Ramadan

Marhaban Ya Ramadan, Kami Siap Menyambutmu

Tahukah Anda, apa saja yang harus dipersiapkan? Jiwa yang suci dan tekad membaja untuk memerangi nafsu, meghidupkan malamnya dengan salat dan tadarus, dan siangnya dengan ibadah kepada Allah.

Marhaban ya Ramadan. Selamat datang Ramadan. Kami menyambutmu dan siap untuk melakukan apa saja demi memperoleh kemuliaan dan kebaikan. kami bergembira dengan kedatanganmu karena seperti sabda Rasulullah s.a.w., “Seandainya umatku mengetahui keistimewaan Ramadan, niscaya mereka mengharap agar semua bulan menjadi Ramadan”.

Ramadan terambil dari akar kata yang berarti membakar atau mengasah. Ia dinamai demikian karena pada bulan ini dosa-dosa manusia pupus, habis terbakar akibat kesadaran dan amal salehnya. Atau juga karena bulan tersebut dijadikan sebagai waktu untuk mengasah atau mengasuh jiwa manusia. Ramadan juga diibaratkan sebagai tanah subur yang siap ditaburi benih-benih kebajikan. Semua orang dipersilakan untuk menabur, kemudian pada waktunya menuai hasil sesuai dengan benih yang ditanamnya. Bagi yang lalai, tanah garapannya hanya akan ditumbuhi rerumputan yang tak berguna.

Puasa atau shiyam dalam bahasa Alquran berarti menahan diri. Alquran ketika menetapkan kewajiban puasa tidak menegaskan bahwa kewajiban tersebut datangnya dari Allah. Tapi redaksi yang digunakan dalam bentuk pasif: Diwajibkan atas kamu berpuasa (Q 1:18). Agaknya, redaksi tersebut sengaja dipilih untuk mengisyaratkan bahwa puasa tidak harus merupakan kewajiban yang dibebankan oleh oleh Allah, tapi manusia itu sendiri akan kewajibannya atas dirinya pada saat ia menyadari betapa banyak manfaat di balik itu.

Berpuasa selama Ramadan adalah usaha manusia sekuat kemampuannya untuk mencontoh Tuhan dalam sifat-sifat-Nya. Bukankah Tuhan tidak makan, bahkan memberi makan? Tidak pula minum dan tidak beranak dan diperanakkan? Manusia yang berpuasa berusaha mencontoh Tuhan — dari segala hukum puasa —  dalam ketiga hal tersebut. Karena ketiganya merupakan kebutuhan primer manusia, yang bila mampu mengendalikannya, maka kebutuhan-kebutuhan lainnya akan mudah pula dikendalkan. Namun dari segi hikmah dan tujuan puasa, ia seharusnya mencontoh Tuhan dalam keseluruhan sifat-sifat-Nya.

Kalau demikian itu hakikat puasa, maka benih-benih yang harus ditabur adalah benih-benih yang mengantarkan kepada “bersikap dan bersifat dengan sikap dan sifat Allah SWT Sehingga hal tersebut dapat menghiasi diri, mewarnai tingkah laku, serta mempengaruhi cara berpikir seseorang. Tuhan Maha Berpengetahuan, Mahakaya, Maha Pengasih terhadap makhluk-makhluk-Nya, Mahadamai, dan sebagainya.

Perlu dicatat bahwa yang dimaksud dengan hidup bukan sekadar menarik dan mengembuskan nafas. Hidup adalah yang sejalan dengan hidup Tuhan serta sesuai dengan kemampuan manusia, yakni hidup dan berkesinambungan yang melampaui batas-batas generasi umat, dan bangsa. Hal ini hanya hanya akan dapat dicapai melalui kerja keras tanpa henti. Bukankah Tuhan “setiap saat dalam kebaikan” (Q 55:9)?

“Karya-karya besar Rasulullah s.a.w. justru terjadi pada Ramadan di antaranya kemenangan dalam Perang Badar dan  keberhasilan menguasai Mekkah. Demikian juga umat Islam sepenunggal beliau: kemenangan di Spanyol, kemenangan menghadapi Perang Salib, kemenangan melawan Tartar, sampai Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang tercapai pada saat Ramadan.”

Dia hanya dapat dicapai dengan berkreasi. Bukankah Tuhan itu khalaq (Maha berkreasi)? Karya-karya besar Rasulullah s.a.w. justru terjadi pada Ramadan. Misalnya kemenangan dalam Perang Badar (2 H/624 M), keberhasilan menguasai Mekkah (8 H/630 M), dan sebagainya. Demikian juga umat Islam sepenunggal beliau. Misalnya kemenangan di Spanyol ( 91 H/710 M), kemenangan menghadapi Perang Salib ( 584 H/1118 M), kemenangan melawan Tartar (658 H/1168 M), dan banyak lagi, sampai Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang tercapai pada saat Ramadan.

Pada Ramadan terdapat malam qadr, malam penentuan, yang akan menemui setiap orang yang mempersiapkan diri sejak dini untuk menyambutnya. Kebaikan dan kemuliaan yang dihadirkan oleh lailatul qadr tak mungkin akan diraih kecuali oleh oramg-orang tertentu saja. Tamu agung yang berkunjung ke suatu tempat, tak akan datang menemui setiap orang di lokasi tersebut walaupin setiap orang disana mendambakannya. Demikian juga dengan lailatu qadr.

Itu sebabnya Ramadan menjadi bulan kehadirannya, karena bulan ini adalah bulan penyucian jiwa. Dan itu pula sebabnya ia diduga oleh Rasul datang pada separuh malam terakhir Ramadan karena ketika itu diharapkan jiwa manusia yang berpuasa selama 20 hari sebelumnya telah mencapai satu tingkat kesadaran dan kesucian.

Apabila jiwa telah siap, kesadaran telah mulai bersemi, dan lailatul qadr datang menemui seseorang, maka malam kehadiran menjadi saat qadr dalam arti saat “menentukan

“bagi perjalanan sejarah hidupnya pada masa mendatang. Saat itu, bagi yang bersangkutan, adalah saat titik tolak guna meraih kemuliaan dan kejayaan hidup didunia dan diakhirat. Sejak itu juga malaikat akan turun guna menyertai dan membimbingnya menuju kebaikan sampai terbitnya fajar kehidupannya di hari kemudian nanti (Q 97:4-5).

Marhaban ya Ramadan. Selamat datang Ramadan. Kami menyambutmu dan siap untuk melakukan apa saja demi memperoleh kemuliaan dan kebaikan. Tahukah Anda, apa saja yang harus dipersiapkan? Jiwa yang suci dan tekad membaja untuk memerangi nafsu, meghidupkan malamnya dengan salat dan tadarus, dan siangnya dengan ibadah kepada Allah. (*)

About the author

Prof. Dr. M. Quraish Shihab

Prof. Dr. M. Quraish Shihab

Ulama-tafsir; pernah menjabat rektor UIN Jakarta, menteri agama, dan dubes RI di Mesir.

Tinggalkan Komentar Anda