Berbagi Cerita Corona

Atasi Dilema Donor Darah saat Wabah

Serial tulisan testimonial di panjimasyarakat.com ini didedikasikan untuk mendokumentasikan dan membagikan pengalaman baik dari berbagai tempat dan latar belakang penulis untuk saling menguatkan dalam menghadapi wabah Virus CORONA COVID-19.
Kami tunggu partisipasi Anda, kirim tulisan via WA 
0895616638283 atau email panjimasyarakat.com@gmail.com
–Pemimpin Redaksi

Jakarta, Indonesia–  Saya seorang dokter umum yang sehari-hari bertugas di Unit Transfusi Darah (UTD) PMI Provinsi DKI Jakarta. Ketika Infeksi Corona merebak di Kota Wuhan, Tiongkok, Desember 2019 yang lalu, kami tidak menyangka bahwa virus itu akan sampai ke Indonesia, bahkan berdampak pada pelayanan darah.

Pada awal Maret ketika mulai ada kasus di Indonesia, kami segera memberlakukan pemeriksaan suhu bagi karyawan dan tamu yang akan masuk ke Gedung PMI DKI Jakarta dengan berbekal satu termometer suhu. Kami juga mulai menyiapkan formulir self-assessment terhadap risiko terinfeksi virus Corona Covid-19 bagi calon donor yang akan menyumbangkan darahnya sebagai pengamanan tambahan. Saat itu stok darah masih dalam batas aman. Namun, ketika 15 Maret 2020 warga DKI Jakarta mulai dianjurkan untuk menjaga jarak (social distancing) dan stay at home,  saat itulah stok darah kami langsung terjun bebas. Bila sebelumnya dapat terkumpul 1000 pendonor setiap harinya, maka tiba-tiba saja hanya rata-rata 100 donor darah per hari.

Panik? Iya, pasti. Kami pun memutusakan harus segera bertindak. Alur dan prosedur segera diubah. Bersama rekan-rekan kami mulai simulasi mengatur layout dan jarak antar pendonor, menyulap aula menjadi ruang pengambilan darah yang lebih luas dan nyaman agar jarak aman minimal 1 meter terjaga. Bahkan untuk menjaga area donor darah bersih dan aman, setiap pagi dilakukan disinfeksi (penyemprotan) fasilitas umum ruang tunggu, ruang donor darah. Kami juga menambahkan protokol untuk melakukan disinfeksi (pembersihan) tempat tidur dan peralatan antar-pendonor sehingga benar-benar terjamin kebersihannya agar pendonor tidak khawatir. Hal ini juga sejalan dengan protokol antisipasi dan pencegahan penyebaran Covid-19 yang dikeluarkan oleh PMI Pusat.

Upaya kami ini segera kami dokumentasikan, dibuat infografis dan video grafis, lalu disebarkan melalui media sosial dan webinar agar masyarakat mengetahui perubahan yang telah kami lakukan. Tapi ternyata tidak semudah itu. Mereka masih takut untuk keluar rumah dan sangat patuh dengan aturan stay at home. Kami pun lalu mengupayakan door to door mendatangi calon donor di tempat mereka, di kantor kelurahan, apartemen atau komplek perumahan, walaupun hanya 10-20 orang pedonor. Meski begitu ternyata masyarakat juga masih takut karena khawatir untuk berkumpul, meski kami sudah menyiapkan protokol berjarak (physical distancing) antara pedonor.

Antrian donor darah dengan jarak physical distancing di PMI DKI Jakarta
sesuai protokol pencegahan Covid-19.

Di hari pertama, Ketua PMI Pusat M. Jusuf Kalla menghimbau TNI untuk berdonor darah. Kemdian tim Marinir Angkatan Laut pun segera membantu donor darah, di sela-sela mereka juga melakukan persiapan menghadapi Covid-19.  Selain itu ada tim dari Kementerian Pertahanan dan jemaat dari Gereja Bethel Indonesia (GBI) yang mengadakan kegiatan donor darah dengan protocol atau alur yang baru. Nah, salut buat mereka, karena dokumentasi kegiatan ini menjadi bahan komunikasi yang baik untuk sosialisasi ke instansi lainnya. Syukurlah, selain itu ada dukungan dari sejawat para dokter di RS MMC (Metropolitan Medical Center), RSCM (Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo) dan RS Carolus yang sangat luar biasa dan berhasil menggugah karyawan dan sejawat lain untuk donor darah.

Meski begitu instansi-instansi lain masih saja banyak yang membatalkan kegiatan donor darah yang telah direncanakan. Bulan Maret pada tahun-tahun sebelumnya adalah bulan puncak perolehan darah kami, tapi Maret 2020 ini adalah titik terendah perolehan darah dalam sepanjang saya bekerja di PMI DKI Jakarta.

Hal lain yang terjadi adalah lantaran terbatasnya stok darah, banyak keluarga pasien yang mengerahkan anggota keluarganya untuk berdonor. Bagi mereka yang untuk pertama kalinya menyumbangkan darah, ada beberapa prosedur harus ditempuh, yang terkadang tidak semua lolos untuk bisa berdonor. Mereka yang belum pernah donor darah ada yang gagal karena tidak lolos persyaratan, seperti Kesehatan dan sebagainya, tampak  keluar dengan raut muka kecewa. Bahkan keluarga pasien ada yang panik mengiba-iba minta dicarikan donor darah bagi keluarganya. Kondisi kekurangan stok darah ini tentu tidak bisa dibiarkan. Di satu sisi kami juga harus menghimbau agar protokol pencegahan Covid-19 dengan stay at home dijalankan, tapi di sis lain kami harus mengajak masyakarat untuk tetap berdonor darah, dating ke PMI atau di lokasi dekat rumah. Benar-benar sesuatu yang tidak mudah.

