Bintang Zaman

Aisyah Perempaun Pendobrak (Bagian 1)

Hamid Ahmad
Written by Hamid Ahmad

Kepemimpinan Aisyah sudah ia tunjukan semasa Nabi masih hidup dan makin menonjol setelah beliau wafat. Ia pun menjadi lambang perlawanan terhadap bentuk-bentuk penyelewengan dari ajaran Islam.

Perkawinan belia, sekarang dikecam karena lebih banyak ruginya ketimbang manfaatnya. Menurut satu survei, hal ini menghambat pendidikan yang bersangkutan. Namun, kata cendekiawan Abdurrahman Wahid (kelak presiden RI, red), perkawinan Nabi Muhammad s.a.w. dengan Aisyah yang masih belia justru menciptakan pemimpin.

Hidup bersama Nabi, kecerdasan Aisyah sangat terasah dan benih kepemimpinan yang dia warisi dari ayahnya, Abu Bakr Ash-Shidiq, mendapat lahan persemian yang subur. Kepemimpinan itu sudah ia tunjukkan semasa Nabi masih hidup dan makin menonjol setelah beliau wafat. Ia pun menjadi lambang perlawanan terhadap bentuk-bentuk penyelewengan dari ajaran Islam. Tak cuma secara moral, perlawanan secara fisik dilakoninya pula, yaitu kepada Ali ibn Abi Thalib.

Entah apa karena itu kaum Syiah selalu menggambarkan Aisyah — juga Hafshah dan Zainab —  dengan jelek sekali. Bersama istri-istri yang lain, ia pernah merepotkan Nabi sehingga Allah menyuruh beliau menyodorkan pilihan: tetap bersamanya atau diceraikan. Mereka memilih yang pertama dan ikatan perkawinan mereka dengan Nabi terus berlangsung hingga beliau menghadap ke hadirat-Nya. Apa yang mereka lakukan memang salah. Namun ini pernik-pernik rumah tangga yang mungkin masih dalam batas toleransi.

“Dan tidak boleh kalian menyakiti Rasulullah dan tidak (pula) mengawini istri-istrinya selamanya sesudah ia wafat” (Q.S 33:53), Istri-istri Rasul itu, yang disebut ibu-ibu kaum mukmin (ummahatul mu’minin), seudah menunjukan ketaatan mereka terhadap ayat ini: tak pernah menikah denga siapapun setelah Nabi wafat. Kredit ini terutama patut diberikan kepada Aisyah, yang ketika ditinggal wafat Rasulullah masih berusia 18 tahun. Usia remaja yang sedang ranumnya. Sungguh mulia.

Kemerah-merahan

Aisyah lahir satu tahun setelah Muhammad diangkat menjadi Nabi. Atau baru satu tahun dunia (Arab) keluar dari alam kegelapan menuju alam terang benderang. Mestinya, iklim jahiliyah, yang antara lain menganggap kelahiran bayi perempuan sebagai aib, kala itu belum sepenuhnya sirna. Toh kelahirannya pasti tidak disesali. Ayahandanya, Abu Bakr Ash-Shidiq, sejak dulu adalah orang bijak yang lembut hatinya. Terlebih lagi setelah masuk Islam saat anaknya lahir. Begitu pula ibunya, Ummu Rumman. Aisyah memang terlahir di tengah keluarga muslim.

Tentang keutamaan ayahnya, tak perlulah diuraikan panjang lebar lagi di sini. Cukuplah dikatakan, ia orang pertama dari golongan lelaki, yang beriman kepada Nabi, orang pertama yang mempercayai Isra mi’raj (sehingga mendapat julukan ash-shidiq), ketika orang-orang, termasuk kaum muslim, meragukannya, dan orang yang menyertai beliau berhijrah ke Madinah. Ibunya juga wanita mulia. Termasuk dalam barisan assabiqunal awwalun (generasi pertama masuk Islam), wanita ini mendapat jaminan surga dari Nabi. “Barangsiapa hendak melihat bidadari yang cantik, pandanglah Ummu Rumman,” sabda beliau ketika hendak membaringkannya di tempat peristirahatan terakhir.

Tidak banyak yang terungkap tentang masa kecil Aisyah. Yang pasti ia tidak mengenyam pendidikan formal karena waktu itu belum ada sekolah atawa madrasah. Biasanya pendidikan informal diberikan seorang ayah, paman atau kakek kepada anak lelaki, yaitu tentang ketangkasan berperang, seperti menunggang kuda, dan memanah. Biasanya anak-anak yang sudah mulai berangkat remaja dikirim ke pedalaman untuk mengasah kemampuan bahasa mereka karena kecakapan bersusastra saat itu merupakan kebanggaan pula. Di pedalaman bahasa yang asli dan fasih serta kemampuan bersyair terpupuk dengan baik. Tapi, ini pun biasanya juga diperuntukkan bagi anak lelaki.

Kata Ahmad As-Siba’i, masyarakat Arab pada zaman jahiliyah tidak seluruhnya buta huruf. Sudah banyak yang mengenal baca tulis. Ilmu perbintangan juga sudah dipelajari. Namun kita menduga, ini pun diperuntukkan bagi kaum lelaki melalui pendidikan yang tidak formal.

Jadi praktis pada masa kecil dihabiskan Aisyah, seperti juga anak-anak kecil lainnya, dengan bermain. Boneka pun menjadi kegemarannya. Walau begitu, ayahnya yang terpelajar, di tengah kesibukannya membantu dakwah Nabi, pasti meluangkan waktunya untuk menyemai pendidikan buat anaknya. Dasar-dasar akidah Islam dan hidup kebajikan tentu sudah ditanamkannya sejak dini. Anaknya ia tuntun masuk Islam, konon, ketika jumlah muslim mencapai 18 orang.

Aisyah tumbuh sebagai anak yang cerdas, lincah, dan suka bergaul. Kulitnya bersih kemerah-merahan. Tubuhnya bongsor. Begitu ringan tubuhnya sehingga hampir ia tidak menambah beban pada sekedup (semacam bilik yang ditaruh diatas unta) yang ditumpanginya. Gara-gara itulah ia tertinggal di tengah padang pasir setelah perang dengan Bani Musthaliq. Para pengangkat sekedupnya menyangka istri Rasul ini sudah ada di dalamnya.

Aisyah, sejak kecil, sering bersua dengan Nabi Muhammad s.a.w. Beliau memang tiap hari bertandang kerumahnya untuk berbincang-bincang dengan ayahnya. beliau menyukai anak sahabat karibnya ini. Bahkan pernah ia berpesan kepada ibunya agar merawat anak itu dengan baik. Suatu kali didapatinya anak tersebut sedang menangis. “Kenapa kamu menangis?” tanya beliau. “Saya dipukul Ibu.” Dihampirinya sang ibu. “Bukankah aku sudah pesankan agar kamu menjaga Aisyah dengan baik atas namaku?” (*)

About the author

Hamid Ahmad

Hamid Ahmad

Redaktur Panji Masyarakat (1997-2001). Sebelumnya wartawan Harian Pelita dan Harian Republika. Kini penulis lepas dan tinggal di Pasuruan, Jawa Timur.

Tinggalkan Komentar Anda