Ramadan

Hamka tentang Puasa (Bagian1)

Written by Panji Masyarakat

Pengantar Redaksi:

Ramadan telah tiba. Ahlan!

Bulan yang penuh berkah, rahmah, dan maghfirah. Di bulan suci ini kita berpuasa selama sebulan penuh, menahan lapar dan dahaga, dan pantang melakukan hubungan suami-istri – sepanjang hari sampai tiba waktu berbuka. Sedang di malam hari, kita disunahkan salat tarawih (kali ini apa boleh buat di rumah saja karena lagi musim corona), selain memperbanyak  zikir, membaca Alquran, dan i’tikaf (Berdiam di masjid), yang juga tidak bisa dilakukan. Kita tempuh semua itu, agar kita mencapai status yang diharapkan Allah, menjadi orang yang bertakwa. Pastilah berat karena kita juga sedang berjihad melawan Covid-19, yang dengan izin Allah mudah-mudahan cepat berakhir.

Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu brpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (Q. 2:183)

Untuk menyegarkan pengetahuan dan kesadaran kita akan betapa luasnya makna ibadah puasa, kami hadirkan kembali tulisan-tulisan Buya Hamka yang pernah kami terbitkan pada Ramadan 1418 H/1998 M di majalah Panji Masyarakat.  Ulama dan penulis Tafsir Al-Azhar ini  pendiri  Panji Masyarakat  (1959) dan penulis utama majalah ini sampai akhir hayatnya (1981).

Selamat mengikuti.   

Tradisi Buka Puasa

Dalam bulan Ramadan kehidupan kaum Muslim amat berbeda dari hidup mereka pada bula-bulan lain. Sebulan penuh mereka sibuk bukan mengurus dunia melainkan sibuk dalam keasyikan beribadat. Kesibukan ini didapati di seluruh dunia Islam, sejak dari Maroko sampai ke Merauke.

Sebulan penuh beribadat, berzikir, tilawatil Quran, wara’  dan zuhud. Bertemulah dalam bulan ini jiwa murni muslimin, baik mereka yang di Timur maupun di belahan Barat. Yang alim (pandai) maupun yang jahil (bodoh), yang miskin ataupun yang kaya, yang menetap maupun yang musafir, penghuni istana maupun yang tinggal di gunuk-gubuk.

Siang hari mereka lesu karena lapar. Tidak ada dapur yang berasap, bahkan hidup pun tidak ada yang berasap.

Walaupun Islam telah mengajar bahwa orang musafir boleh membukakan puasanya, setia kawan si muslim seluruh dunia itu menyebabkan si musafir enggan mempertunjukkan di muka umum bahwa dia tidak puasa. Di Pelabuhan udara Banda aceh dan Tabing (Padang), Ujung Pandang (Makassar), Palembang dan lain-lain terasa benar puasa di siang hari bulan Ramadan itu. Hanya orang asing yang melawat di sana yang berani merokok di muka umum. Orang Cina ataupun orang yang bukan Islam tidak melanggar adat sopan santun dengan mendemonstrasikan bahwa dia tidak puasa di muka umum.

Di Jakarta banyak orang yang mempertunjukkan bahwa dia tidak puasa dengan terang-terangan. Seorang teman yang baru datang dari kampung, lalu tinggal di Jakarta, mengatakan bahwa dia lebih merasakan enaknya berpuasa di tengah-tengah Kota Jakarta daripada di kampungnya di pedalaman Sumatera Barat. “kalau kita naik bus atau angkutan umum lainnya, di kiri kanan kita ada pemeluk agama lain yang tidak berpuasa,” katanya. “Melihat orang itu hati kita lebih teguh dan iman lebih kuat. Tetapi semasa saya di  Suliki, letih rasanya mengerjakan puasa sebab semua orang yang kita lihat letih seperti kita, sebab mereka berpuasa.”

Umumnya apabila hari mulai petang, orang kembali bergerak. Pasar-pasar mulai ramai. Segala macam juadah perbukaan yang enak-enak dijual orang. Ada serabi, ada serikaya, tapai, lemang dan lain-lain. Untuk keistimewaan berbuka, orang tidak merasa segan-segan memesan buah kurma. Ada perusahaan yag mengimporkurma dari Irak, meskipun mutu buah kurma yang dikirim bukan nomor wahid. Bagi setengah orang, yang penting berkahnya. Sebabkurma itu makanan khas Nabi Muhammad  s.a.w.

Di beberapa negeri penjual makanan di petang hari adalah perempuan-perempuan muda atau gadis-gadis manis. Maka banyaklah anak-anak muda yang berkerumun kembali, sehingga dapat betegur sapa dengannya. Berkata orang tua-tua, “Kalian yang muda-muda ini bagaimana? Waktu berbuka puasa pada pukul 18.10 WIB tetapi kalian baru pukul 17.00 WIB sudah berbuka. Kalian merusakkan puasa dengan bermain mata.”

Di beberapa daerah adakebiasaan berbuka bersama di masjid atau surau karena di sana orang-orang telah berkumpul menjelang magrib. Apabila waktu telah masuk, orang berbuka sekadarnya, dinamai ta’jil. Agak seteguk air dan dua atau tiga butir kurma atau makanan manis yang lain. Setelah itu orang pun salat magrib berjamaah, kemudian barulah pulang makan bersama keluarga.

Mulai waktu itu kita kelihatan hidup. Mata yang tadi lesu mulai bersinar-sinar dan semua isi rumah gembira.  Tidak lama sesudah makan kenyang, orang serumah bergiat menyiapkan kain salat, laki-laki dan perempuan serta anak-anak pun ikut. Kadang-kadang yang tinggal di rumah hanyalah yang tua-tua saja, bahkan kadang-kadang rumah dikunci saja. Orang pergi bersama-sama menuju masjid atau surau untuk mengerjakan salat tarawih (pemandangan yang tidak akan jumpai pada Ramadan sekarang karena semua tarawih di rumah saja, red) Mulai waktu Isya sampai selesai tarawih, kehidupan berpindah ke masjid. Ada orang yang mengerjakan tarawih 23 rkaat, termasuk witir. Tapi akhir-akhir ini sudah banyak yang mengerjakan tarawih hanya 11 rakaat – sudah termasuk witir. Bersambung

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda