Tasawuf

Bangsa Paling Toleran

“Saat mengalami apa yang disebut krisis moneter di tahun 1998, kehidupan sosial-ekonomi kita relatif terselamatkan justru oleh sektor informal, oleh para pelaku ekonomi kecil dan menengah. Ibarat rumput, mereka tetap mampu hidup di tengah badai yang menumbangkan pohon-pohon besar,” ujar pak Amal.

“Mereka inilah yang membuat kehidupan ekonomi rakyat tidak pingsan. Rakyat banyak masih bisa bernafas, meski dengan agak sedikit sesak juga. Sementara krisis akibat wabah corona virus ini rasanya tidak hanya menghantam pohon-pohon besar yang terkait langsung dengan jaringan perdagangan global, tapi juga menyengat ekonomi rakyat!”

“Itulah yang disesalkan banyak orang. Tanggapan kita dianggap amat sangat terlambat. Kalau sejak awal kita cekatan menutup pintu dari dunia luar, terutama dari wilayah yang dianggap sumber wabah, mungkin masalahnya tidak serumit sekarang. Mungkin tindakan tersebut akan dianggap cukup mengganggu pohon-pohon besar; tapi di sisi lain, itu akan relatif menyelamatkan kehidupan ekonomi di tingkat rakyat. Aktivitas ekonomi mereka masih bisa berlangsung, karena ancaman Covid-19 sejak awal sudah dicegat masuk!”

“Vietnam adalah salah satu contoh. Pada 1 Februari, pemerintahnya langsung menangguhkan semua penerbangan dari dan ke China. Bersamaan dengan kebijakan tersebut, mereka juga melakukan langkah-langkah pencegahan lainnya di dalam negeri. Puluhan ribu warga yang pulang kampung dari luar negeri, langsung dikarantina. Dengan keputusan yang cepat ini, ekonomi rakyat tidak terlalu terdampak. Sebagian besar mereka masih bisa beraktivitas, meski dengan pembatasan tertentu. Persoalan yang dihadapi pemerintah tinggal: bagaimana mengurus korban PHK dari pohon-pohon besar yang terguncang. Ingat, Vietnam masih masuk negara miskin dengan fasilitas kesehatan yang juga dianggap buruk; tapi langkah cepat yang mereka ambil membuat negara berpenduduk 97 juta orang tersebut sampai hari ini, 24 April, hanya mencatat 268 kasus Covid-19 tanpa seorang pun meninggal,” sambung pak Amal.

“Begitu juga Taiwan. Sejak awal, belajar dari pengalamannya menghadapi wabah SARS tahun 2002, mereka langsung mengambil langkah-langkah pencegahan. Menutup pintu masuk, memeriksa dengan ketat pendatang mau pun penduduk yang pulang dari luar negeri, memperingatkan kelompok penduduk yang rawan terpapar, membagi dan mewajibkan pemakaian masker bagi seluruh penduduknya. Beberapa negara lain juga melakukan pengetatan serupa. Dengan cara ini, ancaman kesehatan yang disebabkan Covid-19 tidak langsung menyebabkan keambrukan ekonomi rakyat mereka.”

“Ini beda dengan, mengambil salah satu contoh ekstrimnya, Amerika Serikat misalnya. Di awal mereka sangat abai terhadap ancaman wabah corona virus ini. Saat dihadapkan pada dilema, tampaknya Donald Trump dan pemerintahnya yang bingung, lebih memilih mendahulukan penyelamatan ekonomi ketimbang kesehatan. Dia meminta wilayah-wilayah yang melakukan lockdown, untuk membuka diri. Di samping itu, dia juga mengabaikan protokol kesehatan di tengah wabah dengan memprovokasi masyarakat agar beraktivitas seperti biasa kembali. Akibatnya masyarakat terbelah dan cenderung saling berhadapan, antara yang mendukung dan yang menentangnya!”

“Tentu saja kita tak bisa memutar waktu, atau menyesali yang sudah terjadi. Yang jelas, kecuali butuh sehat, manusia juga butuh pangan. Dan pangan, kecuali mengandalkan sistem barter yang akan sangat terbatas jangkauannya, pasti butuh perputaran ekonomi juga. Masalahnya: bagaimana merumuskan pola interaksi yang aman dan paling kecil resikonya di saat pandemi seperti sekarang, tentu selain penggunaan masker dan social atau physical distancing. Terkait cara berpakaian yang aman misalnya. Ini tantangan yang harus juga dijawab oleh para epidemiolog dan kalangan medis.”

