarnya sudah mengenali Tuhan di alam ruh.

Terinspirasi Cerita Nabi Hidir

Perjalanan hidup saya bisa tergolong datar-datar saja. Saya belum mengalami sesuatu yang sangat membekas dan menyentuh hati saya. Semua saya jalani dengan biasa-biasa saja. Wajari-wajar saja. Tidak semua manusia ‘kan mengalami hal-hal menakjubkan dalam kehidupan spiritualitasnya. Cara Allah memberi petunjuk itu ‘kan unik, dan bisa macam-macam.

Bukan cuma satu cara. Nah, saya yakin saya termasuk orang yang ‘dilihat’ Tuhan dengan cara biasa-biasa saja. Termasuk dalam hal, mungkin, bagaimana Allah memberi saya petunjuk. Saya ‘kan orang biasa-biasa saja, awam. Jadi, saya juga dikasih petunjuk biasa-biasa saja. Sebaliknya Allah memberikan itu sesuai dengan kadar manusia masing-masing. Berbeda dengan para pendahulu Islam di zaman Nabi s.a.w. yang diuji dengan cobaan lebih dari luar biasa. Apalagi para nabi.

Mungkin lantaran biasa-biasa saja itu, kenapa saya merasa tidak ada satu ayat pun yang istimewa buat saya. Tapi apa yang terjadi, ketika ada ayat yang saya pelajari, begitu saya hayati kembali, eh terasa begitu spesial. Padahal, ayatnya ya itu-itu juga, yang sudah saya baca sebelumnya. Dan semakin digali, semakin spesial lagi. Semakin indah.

Semakin sulit, semakin tidak dimengerti. Kejadian ini saya alami ketika masuk ke cerita Nabi Hidir a.s. Saya nggak habis pikir kenapa dia sampai tega membolongi perahunya. Aku pikir, gila nih. Nah, itu ‘kan sangat sulit mengemukakan kesulitan saya, apa sih maksud dari cerita Nabi Hidir itu. Oh ya akhirnya saya tahu juga, cerita itu memberi hikmah agar kita selalu belajar kepada orang yang lebih tahu, dan kitaa disuruh untuk selalu bersabar untuk itu. Nabi Musa a.s. saja, menurut ayat itu, sempat dikatakan oleh Nabi Hidlir sebagai orang yang tidak sabar, apalagi kita.

Kekuatan karakter Nagabonar pada Deddy Mizwar

Inspirasi Nabi Hilir itu yang membuat saya tidak lancang untuk mengatakan sepele ayat-ayat  Tuhan. Memang, ternyata ayat-ayat Tuhan bukan untuk dimengerti secara mendetail, tapi juga diaplikasikan. Di situ kita baru bisa dimengerti. Jadi bukan hanya di kepala doang. Kalau masih di kepala, itu mah masih berupa ilmu. Dan, kalau kalau tidak dilaksanakan, ilmu yang menjadi perdebatan.

Yang penting setelah kita tahu, tidak lagi perlu memperdebatkan, tapi jalankan saja. Dan bagi mereka yang tidak tahu apa yang telah diajarkan oleh setiap guru, ustadz atau orang bijak lainnya, lakukan saja proses dengan pencernaan pikir, akal, dan nurani. Tetapi kalau setelah itu tetap juga nggak mau mengamalkan, ya kita sulit untuk bisa sampai hakekat. Itulah keajaiban Tuhan. Jadi, betul-betul eksplorasinya hanya pada sebuah nilai kehidupan, ini menyangkut alam pikir kita sendiri. Kalau kita pikir terus, susah, bahkan semakin bingung. Logika kita sendiri nggak bakalan nympe.

Rasulullah memberi contoh agar anjuran-anjuran maupun perintah Tuhan itu dilaksanakan sebagai akhlak. Akhlak Rasulullah itu ya Alquran. Itu hanya bisa dilakukan dengan sebuah keyakinan, keimanan kepada Allah. Tanpa kita reserved. Dan Allah memberikan hakekat kalau kita sudah melakukannya.

Ironi rasanya, kalau kita punya llmu tapi tidak diamalkan, bahkan merusak diri sendiri. Ada juga yang melaksanakannya tanpa ilmu. Sebagai contoh, euforia demokrasi yang menyebabkan penuruna kualitas anggota DPR maupun DPRD. Bagi mereka yang penting bagaimana memenangkan pemilu, bagaimana mendapatkan kursi. Ya, saya tidak tahu siapa mereka yang seperti itu. Allah ‘kan memberikan banyak contoh. Di antara silih bergantinya siang dan malam, terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah. Seluruh ayat-ayat Allah baik yang tersirat maupun tersurat, itu merupakan tanda-tanda kebesarannya agar kita berpikir. Soalnya, tidak ada satu pun daun yang jatuh tanpa seizin Allah. Itu cara bagaimana Allah memberikan petunjuk. Bersambung

About the author

Asih Arimurti

Wartawan Majalah Panji Masyarakat

Tinggalkan Komentar Anda