Cakrawala

Di Balik Pageblug Corona: Hikmah Memakai Masker Penutup Mulut

Pageblug Corona yang kini tengah berkecamuk, membuat orang kreatif membanjiri dunia maya dengan aneka tulisan dan candaan, termasuk kutak-katik kalimat yang dalam bahasa Jawa disebut “gothak gathik gathuk”. Kita ambil saja misalkan sebagian dari dua contoh.

Pertama, “Dulu kalau rajin ke Mesjid namanya orang saleh sekarang ke Mesjid dibilang orang salah (tanda dunia sedang kacau balau); dulu pulang mudik menengok orang tua membawa kebahagiaan, sekarang mudik menengok orang tua dituduh membawa penderitaan.”

Kedua, “Anak-cucuku besuk yen wis ketemu tahun sing kembar bakal ngalami  jamanne : langgar bubar, mesjid korat karit, Kakbah ora ka ambah, begajul podho ucul, manungso sedo tanpo di upokoro …. dan seterusnya”  Artinya: anak-cucuku,

nanti jika menjumpai tahun kembar (2020 seperti sekarang) akan terjadi langgar atau mushola sepi, masjid gak ada jamahnya, Kakbah gak boleh di datangi jamaah, tahanan pada dibebasin manusia meninggal tidak diurus selayaknya jenazah…. dan seterusnya.

Kutak-katik kalimat dengan bercanda kreatif seperti di atas, sebetulnya merupakan awal dari membaca isyarat zaman sambil mencari hikmah. Sedangkan membaca isyarat atau tanda-tanda zaman dari peristiwa alam dan kejadian sehari-hari, adalah juga awal dari membaca ayat-ayat kauniyah.

Islam mengajarkan kita mengenal dua jenis ayat, yakni ayat qauliyah berupa firman-firmanNya sebagaimana tertuang dalam Alqur’an, serta ayat kauniyah dalam bentuk segala ciptaan Allah berupa alam semesta dan semua yang ada di dalamnya. termasuk peristiwa-peristiwa yang menyertainya.

Ayat kauniyah meliputi segala macam ciptaan Allah, baik itu yang kecil (mikrokosmos) ataupun yang besar (makrokosmos). Bahkan diri kita baik secara fisik maupun psikis juga merupakan ayat kauniyah.  Ayat kauniyah adalah ayat-ayat Allah yang tidak terfirmankan dalam tulisan, namun bisa dibuktikan melalui keadaan atau kejadian yang sering disebut dengan fenomena alam. Kauniyah berasal dari kata kaana yang berarti bukti.

“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) kami di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al-Quran adalah benar. Tiadakah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?”  (Fushshilat :53).

Orang yang tekun dan pandai memahami ayat kauniyah, disebut dan digolongkan sebagai ahli hikmah. Sedangkan hikmah itu sendiri adalah pengetahuan yang paling tinggi nilainya, yang menghubungkan manusia pada pemahaman tentang dunia hakikat. Alqur’an banyak menyebut kata hikmah, diantaranya: “Allah memberikan hikmah kepada siapa yang dikehendakiNya, dan barangsiapa yang diberi hikmah, sungguh telah diberikan kebajikan yang banyak….” (Al Baqarah :269).

Para ahli hikmah mengajarkan kita untuk berusaha keras memetik hikmah yang ada di dalam  setiap peristiwa. Menurut Pro.Dr.K.H.Muhibbuddin Waly dalam kajiannya tentang Al Hikam, banyak hikmah di dalam setiap ujian kehidupan, diantaranya yaitu: (1) menambah dan memperkokoh tumpuan serta pengharapan kita kepada Allah; (2) melemahkan nafsu buruk terutama nafsu terhadap pesona dunia yang bisa mengabaikan ridho Allah; (3) menggalang kesabaran dan menumbuhkan ketaatan; (4) menghapus dosa-dosa dan kesalahan.