“Hanya menyuruh orang kerja di rumah, tidak akan efektif bagi mereka yang mengandalkan pemasukannya dari sektor informal, baik secara harian atau mingguan. Kelompok inilah yang paling besar jumlahnya, dan paling awal terkena dampak ekonomi dari wabah corona virus. Bila tidak segera dipikirkan jalan keluarnya, tekanan ekonomi terhadap kelompok paling rentan ini bisa menghasilkan dampak berantai yang luar biasa. Apalagi bila situasinya berkepanjangan, sudah pasti kerentanan juga akan segera dialami oleh kelompok menengah bawah yang saat ini mungkin masih punya persediaan untuk 1, 2 atau 3 bulan ke depan!” tegas pak Amal.

“Nanti dulu! Ini terlalu pesimis. Bukankah selama ini dengan sangat meyakinkan kita bolak-balik menyatakan diri sebagai bangsa paling toleran di dunia?” sahut lik Cecep dengan wajah kecut.

“Maksudnya?”

“Kan tidak enak hati rasanya, bila seluruh dunia pusing kepalanya diserbu Covid-19; sementara rakyat kita malah tenang-tenang saja, leha-leha seperti tak ada apa pun yang terjadi…” sambung lik Cecep sambil tersenyum-senyum kecil.

“Kemana arahnya ini?” sergah lik Jum tidak sabar.

“Sebagai bangsa yang sangat toleran, sangat tidak bijak rasanya jika kita tidak ikut serta merasakan beban penderitaan dunia. Beban amanat penderitaan dunia karena corona virus harus juga ikut kita tanggung tho! Jadi, jangan salahkan pemerintah, jangan juga sebut pemerintah mengulur waktu apalagi terlambat menangani. Itu salah. Keliru besar. Karena semuanya adalah strategi yang terukur, cermat dan amat sangat diperhitungkan untuk menerapkan filosofi paling mendasar dari toleransi; yaitu agar kita sebagai warga dunia bisa ikut aktif berpartisipasi merasakan penderitaan ummat manusia.”

“Justru negara-negara seperti Vietnam, Laos, Kamboja, Taiwan, Korea Selatan dan banyak negera yang buru-buru menutup pintu dan melakukan tindakan-tindakan pencegahan itulah sebenarnya yang layak dikategorikan sebagai negara-negara egois. Mereka sama sekali tak memiliki semangat toleransi, apalagi semangat menanggung derita bersama sebagai warga dunia…” jelas lik Cecep.

“Benar. Sungguh-sungguh benar. Kita harus bangga sebagai bangsa dan sebagai warga dunia yang bertanggung-jawab. Apalagi saat ini kita mulai memasuki bulan Ramadhan, bulan dimana manusia diajari untuk ikut aktif menanggung beban derita dunia…” sahut Giman dengan serius.

Kami saling berpandangan. Tak tahu apa lagi yang bisa diucapkan. Singkong rebus yang menemani perbincangan kami, tiba-tiba terasa pahit di lidah. (*)

About the author

Anis Sholeh Ba'asyin

Anis Sholeh Ba'asyin

Budayawan, lahir di Pati, 6 Agustus 1959. Aktif menulis esai dan puisi sejak 1979. Tulisannya tersebar di koran maupun majalah, nasional maupun daerah. Ia aktif menulis tentang masalah-masalah agama, sosial, politik dan budaya. Di awal 1980an, esai-esainya juga banyak di muat di majalah Panji Masyarakat. Pada 1990-an sempat istirahat dari dunia penulisan dan suntuk nyantri pada KH. Abdullah Salam, seorang kiai sepuh di Kajen - Pati. Juga ke KH. Muslim Rifai Imampuro, Klaten. Sebelumnya 1980an mengaji pada KH. Muhammad Zuhri dan Ahmad Zuhri serta habib Achmad bin Abdurrahman Al Idrus, ahli tafsir yang tinggal di Kudus. Mulai 2001 kembali aktif menulis, baik puisi maupun esai sosial-budaya dan agama di berbagai media. Juga menjadi penulis kolom tetap di beberapa media. Sejak 2007 mendirikan dan memimpin Rumah Adab Indonesia Mulia, sebuah lembaga nirlaba yang bergerak di bidang pendidikan non formal, penelitian, advokasi dan pemberdayaan masyarakat. Karya lainnya, bersama kelompok musik Sampak GusUran meluncurkan album orkes puisi “Bersama Kita Gila”, disusul tahun 2001 meluncurkan album “Suluk Duka Cinta”. Sejak 2012, setiap pertengahan bulan memimpin lingkaran dialog agama dan kebudayaan dengan tajuk ”Ngaji NgAllah Suluk Maleman” di kediamannya Pati Jawa Tengah mengundang narasumber tokoh lokal maupun nasional.

Tinggalkan Komentar Anda

Inspirasi Hari Ini

Foto

  • hamka
  • 23-april-19972-1024x566
  • Ali-Yafi1-1024x768
  • KH-Ali-Yafie-804x1024
  • Hamka
  • tabloid-panjimasyarakat