Di minggu kedua setelah himbauan stay at home, mulailah kami bekerja sama dengan media masa, media online memberitakan stok darah kami yang sangat kritis, dengan rata-rata berkurang hingga 70%.. Tim media sosial kami terus berkarya menampilkan konten di facebook dan Instagram untuk meningkatkan kesadaran masyarakat bahwa ada jeritan pasien lain yang membutuhkan transfusi darah namun tidak terlayani.

Donor darah di kelurahan, duduk diberi jarak antara pedonor darah, memenuhi protokol PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar)

Upaya ini didukung para Pengurus PMI Provinsi DKI Jakarta melalui komunikasi dengan berbagai pihak terkait, melalui surat permohonan, komunikasi lisan maupun melalui whatsapp chat kami layangkan setiap harinya kepada pihak-pihak yang memungkinkan menggerakkan para pedonor untuk tetap berdonor darah. Kami pun sebagai perwakilan UTD PMI DKI Jakarta juga sebagai perwakilan Perhimpunan Dokter Transfusi Darah Indonesia juga menyampaikan pesan ini dari para anggota yaitu dokter yang bekerja di pelayanan darah kepada seluruh masyarakat agar tetap berdonor darah, dengan prosedur yang aman dalam pencegahan virus Corona Covid-19. 

Alhamdulillah. Akhirnya Kementerian Kesehatan mengeluarkan surat edaran tentang donor darah. TNI juga sudah mulai siap bergiliran donor darah mulai awal April 2020. Pemprov DKI Jakarta juga membantu membuat pendaftaran online donor darah yang kemudian kegiatan donor darahnya dilaksanakan tiap harinya bergantian di Kelurahan/Kecamatan di seluruh wilayah Provinsi DKI Jakarta. Bahkan kelompok-kelompok masyarakat juga mulai menggeliat mendaftar untuk kegiatan donor darah.

Mengatur jarak bagi pendonor.

Stok darah mulai merangkak naik. Nah, muncul permintaan lain, yaitu terkait dengan penyediaan plasma dari donor yang pernah sakit Covid-19 namun telah sembuh. Hal ini dimungkinkan untuk melakukan terapi Covid-19. Terapi ini memang masih dalam tahap trial secara global di negara manapun, sehingga kami berharap agar sejawat lain bersabar sampai protokol nasional untuk terapi ini disetujui untuk dipergunakan. Selain itu persiapan, koordinasi dengan berbagai pihak juga masih harus diupayakan. Perjuangan masih belum berakhir dan semangat melawan Covid-19 ini tidak boleh padam. 

Bagi kami penanggulangan wabah Covid-19 tidak hanya untuk pedonor dan pasien tetapi juga untuk karyawan dan tenaga Kesehatan yang harus dijaga stamina dan keamanan dari penularan. Vitamin dan masker disiapkan setiap hari untuk semuanya termasuk hand sanitizer dan disinfektan yang dibuat sendiri oleh tim K3 (Kesehatan dan Keselamatan Kerja) PMI DKI Jakarta. Setiap karyawan diupayakan memiliki botol hand sanitizer mini yang dapat dibawa ke manapun dan juga dibekali masker kain untuk dipakai sehari-hari sesuai rekomendasi Pemerintah.

Tentu kami sangat berterima kasih untuk semuanya yang telah mendukung setiap upaya kami dalam penyediaan darah kepada pasien. Ketika Pemprov DKI Jakarta memutuskan pemberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) mulai 10 April 2020, ya kami wajib mematuhinya. Namun kami terus berupaya agar kegiatan donor darah pun tetap dapat dilaksanakan dengan mengikuti protokol yang aman dari penyebaran Covid-19. Jangan gentar para Sahabat dan Saudaraku semua, darah Anda menyelamatkan Anda dan para pasien di rumah sakit. Semoga badai Covid-19 ini segera berlalu. Salam sehat selalu. (*)

About the author

Dr. dr. Ni Ken Ritchie, M.Biomed

Dr. dr. Ni Ken Ritchie, M.Biomed

Wakil Kepala Unit Tranfusi Darah (UTD) PMI DKI Jakarta, Ketua Peminatan Sains Transfusi pada Program Magister Ilmu Biomedik FKUI (Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia). Lulus dokter dari FKUI 2002, Magister Ilmu Biomedik FKUI pada peminatan Sains Transfusi (2007), Doktor Ilmu Biomedik FKUI dengan peminatan tentang antibodi anti-HLA pada pasien yang mendapatkan transfusi berulang (2015). Ketua Umum Perhimpunan Dokter Transfusi Darah Indonesia (PDTDI) sejak 2018, Wakil Ketua IV Perhimpunan Hematologi dan Transfusi Darah Indonesia (PHTDI), Sekretaris bidang Transfusi Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Umum Indonesia (PDUI). Aktif pada seminar dan kongres ilmiah nasional dan internasional terkait transfusi darah.

Tinggalkan Komentar Anda

Inspirasi Hari Ini

Foto

  • hamka
  • Hamka
  • tabloid-panjimasyarakat
  • 23-april-19972-1024x566
  • Ali-Yafi1-1024x768
  • KH-Ali-Yafie-804x1024