Hikmah bisa kita peroleh apabila kita memahami setiap kejadian dengan kacamata iman,yakin dan sabar. Jika kita sudah berhasil memperolehnya, meskipun itu ibarat hanya sebesar atom yang menghuni relung hati, maka nilai kebaikannya jauh lebih tinggi dibanding amal ibadah lahir sebesar gunung. Sebab puncak dan pokok dari semua ibadah adalah pada hati. Bila hati sudah terisi hikmah sehingga menjadi baik, otomatis semua amal ibadah akan ikut baik. Tetapi jika tidak, maka belum dapat dipastikan amal ibadah yang kita kerjakan akan baik.

Terkait dengan fenomena alam semesta, semenjak akhir tahun 2019 sampai dengan sekarang, kita telah menyaksikan berbagai kejadian seperti hujan angin, banjir, tanah longsor, letusan gunung berapi yang menerjang seperti tiada henti. Seraya itu pula muncul pandemi, wabah penyakit atau pageblug yang kita kenal sebagai virus Corona 2019, yang melanda dunia termasuk di Indonesia.

Kita bisa berdebat panjanglebar, apakah Corona ini murni fenomena alam ataukah perang biologi antar negara adikuasa. Tetapi bagaimana pun keduanya adalah peristiwa di alam semesta yang melibatkan makhluk-makhluk Allah,  yang tak mungkin berlangsung tanpa sepengetahuanNya.

Dari fenomena alam yang berlangsung dahsyat, baik sebagaimana yang tergambarkan dalam Alqur’an maupun sejarah peradaban manusia sesudah Alqur’an diturunkan, kita bisa mengetahui betapa peristiwa tersebut telah mengubah suatu tatanan dan zaman lama menjadi tatanan dan zaman baru yang jauh berbeda.

Gambaran pengalaman itu jangan dianggap sepele. Corona ini misalkan, adalah makhluk yang sangat-sangat kecil, yang tak nampak mata namun amat ganas, yang bisa menyerang dan memicu kematian bagi siapa saja tanpa pandang bulu, entah orang baik atau jahat, Presiden, Perdana Menteri, para elit kekuasaan, taipan nan kaya raya maupun rakyat kecil yang miskin, tua maupun muda. Hal ini tentu saja membuat  semua kita tanpa kecuali menjadi was-was, lantaran di dunia ini tak ada yang bisa menjamin 100% kita bakal lolos dan ikut menikmati zaman baru pasca Corona. Masya Allah laa quwwata illa billah.

Begitu luar biasa serangan Corona sehingga beberapa negara melaksanakan lockdown atau karantina, sementara  Indonesia memilih PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar). Dalam suasana yang seperti itu, masyarakat dikenai berbagai larangan ketat, antara lain jika keluar rumah diwajibkan menutup mulut dan hidung dengan masker; melakukan karantina mandiri di rumah, anak-anak sekolah mengikuti pelajaran secara online dari rumah, demikian pula orang dewasa melalukan pekerjaan dari rumah. Sementara itu ibadah berjamaah di tempat ibadah seperti masjid, gereja, pura dan lain-lain dilarang. Masing-masing kita dianjurkan untuk melakukan ibadah di rumah.

About the author

B.Wiwoho

Wartawan, praktisi komunikasi dan aktivis LSM. Pemimpin Umum Majalah Panji Masyarakat (1996 – 2001, 2019 - sekarang), penulis 40 judul buku, baik sendiri maupun bersama teman. Beberapa bukunya antara lain; Bertasawuf di Zaman Edan, Mutiara Hikmah Puasa, Rumah Bagi Muslim-Indonesia dan Keturunan Tionghoa, Islam Mencintai Nusantara: Jalan Dakwah Sunan Kalijaga, Operasi Woyla, Jenderal Yoga: Loyalis di Balik Layar, Mengapa Kita Harus Kembali ke UUD 1945 serta Pancasila Jatidiri Bangsa.

Tinggalkan Komentar Anda