Pengalaman Religius

Deddy Mizwar: Semakin Jauh Digali, Ayat-ayat Tuhan Semakin Spesial

Bagian 1: Memasuki Kesadaran Baru

Dalam beragama, saya mungkin masih mencontoh orang kebanyakan. Tapi bahwa saya kemudian melakukan perubahan diri, baik pandanagan maupun perilaku, itu lebih karena setiap orang akan selalu menginginkan pandangan hidup yang filosofis. Sudah memiliki pandangan tertentu, tetapi setelah itu orang akan berfikir lagi jangan-jangan ada yang lebih benar. Begitu kira-kira. Setiap orang β€˜kan, memang selalu ingin mencari kebenaran. Dan itu memang sehat-sehat saja. Itu yang saya lakukan.

Jadi, kalau ada orang melihat saya kini sudah berubah, misalnya menjadi lebih dekat dengan agama, ya bagi saya itu biasa-biasa saja. Sesuai dengan perjalanan waktu, alhamdulillah, saya memiliki satu bentuk kesadaran untuk mencari kebenaran itu. Misalnya mencari tuhan yang sesungguhnya.

Tuhan kan tempat bergantung. Dari waktu yang saya lalui sampai saat ini, akhirnya saya bisa merasakan bahwa ternyata popularitas yang saya dapatkan selama ini bukanlah tuhan. Harta yang saya dapatkan juga bukan tuhan yang sesungguhnya. Bahkan ilmu sendiri bukan tuhan. Semua itu saya rasakan hanya sebagai sarana mencari tuhan yang sesungguhnya, hinggsa sampai kepada sumber kebenaran, atau cahaya dari segala cahaya, sumber kebenaran ytang sejati. Kan begitu.

Nah, sebab kenapa? Dari perjalanan hidup di masa lalu yang begitu banyak dosa, selama menjalani profesi sebagai actor yang tengah mencari nafkah, saya sekarang tidak hanya ingin selesai dengan memohon ampun. Dulu saya mengejar berbagai ambisi lalu sekarang giliran bertaubat. Tetapi lebih jauh dari itu, saat ini saya ingin berupaya seserius mungkin untuk melakukan yang lebih baik dalam menjalani profesi saya di dunia film dan sinetron, yakni sebagai ibadah. Saya tidak ingin lari dari profesi yang selama ini membesarkan saya dan memberi saya harta yang lebih.

Sejak kesadaran itu muncul dalam diri saya, dorongan untuk untuk mewarnai bobot sebuah film atau sinetron – di mana saya ikut terlibat – semakin kuat, agar selain bermanfaat untuk diri saya, bisa juga mengingatkan banyak orang. Tontonan itu kan dampaknya besar terhadap masyarakat. Saya berfikir, seyogyanya insan film atau sinetron harus bisa membuat semua orang tercerahkan, selain mendatangkan ketenteraman, daan bukan kegelisahan yang membawa kemksiaatan. Sederhana sekali. Harus saya akui, ini sebuah kesadaran baru setelah memakan waktu sekian lama. Saya bersyukur, ahamdulilah, saya masih Panjang umur sehingga ada kesempatan berbuat lebih baik. (Bersambung)

Sumber: Panjimas, 5 Februari 2003.      

About the author

Asih Arimurti

Wartawan Majalah Panji Masyarakat

Tinggalkan Komentar Anda