Ramadan

Buya Hamka tentang Puasa (4): Silakan Pilih

Written by Panji Masyarakat

Dalam satu hadis Aisyah r.a. berkata, “Tidklah Nabi s.a.w. menambah baik di bulan Ramadhan tau di bluln lainnya lebih dar 11 rakaat.” (riwayat bukharidan Muslim). Hadis riwayat Ibnu Hibban yang mengutip kata-kata sahabat Jabir yang memperkuat ini. Katanya, bilangan salat di bulan Ramadan delapan rakaat, ditambah witir ( bisa tiga rakaat).

Imam Malik dalam kitab Al-Muaththa’ mengutip hadis dari Yazid ibn Rumman yang mengatakan, salat tarawih dengan witirnya di zaman Umar ibn Khattab 23 rakaat. Ada pula hadis-hadis lain yang menjelaskan bilangannya 21, 24, 36, 41 atau 49 rakaat. Pertanyaannya: apakah semua itu bid’ah? Pada pendapat saya, tidak? Tumbunya amalan seudah Nabi sampai lebih dari yang dikerjakan beliau karena latihan ibadat semata-mata. Saya tidaklah temasuk orang yang menuduh Saidinia Umar, Saidina Ali, Ubai ibn Ka’ab, Tamin Ad-Dari (yang diangkat Umar menjadi imam)dan Imam Syafi’i telah membuat bid’ah karena tarawih witir mereka 21 atau 23 rakaat. Demikian pula Imam Malik,yang menurut Al-Baghawiy dalam kitab Syahru Sunnah, mempertahankan amalan tarawih-witir ahli Madinah yang 41 rakaat. Demikian juga dengan Umar ibn Aziz, sebagaimana yang disebut Imam As-Syakani di dalam Nailul Authar.

Dilihat dari sisi ijtihad, alasan menambah cukup kuat. Itulah firman Allah dalam surah Al-Muzammil: “Bangunlah (untuk salat) di malamhari ekcuali lebih sedikit (daripadanya)”. Pendeknya, jika pada waktu malam, terutama di 10  hari bulan Ramadan, banyakkanlah salat daripada tidur. Aisyah sendiri dalam riwyatnya Nabi SAW salat malam terus-menerua, hatta tawarramat qadamaahu, sampai kedua belah kakinya bengkak.

Ibnu Taimiyah dalam Fatwa menulis: “Salat di bulan Ramadan itu tidaklah ditentukan Nabi s.a.w. dengan bilangan tertentu. Salat beliau di bulan Ramadan pernah pula hanya 13 rakaat tapi panjang-panjang rakaatnya. Kemudian setelah Umar ibn Khattab menyuruh orang-orang berjamaah dengan Ubai ibn Ka’b sebagai imamnya, ia salat 20 rakaat tambah witir tiga rakaat. Bila rakaat dia tambah maka dipendekkan bacaan. Sebab dengan begitu salat jadi lebih ringan.

Ada pula segolongan ulama salaf salat 40 rakaat ditambah witir 3 rakaat. Yang lain 36 tambah witir 3 rakaat. Semuanya ini boleh, semuanya baik, silakan saja pilih. Yang afdol ialah memperhatikan keadaan orang-orang yang salat. Bagi yang sanggup berdiri lama, salatlah menurut Nabi s.a.w. yaitu delapan atau 10 rakaat tambah 3 rakaat witir. Yang tidak tahan berdiri lama, maka dengan 20 rakaat tarawih tambah tiga rakaat witir baik juga.

Kita salin dengan lengkap pendapat Ibnu Taimiyah untuk dijadikan perbandingan bagi orang-orang yang suka mencap bid’ah esgala maca salat trawih yang yang dilkukan ulama-ulama salaf yang menjadi panutan itu. Dan dengan tegas kita nyatakan, tidak ada yang bid’ah asal dikerjakan dengan betul.

Oleh sebab itu marilah kita hidupkan salat tarawih sebagai suau Syiar Islamtidak adayang salah atau menyalahkan. Pakailah yang 11 dengan witir atau yang 21 dengan witir. Cuman yan tidak layak adalah salat taraweh yang tergesa-gesa, terburu-buru sehingga rakaat, sujudnya, Fatihah dan ayat-ayatnya dibaca segera ekspres layaknya. Dipilih yang banyak rakaatnya tetapi dikerjakan terburu-buru, berpacu cepat sehingga tidak terasasalatnya. Bersambung

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda