Cakrawala

Covid-19 Instrumen di Tangan Penguasa : Tersembunyi tapi Terlihat

Written by Panji Masyarakat

Pemusnahan orang tua dapat dikaitkan dengan rencana untuk mengakhiri transmisi antargenerasi dari sistem nilai tradisional, untuk memaksakan kerangka ideologis yang diinginkan pada generasi muda, dengan penekanan pada kepatuhan kolektif dan kepatuhan tanpa syarat terhadap hukum yang diberlakukan tanpa pengawasan kritis.

Sudah jelas sekarang. Pertandingan yang besar dipertaruhkan. Yang terbesar dalam sejarah manusia. Pengambilalihan otoritas total. The Invisible Ruler – COVID-19, sebenarnya adalah instrumen di tangan penguasa yang terlihat tapi tersembunyi. Deus absconditus – Dewa Tersembunyi – saat ini adalah kekuasan politik. Daripada konsep negara terdiri dari komunitas masyarakat sebagai individu yang bebas, alih pada konsep negara totaliter yang muncul di panggung.

Periode kemajuan kebebasan manusia sebagai individu telah berakhir.

Gagasan bermasyarakat-bernegara di mana perilaku masing-masing individu akan dikendalikan secara total dari satu pusat dan sesuai dengan insruksinnya, telah terobsesi selama ribuan tahun dalam imajinasi banyak filsuf dan penulis terkemuka. Proyek, yang sedang beroperasi, secara teoritis dikonsep pada 1948-1974, dan realisasinya kini memasuki fase kritis.

Pertama kali diumumkan dengan buku oleh B. F. Skinner: Walden Two (1948), dan dijelaskan secara rinci oleh buku dengan judul yang tidak menyenangkan: Beyond Freedom and Dignity (1971) oleh penulis yang sama. Walden Two (Walden Dua) adalah tandingan polemik untuk buku Walden oleh Henry David Toro (1854), di mana penulis menegaskan konsep “Pembangkangan Sipil” (“Civil disobedience“) sebagai hak demokratis dan kunci untuk mengembangkan demokrasi pada arah yang benar. Buku Walden Two mengecualikan pembenaran ketidaktaatan pada pemerintah dan “Pembangkangan Sipil” dan menyatakan ideal untuk lanjutan bernegara adalah total “Ketaatan Sipil”(“Civil obedience“). Buku ini diterima dengan antusias oleh kalangan elit politik dan sejak itu dikenal sebagai ‘Bible of International Politics’ oleh AS.

B.F. Skinner, “pawang perilaku manusia” Harvard, memfokuskan proyeknya pada Teknologi perilaku (Operant Conditioning), dimulai dengan premis pertama “Pertanyaan sebenarnya bukan, apakah mesin berpikir, tetapi apakah manusia berpikir!” Dan jawabannya Skinner adalah: Manusia tidak berpikir! Tidak diragukan lagi, ia menemukan inspirasinya dalam keyakinan Descartes bahwa hewan adalah robot yang tidak berpikir, tetapi hanya merespons keadaan eksternal. Inilah sebabnya mengapa hewan dilatih. Orang, sebaliknya, seharusnya berpikir dan itu sebabnya orang tidak bisa berlatih. Cogito – sum! – adalah monopoli kesadaran manusia, seperti juga kesadaran itu sendiri. B. F. Skinner menyimpulkan bahwa Descartes keliru dan tidak ada manusia yang berpikir, dan karena itu sangat mungkin untuk mengarahkan perilaku mereka dengan mengendalikan perintahan dan pencegahan. Orang-orang hanya reaksi, tidak pernah agitasi, karena memang tidak ada otonomi pengambilan keputusan. Itulah sebabnya orang perlu dilatih oleh sistem stimulus-respons-penguatan. Dan ini sekarang terjadi. Mereka menempatkan kita semua di Mesin Pelatihan Skinner – Kandang Latihan!

Saat ini sedang ada kontrol total atas pergerakan orang dan barang, pembatasan atas acara publik-kolektif, pembatasan atas hak individual untuk bersantai, bersosialisasi, termasuk semua bentuk penggunaan kebebasaan maupun kolektif dan individu: seni, olahraga, liburan, pariwisata, restoran, pertemuan, hingga perayaan keluarga. Proyek B.F Skinner pada apa yang disebut teknologi perilaku, sedang ditampilkan secara utuh sebagai pelatihan yang berjalan-manusia telah dikandangkan.

Para ekonom dan para pakar pasar saham melihat kerugian besar yang terjadi atas semua ini. Dan mereka benar. Apa yang tidak mereka lihat adalah bahwa politisi dan oligarki keuangan mengetahui hal yang sama. Tetapi kerugian itu telah diperhitungkan dalam pencapaian tujuan nyata mereka: untuk membangun rezim global totaliter. Yang akan diberlakukan secara ketat oleh elit politik lokal di semua negara, sesuai dengan arahan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), dan sesuai dengan pusat kekuatan finansial dunia yang diilhami secara filosofis. Pengenalan ketaatan yang buta, tanpa syarat, sebagai kebajikan dan kewajiban sipil terbesar, daripada hak-hak sipil dan kebebasan yang telah diraih manusia modern, adalah latihan umum kediktatoran global pemerintahan global dan pembentukan Orde Dunia Baru (Novum Ordo Saeclorum), yang tidak pernah ditinggalkan. Fragmentasi warga ke tingkat isolasi dan desosialisasi (dengan kewajiban jarak sosial, langsung bertentangan dengan sifat manusia dan kebutuhan untuk bersosialisasi); melarang pertemuan dan protes massal melalui pengenalan keadaan darurat yang melanggar hukum. Tujuannya jelas: Untuk mastikan bahwa tidak akan ada segala perlawanan terorganisir terhadap pihak berwenang dan untuk memperkenalkan cita-cita pesuruh yang terlatih, alih-alih cita-cita individu bebas, martabat dan integritas pribadi, sekarang dan untuk selamanya.

Untuk mencapai cita-cita ini, tidak ada harga yang terlalu mahal. Setelah ditetapkan, semua minus finansial akan dikompensasi dengan keuntungan yang beberapa kali berlipat ganda.

Tuduhan kebebasan sebagai hal buruk disertai dengan promosi kepatuhan dan disiplin ke dalam nilai-nilai sipil sebagai yang paling penting. Paradigma kebebasan dan martabat kehormatan distigmatisasi. Cita-cita utama telah digantikan oleh rasa takut akan kehidupan pada bertahan hidup. Tetap hidup telah menjadi masalah yang diurus otoritas. Kekuasaan mengambil alih tanpa wewenang, semalaman, semua kekuatan, secara imperatif, tanpa meminta dukungan dari rakyat, tanpa hambatan institusional, dan menjadi penguasa sejati kehidupan dan kematian. Instrumen ketakutan ini adalah WHO (Organisasi Kesehatan Dunia), pemerintah yang tidak terlihat berada pada pusat modal keuangan; pemerintah-pemerintahan lain akan bertindak berdasarkan instruksi dari mereka, untuk kepuasan mereka sendiri dan untuk keuntungan mereka sendiri. Mediokritas akhirnya memperoleh kekuatan yang tidak pernah mereka impikan akan miliki.

Pemusnahan orang tua dapat dikaitkan dengan rencana untuk mengakhiri transmisi antargenerasi dari sistem nilai tradisional, untuk memaksakan kerangka ideologis yang diinginkan pada generasi muda, dengan penekanan pada kepatuhan kolektif dan kepatuhan tanpa syarat terhadap hukum yang diberlakukan tanpa pengawasan kritis.

Dari yang tadi bagian sebuah komunitas, manusia menjadi makhluk yang kesepian, dari seorang yang bebas secara spiritual menjadi budak spiritual. Ini merusak fondasi masyarakat: komponen emosional. Loyalitas, kesetiaan, persahabatan juga cinta. Cinta baik sebagai eros maupun agape. Anda tidak dapat menjalin pertemanan dari jarak; Anda tidak dapat jatuh cinta online. Tidak seorang pun akan pernah tahu apa artinya mati untuk seorang teman, atau untuk mencintai sampai khir hayat! Sumber perlawanan manusia yang paling kuat terhadap kekuasaan – yaitu pemikiran kritis, memperoleh kekuatan dari nilai-nilai moral masyarakat dan hubungan emosional antara rakyat – telah terbebani. Freedom Building telah dihancurkan. Penyimpangan durhaka dari kesetiaan abstrak kepada negara, berdasarkan rasa takut akan kehidupannya sendiri, menggantikan kesadaran kritis individu yang mandiri dengan integritas moral.

Warga diubah menjadi pengkhianat yang pertapa, terbatas pada gua-gua mereka. Tetapi tidak lagi dibimbing oleh keputusan bebas mereka, atau kerinduan akan pengalaman luar biasa dari yang tak terbatas, tetapi dengan perintah, dekrit, ancaman hukuman penjara, dan telah alih-alih dari Tuhan Yang Mahakuasa, mereka sekarang mengirimkan doa-doa mereka ke negara yang totaliter.

Penerjemah : Edin Hadzalic

Artikel ini telah terbit di majalah Index-Ba di Bosnia

Penulis : Ferid Muhic lahir tahun 1943 di Zavidovici, Bosnia dan Herzegovina adalah anggota Akademi Sains dan Seni Bosnia. Dia adalah seorang profesor Filsafat di Universitas Sts. Cyril dan Methodius, Skopje, Makedonia Utara. Dia memulai karir akademisnya sebagai Asisten Profesor di Institut Penelitian Sosiologis di Skopje pada tahun 1970. Dia memasuki Departemen Filsafat sebagai Asisten Profesor pada tahun 1974; Associate Professor 1976-1980; Profesor Penuh Waktu 1980 – sekarang. Visiting Professor di Institut Internasional Pemikiran dan Peradaban Islam, Kuala Lumpur; Universitas Negeri Florida; Universitas Syracuse, New York; Sorbonne, Paris; dan beberapa universitas di Eropa Selatan-Timur. Spesialisasi profesional utama: filsafat kontemporer, antropologi budaya, estetika dan filsafat politik.

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda