Berbagi Cerita Corona

Jadi Marie Kondo, Merawat Kenangan di Masa PSBB

Written by Nufus Zahra

Serial tulisan testimonial di panjimasyarakat.com ini didedikasikan untuk mendokumentasikan dan membagikan pengalaman baik dari berbagai tempat dan latar belakang penulis untuk saling menguatkan dalam menghadapi wabah Virus CORONA COVID-19.
Kami tunggu partisipasi Anda, kirim tulisan via WA 
0895616638283 atau email panjimasyarakat.com@gmail.com
–Pemimpin Redaksi

TANAH DATAR, SUMBAR – Ibu saya mengirimkan foto situasi di rumah dengan berbagai peralatan dapur dari jaman bahari. Kata Ibu, karena Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), tidak ada yang bisa dilakukan kecuali bersih-bersih rumah. Tidak bisa pergi mengajar, atau jalan-jalan cari makanan ke luar seperti yang biasa dilakukannya berdua bersama Bapak.

Ibu tinggal di kampung halamannya, di Sungai Jambu, sebuah nagari di Kecamatan Pariangan, Kabupaten Tanah Datar, Sumatra Barat. Nagari Sungai Jambu berhawa sejuk, karena berada di lereng Gunung Marapi. Secara geografis, Sungai Jambu dialiri tiga batang sungai.

Dalam Tambo (sejarah) Minangkabau, Tanah Datar ini termasuk nagari tertua di Minangkabau, selain nagari Pariangan. Dengan bukti-bukti sejarah yang ada di kanagarian Sungai Jambu, seperti Sawah Gadang Satampang Banieh, Galundi Baselo, Batu Sajamba Makan, Bukit Siguntang, dan nagari lainnya.

Jumlah penduduk lebih kurang 3.273 jiwa. Sebagian besar mata pencarian penduduk adalah petani. Tapi Tanah Datar sekarang sudah mulai sepi. Karena hampir 60% penduduknya pergi merantau ke berbagai pelosok di tanah air. Terbanyak mereka merantau dan menetap di Kota Bumi (Lampung), Jambi, Pekan Baru, dan Jakarta. Termasuk saya, yang sekarang tinggal menetap bersama keluarga kecil saya di Jakarta.

Foto yang dikirim Ibu dengan berbagai peralatan rumah tangga bahari.

Di masa PSBB ini, Ibu seketika jadi Marie Kondo, perempuan Jepang yang terkenal lewat bukunya The Life Changing Magic of Tidying Up. Metodenya dikenal dengan KonMari. Menurut filosofi KonMari, banyaknya barang-barang yang berantakan dan tidak terpakai di rumah, bisa menyebabkan stres. Sebaliknya, rumah yang rapi dan bebas dari tumpukan barang, akan mendatangkan rasa bahagia dan hidup yang bermakna. Sejak kemunculan serial TV Tidying Up With Marie Kondo, ia menjadi sumber inspirasi bagi wanita dalam soal beres-beres rumah.

Ibu ku kira-kira ya begitu. Seperti Marie Kondo, decluttering, yang sebenarnya bukan hal baru bagi Ibu. Dua tahun lalu Ibu sudah memulai bebenah skala besar, dengan membongkar satu lemari penuh kenangan bagi keluarga besar kami.  Membuang buku-buku jadul Atuk yang katanya sudah hancur dimakan rayap.

Ibuku itu ibu-ibu jaman dulu yang hemat banget sama barang. Jadi ya ditumpuk-tumpuk gitu. Alhamdulillah sekarang sudah insaf. Hahaa.. Karena nggak ada lagi anak gadis di rumah. Jadi nggak ada bala bantuan untuk merawat rumah. Sehingga banyak laba-laba, kecoa, semut, tikus. Makanya aku selalu minta ibu untuk merelakan barang-barang lama di buang.

Foto kenangan, Atuk dan nenek.

Sebelumnya, kata Ibu, barang-barang lama itu sayang banget kalau dibuang. Karena banyak kenangan. Barang-barang masa kecil saya dan adik. Barang-barang tua peninggalan nenek kami yang telah berpulang, dua tahun lalu.

Decluttering yang paling menyedihkan kali ini menurut Ibu saya adalah, membuang satu lemari besar tempat buku-buku jadul Atuk (kakek). Karena katanya buku-buku itu sudah hancur oleh rayap. Ada majalah Intisari edisi 70-90an, majalah2 kesukaan saya; Selecta, Majalah Tempo, Forum, Gatra, Sabili, Variasari hingga Majalah Panji Masyarakat.

Ada juga diktat-diktat kuliah hukum dan sastra milik Paman dan Bibi saya. Novel-novel lawas Motinggo Busye, NH Dini, AA Navis dan buku-buku yang saya beli sendiri di kedai emperan buku bekas di Pasar Simabur. Salah satunya series Rudi dan Drakula yang waktu itu saya dapat best buy Rp12.000 untuk empat buku. Ketika saya masih di rumah di kampung, saya yang sering piket bersih-bersih raknya, memperbaiki sampul-sampulnya, mengelap debu dan butiran kotoran rayapnya.

Masa kecil di kampung halaman.

Wasiat Atuk, kalau beliau nggak ada (maksudnya, kalau lagi pergi), jangan tarik buku dari tengah. Kalau suka yang di tengah, angkat dulu, baru diambil, rapikan pinggir sejajar ujungnya. Tolong disapu debunya. Saya lakukan demi bakti pada kakek.

Setelah saya agak besar, saya jadi keterusan dan kasihan kalau buku-buku itu terlantar. Makanya saya sedih saat tahu rak buku sudah kosong melompong, karena isinya habis dihibahkan Ibu ke tukang kiloan.
“Tenang, beberapa buku Ibu simpankan untuk kamu,” kata ibu. Buku-buku itu saya bawa ke Jakarta, salah satunya buku Revolusi Iran, karya Nasir Tamara cetakan pertama.

Bersama keluarga besar di rumah Ibu

Perkara bersih membersih, ada yang suka, ada yang benci. Di Amerika sampai ada acara televisinya, berjudul ‘The Hoarder’ alias si penumpuk barang. Istilah itu semakin popular, apalagi sejak gaya hidup minimalis kian diminati. Ibu saya kemarin-kemarin juga begitu, menyimpan barang-barang lama, menghemat plastik kresek dari swalayan dan pasar, sampai menggunung dan makan tempat. Sebenarnya tidak salah, asal nggak berantakan dan jadi sarang hewan-hewan yang tidak bertanggungjawab.

Hidup cermat adalah pesan moral dari cerita ini. Apalagi di masa PSBB. Cermat merawat barang kepunyaan, cermat mengkonsumsi dan cermat memakainya. Memperpanjang hidup barang, menjaga kantong sendiri dan lingkungan, menjaga kenangan dari orang-orang yang sudah pergi duluan. Kangen rumah deh jadinya. Ihik! (*)

About the author

Nufus Zahra

Pernah menjadi presenter berita di stasiun televisi swasta nasional. Kini jadi full time Ibu Rumah Tangga, economy enthusiast dan pecinta beres beres rumah.

Tinggalkan Komentar Anda