Ramadan

Buya Hamka tentang Puasa (5): Marx, Freud, dan Al-Ghazali

Written by Panji Masyarakat

Karl Marx, seabad yang lalu, menyatakan bahwa yang menentukan perang dan damai di dunia ini rebutan mencari makan, alias urusan perut. Semua orang ingin kenyang, lalu merebut makanan. Asal mulanya hanya berupa kebutuhan mencari sepiring nasi — sepiring siang, sepiring malam — tetapi dalam masa yang tidak lama berkembang menjadi nafsu yang mengumpulkan harta banyak-banyak, tanpa mempedulikan nasib orang lain — digencet, ditindas, atau dihancurkan.

Setengah abad kemudian, datanglah pula seorang keturunan Yahudi lainnya bernama Sigmund Freud. Ia mengatakan, bukan urusan perut yang menjadi timbulnya pertentangan dan perebutan di dunia ini, melainkan urusan faraj (seks). Kecerdasan orang atau kegoblokannya, sukses atau gagal, soalnya hanya satu: libido, yaitu soal keinginan jantan kepada betina, betina kepada jantan.

Ajaran Freud ini pun sangat besar pengaruhnya di zaman modern. Perempuan sekarang sudah lebih maju, maju ke dalam kehidupan binatang. Nilai dan kesucian kawin tidak ada lagi. Hubungan laki-laki dengan perempuan sudah sangat chaos (kacau) dan mengerikan. “Apa guna kawin?” kata Jean Paul Sarte, seorang Yahudi pula. Kawin dipandang mengikat kebebasan diri saja. Sehingga terjadilah hubungan seks tanpa nikah, persis seperti binatang. Bermunculan pula bacaan dan gambar-gambar pornografi yang dijual di pinggir-pinggir jalan. Bahkan di Eropa, Amerika, dan Jepang tumbuh toko-toko seks, “Sex Shop”, yang menjual segala bersifat porno, dari kaset video, gambar hingga perlengkapan cabul. Semua orang yang berakal budi, filsuf moral, ahli-ahli etika dan sosiologi sependapat bahwa ini bahaya besar bagi perikemanusiaan di zaman depan.

Tetapi 700 tahun sebelum Marx dan 759 tahun  sebelum Freud, muncul ke gelanggang ilmiah seorang pujangga dan filsuf Islam, yaitu Imam Al-Ghazali. Ia telah menyatakan bahwa dua faktor menentukan hidup manusia, yaitu syahwat-syahwat perut dan faraj. Kalau keduanya tidak ada, manusia musnah dari muka bumi ini, punahlah keturunan manusia.

Tetapi, setelah menegaskan perlunya dua syahwat itu, ia mengingatkan bahwa manusia adalah satu-satunya makhluk yang berakal, yang dapat menimbang buruk dan baik. Kalau sekiranya manusia hanya memperturutkan syahwat perutnya, niscaya muncullah perebutan rezeki yang tidak mengenal damai, seperti dikatakan Marx.  Demikian pula kalau sekiranya syahwat faraj tidak terkendali, derajat manusia niscaya akan runtuh menjadi binatang.

Maka diberi Tuhanlah manusia itu akal dan agama. Agama mengatur agar dalam mencari pengisi perut, manusia mengenal halal dan haram, dan dalam memenuhi syahwat faraj manusia menuruti aturan nikah.

Di Sinilah kita memerlukan puasa. Puasa adalah kendali atas syahwat perut dan faraj.  Satu bulan lamanya nafsu makan dan seks dikendalikan. Walaupun beras yang dimasak menjadi nasi adalah hasil pencarianmu yang halal – bukan barang tipuan atau curian – dia tidak boleh engkau makan ketika puasa. Walaupun istri sendiri, telah sah nikah ijab dan kabul, telah bergelanggang di mata banyak orang, namun bila perintah puasa datang, wajib berhubungan intim dihentikan di siang hari. Latihan satu bulan bukanlah perkara kecil. Dia akan sangat berbekas bagi jiwa.

Puasa adalah latihan dan didikan, pembentukan akal dan budi, untuk menaklukan hawa nafsu, untuk berganti ke akal murni yang sesuai dengan agama. Keluar dari latihan itu manusia dapat mengatur dirinya sendiri. Sedang terhadap barang yang halal dia bisa menguasai diri apalagi terhadap yang haram. Inilah arti “la’allakum tattaqun, mudah-mudahan kalian bertakwa” dalam firman Allah:

Wahai orang-orang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa.” (Q. 21:183). Bersambung.

Sumber: Panji Masyarakat, 12 Januari 1998

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda