Muzakarah

Khasiat Al Quran

Ditulis oleh Panji Masyarakat

Dulu saya bisa berpikir, Alquran itu jangan cuma dibaca apalagi dilantunkan, seperti yang dilakukan para qari dan qari’ah. Apa guna membaca kalau tidak dipaham artinya. Alquran kan harus dipelajari dan dihayati artinya. Namun, akhir-akhir ini, ketika saya pulang kampung, saya mendapatkan ketenangan kalau menyimak orang membaca Quran. Menurut orang-orang kampung saya, surah Yasin, juga surah-surah lainnya seperti Al-Waqi’ah, mempunyai beberapa faidah. Betulkah demikian ustadz?

Fitri Andriyani (Anyer, Serang, Banten

Jawaban:

KH Ali Musthofa Yaqub

Di kalangan kaum modernis memang ada kecenderungan untuk “mengecilkan” arti pembacaan Alquran. Sementara di di kampung-kampung dan kota-kota kecil masih berkembang ajaran atau keyakinan bahwa surah-surah atau ayat-ayat tertentu memiliki khasiat dan keistimewaan. Tapi, betulkah itu?

Imam Jalaludin As-Suyuthi, seorang ulama sangat produktif yang hidup pada abad ke-10 H, menulis dalam bukunya, Tadribur Rawi,   bahwa sebagian besar hadis mengenai fadhilah (khasiat) bacaan Alquran itu palsu. Nuh ibn Abi Maryam, seorang ulama Irak abad ke-2 H yang sebenarnya cukup salih, disebut mengaku telah membuat 20.000 hadis palsu, sebagian besar mengenai fadhilah bacaan Alquran. Ketika ditanya mengapa berbuat begitu, ia menjawab, “Karena sekarang banyak orang yang tidak mau belajar Alquran.”

Meski begitu, kata As-Suyuthi, tidak semua hadis sejenis palsu. Ada pula yang sahih dan hasan, termasuk hadis-hadis tentang khasiat surah-surah Al-Fatihah dan Yasin, Al-Waqi’ah dan semacamnya. Meski ada pula hadis-hadis mengenai surah-surah tersebut yang palsu. Misalnya, seperti disebut Al-Harawi dalam bukunya Al-Mashnu’ fi Ma’rifatil Hadistil Maudhu’, hadis-hadis “AlFatihatu limaa quria lahu” (Surah Al-Fatihah itu bisa dipakai untuk tujuan apa saja, tergentung niat pembacanya) dan “Yaasin lima quria lahu” (Surah Yasin apa kata niatnya).

Dik Fitri, janganlah banyaknya hadis palsu mengenai bacaan Alquran dijadikan sandaran untuk “mengecilkan” arti pembacaan Alquran. (Meski tentu saja, mendalami dan menghayati isinya jauh lebih jauh lebih penting). Karena ada perintah untuk itu dalam Alquran. “Maka bacalah apa yang mudah dari Alquran” (Q.73:20).

Mungkin Anda katakan: yang dimaksud di situ bisa mempelajari dan menghayati isinya. Baiklah. Tapi, pada ayat lain ada perintah yang lebih tegas, “Dan bacalah Quran dengan tartil.” Tartil berarti: membaca pelan-pelan dan dengan jelas hurufnya. Hal ini dipertegas lagi dalam hadis: “Barangsiapa membaca satu huruf dari Alquran, maka ia mendapat satu  kebaikan, dan satu kebaikan itu (diganjar) dengan sepuluh kali lipat. Saya tidak mengatakan, alif-lam-mim itu satu huruf tapi, alif itu satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf pula” (riwayat At-Tirmizi). Berdasarkan dalil-dalil itu, para ulama sepakat, membaca Alquran terhitung ibadah.

Dik Fitri, para ulam juga sepakat, boleh berwasilah (tawassul) dengan amal saleh. Dalam satu hadis riwayat Al-Bukhari, Rasulullah s.a.w. bercerita tentang tiga orang yang terjebak dalam satu gua. Setelah mereka berdoa sambil menyebut kebaikan yang pernah mereka lakukan, ajaib, batu itu bergeser dengen izin Allah. Karena membaca Alquran tergolong amal saleh, maka boleh pula kita memakainya sebagai wasilah (perantara) untuk doa kita.

Di samping itu, seperti saya sebut tadi, ada hadis-hadis sahih yang menyebut secara khusus keistimewaan surah-surah atau ayat-ayat tertentu. Aisyah seperti termaktub dalam Shahihul Bukhari, bertutur, jika Nabi merasa sakit, beliau membacakan Surah Al-Falaq dan An-Nas pada bagian tubuh yang sakit. Dan jika sakit beliau sudah demikian parah, Aisyah yang membaca lalu mengusapkan tangan beliau ke bagian yang sakit. Mengenai Surah Al-Ikhlas (Qul Huallahu Ahad), beliau bersabda, “Demi zat yang jiwaku ada di tangan-Nya, dia (Al-Ikhlas) sebanding dengan sepertiga Alquran” (riwayat Al-Bukhari). Begitu pun dengan ayat kursi, dua ayat terakhir Surah Al-Baqarah, Al-Fatihah, dan lain-lain; ada hadis-hadis sahih yang menyatakan tentang keistimewaannya.***


*Prof. Dr. KH Ali Musthofa Yaqub (1952-2016), pengasuh Ma’had Pondok Pesntren Luhur Ilmu Hadis Darus Sunnah, Jakarta. Guru besar Ilmu Hadis Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) ini pernah menjadi Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta, dan anggota Komisi Fatwa MUI Pusat.  Sumber: Majalah Panji Masyarakat, 20 Agustus 1998

Tentang Penulis

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda