Ramadan

Puasa Ramadan di Tengah Keprihatinan

Puasa sejatinya ibadah yang sunyi, yang jauh dari hiruk pikuk. Tidak menampak atau ekspresif sebagaimana ritus-ritus yang lain semisal salat bejamaah, apalagi haji yang massif dan kolosal. Tapi Ramadan selalu  bulan yang semarak. Disambut penuh gempita, bak merayakan sebuah karnaval. Kecuali mungkin di tahun 1441 Hijrah ini, yang bahkan tidak ada tarawih dan buka bersama —  di masjid, langgar atau tempat-tempat lainnya. Tak hanya di negeri kita, masjid-masjid yang sudah beberapa pekan dikosongkan dari kegiatan salat berjamaah, berubah menjadi tempat yang sunyi-sepi di bulan Ramadan ini. Pandemi Covid-19 memang telah memaksa kita beberapa pekan ini untuk tetap di rumah dan bekerja dari rumah.

Kita sudah maklum, pandemi yang bermula dari negeri Tiongkok ini telah memporak-pondakan berbagai kegiatan  manusia di muka bumi – dan tentu saja membawa kesengsaraan lahir-batin. Kita tambah cemas karena tidak tahu kapan pandemi yang telah menimbulkan dampak berantai ini akan berakhir.     

Betapapun,  dan dalam keadaan bagaimanapun, kita hendaknya tidak menyia-nyiakan kesempatan yang telah Allah bukakan sendiri di bulan Ramadan ini. Ini adalah bulan yang pernuh rahmah dan maghfirah. Di bulan ini Allah akan mengampuni dosa-dosa kita di masa lalu. Ampunan itu kita bisa peroleh dengan cara bertobat, serta diikuti  dengan sedekah. Derma atau ssedekah merupakan sebuah kebajikan, dan seperti disebut dalam Quran “kebajikan itu mengusir keburukan.” (Q.S. 11:114). Dalam sebuah hadis Rasulullah bersabda, “Barangsiapa menjalankan puasa dengan penuh iman dan ihtisab, maka akan diampuni semua dosanya di masa lalu.” Ihtisab sikap seorang muslim yang  hanya  mengharapkan ridha  Allah semata, dan terus-menerus menjaga agar pikiran dan tindakannya tidak berlawanan dengan ridha Allah. Jadi, jika seseorang menjalankan puasa dengan kedua prinsip ini, maka seluruh dosanya di masa lalu akan diampuni. Jadi, bolehlah dikatakan puasa merupakan sarana introspeksi dan mawas diri.

Puasa yang dijalankan dengan penuh iman memang akan  merangsang kita untuk melakukan pelbagai kebaikan. Dalam banyak hadis disebutkan mengenai ajakan Rasulullah kepada orang yang berpuasa untuk mengerjakan kebaikan. Termasuk mengembangkan solidaritas sesama Muslim, karena dengan merasakan sendiri haus dan lapar, seseorang dapat merasakan apa yang dirasakan oleh saudara-saudaranya yang miskin dan sengsara. Sebagaimana diriwayatkan sebuah hadis, bahwa Rasulullah s.a.w. biasanya sangat dermawan selama bulan Ramadan. Tidak seorang pun pengemis yang kembali dari pintu rumahnya dengan tangan hampa, dan budak-budak pun memperoleh kemerdekaan mereka dari beliau.

Di zaman pagebluk ini,  tentu banyak cara yang bisa ditempuh untuk merealisasikan berbagai kebajikan dan mewujudkan solidaritas sesama muslim dan saudara sebangsa.

Semoga puasa kita tidak berujung tidak memperoleh apa pun kecuali lapar dan dahaga, sebagaimana diingatkan oleh Rasulullah: “Banyak orang yang berpuasa, tetapi tidak memperoleh apa-apa selain lapar dan haus, dan banyak orang yang bangun di malam hari tetapi tidak memperoleh apa-apa selain berjaga malam saja.” Sabda lain yang mengingatkan bahwa melaparkan dan menghauskan diri itu tidak ada gunanya adalah, “Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan yang keji (dusta) dan melakukan kejahatan (kepalsuan), Allah tidak akan menerima puasanya, sekalipun ia telah meninggalkan makan dan minum.” (H.R. Bukhari, Muslim, dan Ahmad)

About the author

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda