Ramadan

Peradaban Yang Dipuasakan

Menurut kyai saya, Allahyarham KH. Abdullah Salam; dahulu bulan Ramadhan menjadi bulan khas bagi penduduk desa Kajen, Pati. Pada bulan ini, hampir semua penduduk menghentikan aktivitas ‘duniawi’ mereka. Yang berdagang, berhenti berdagang; yang tukang, berhenti bertukang, dan seterusnya. Paling hanya yang berprofesi sebagai petani atau pedagang kebutuhan sehari-hari saja yang masih beraktivitas; itu pun dengan sebisa mungkin mengurangi intensitasnya.

Pada bulan ini penduduk lebih memfokuskan kegiatannya untuk beribadah: sholat, membaca Al Qur’an, mengaji kitab, i’tikaf dan seterusnya; alhasil semua kegiatan yang dianggap lebih mendekatkan pada Allah. Mungkin ini tidak hanya berlangsung di Kajen, tapi banyak tempat lain yang kental keIslamannya. Mungkin juga tidak secara komunal, tapi personal.

Ramadhan menjadi bulan ‘bertapa’, melepaskan diri untuk sementara dari rutinitas hidup selama sebelas bulan. Untuk biaya hidup selama cuti sebulan ini, mereka sudah mengumpulkannya selama sebelas bulan lainnya. Kalau memakai istilah yang sekarang sedang populer: selama sebulan penuh mereka dengan sadar sengaja mengarantina diri sendiri dari sentuhan ‘duniawi’.

Seperti shaum, puasa di bulan Ramadhan; saat memulai, kita tahu persis kapan berbuka; saat mulai mengarantina diri selama Ramadhan pun orang tahu kapan akan bertemu Idul Fitri; sehingga kesabaran yang terbangun selama melakukannya pun dilandasi dengan kesadaran adanya kepastian batas akhirnya.

Sudah tentu segala sesuatu pasti akan sampai pada batas akhir, yang jadi masalah adalah: ketika tidak tahu kepastian batas akhirnya; apakah kesabaran kita tetap akan terjaga? Kesabaran orang yang tidak makan karena berpuasa; tentu berbeda dengan kesabaran orang yang terpaksa berpuasa tidak makan karena tak memiliki sesuatu pun untuk dimakan misalnya. Yang pertama, tahu batas akhirnya; yang kedua tak tahu kapan akhirnya.

Tak mengherankan bila kita merujuk ke hadits, Rasulullah menyebut puasa sebagai separuh dari kesabaran. Disebut separuh, karena kesabaran penuh atau kesabaran sejati justru baru akan tampak ketika orang menghadapi sesuatu, apa pun itu, tanpa pernah tahu dengan pasti kapan batas akhirnya. Apakah disaat kelaparan, ia tetap memelihara kesabaran meski tanpa tahu kapan akan punya sesuatu untuk dimakan misalnya?

Dari analogi ini, banyak orang alim, lebih-lebih dari kalangan sufi, menyimpulkan bahwa ibadah-ibadah yang selama ini diwajib atau sunnahkan pada manusia, pada dasarnya hanyalah metode latihan, training, riyadhoh; yaitu paket laku yang dirancang untuk mempersiapkan orang agar mampu dengan berhasil dan selamat memasuki situasi kehidupan yang akan dijalaninya.

Ungkapan ‘akan Kami uji’ atau ‘belum beriman sebelum Kami uji’, atau ungkapan senada lainnya yang banyak ditemukan dalam Al Qur’an; boleh disebut sebagai tanda bahwa semua bentuk latihan, training, atau riyadhoh ini pada akhirnya akan diuji.

Meski tidak tepat sama, dan dalam skala yang jauh lebih terbatas; prinsip latihan, training, atau riyadhoh ini pun sudah lama diadopsi oleh peradaban manusia. Hampir semua profesi menerapkannya. Semakin rumit dan beresiko suatu profesi, akan semakin rumit dan berat pula pelatihannya. Meski demikian, serumit dan seberat apa pun pelatihan; penilaian sebenarnya baru  muncul saat orang sudah terjun di lapangan.

Nah, hari ini wabah Covid-19 memaksa kita semua mengarantina diri sendiri, tanpa pernah tahu kapan sebenarnya batas akhirnya. Kita dipaksa berpuasa dari sangat banyak hal yang sebelumnya terlanjur menjadi kebiasaan sehari-hari.

Bukan hanya itu, bahkan mungkin kita juga harus mulai berlatih hidup dengan kebiasaan baru; karena boleh jadi setelah sengatan Covid-19 ini, wajah peradaban akan berubah dan kebiasaan baru akan terbentuk.

Lebih jauh, sengatan Covid-19 juga akan sepenuhnya mengubah pola ekonomi-politik-sosial-budaya; yang mungkin tak terbayang sebelumnya. Alhasil, kita sedang berada tepat di tengah perubahan besar-besaran, di tengah ketidak-pastian hampir di semua bidang; tanpa pernah tahu kapan semua kembali menemukan keseimbangannya kembali.

Covid-19 adalah salah satu kawah condrodimuko dimana kesabaran kita, baik sebagai pribadi mau pun sebagai ummat, sedang diuji langsung oleh Allah. Apakah latihan, training, atau riyadhoh kita gagal atau berhasil? Apakah kita hanya berhenti di separuh kesabaran atau mampu menyempurnakannya menjadi kesabaran penuh? Dan jangan pernah lupa, innallaha ma’ashobirin, Allah bersama mereka yang sabar. (*)

About the author

Anis Sholeh Ba'asyin

Budayawan, lahir di Pati, 6 Agustus 1959. Aktif menulis esai dan puisi sejak 1979. Tulisannya tersebar di koran maupun majalah, nasional maupun daerah. Ia aktif menulis tentang masalah-masalah agama, sosial, politik dan budaya. Di awal 1980an, esai-esainya juga banyak di muat di majalah Panji Masyarakat. Pada 1990-an sempat istirahat dari dunia penulisan dan suntuk nyantri pada KH. Abdullah Salam, seorang kiai sepuh di Kajen - Pati. Juga ke KH. Muslim Rifai Imampuro, Klaten. Sebelumnya 1980an mengaji pada KH. Muhammad Zuhri dan Ahmad Zuhri serta habib Achmad bin Abdurrahman Al Idrus, ahli tafsir yang tinggal di Kudus. Mulai 2001 kembali aktif menulis, baik puisi maupun esai sosial-budaya dan agama di berbagai media. Juga menjadi penulis kolom tetap di beberapa media. Sejak 2007 mendirikan dan memimpin Rumah Adab Indonesia Mulia, sebuah lembaga nirlaba yang bergerak di bidang pendidikan non formal, penelitian, advokasi dan pemberdayaan masyarakat. Karya lainnya, bersama kelompok musik Sampak GusUran meluncurkan album orkes puisi “Bersama Kita Gila”, disusul tahun 2001 meluncurkan album “Suluk Duka Cinta”. Sejak 2012, setiap pertengahan bulan memimpin lingkaran dialog agama dan kebudayaan dengan tajuk ”Ngaji NgAllah Suluk Maleman” di kediamannya Pati Jawa Tengah mengundang narasumber tokoh lokal maupun nasional.

Tinggalkan Komentar Anda