Tasawuf

Ridha Allah, Sakinah, dan Salam (Bagian 5)

Written by Panji Masyarakat

Allah siapkan bagi hamba-hamba-Nya sesuatu yang tidak pernah terlihat oleh mata dan tidak pernah didengar oleh telingga dan tidak pernah terpikir dalam hati manusia. Itulah surga. Dan angsurannya sudah mulai tampak di dunia. Begitu juga dengan azab.

Karena itu Quran mengatakan fa’tabiru – “seberangi!”  I’tibar itu artinya menyebrang. Gambaran-gambaran di Quran mengenai surga, yang merupakan simbolisasi kebahagiaan tertinggi atau rohani, itu memang diperlukan karena adresnya seluruh umat manusia dalam segala lapisan. Dan karena manusia itu antara orang awam dan orang khusus (khawash) kemudian membentuk suatu piramida, makin ke atas makin kecil, dengan sendirinya lalu ada istilah elite dan seterusnya.

Karena itu (karena yang elite  hanya sedikit), keterangan mengenai surga pun yang abstrak hanya sedikit. Salah satunya, yang paling abstrak, ialah bahwa surga itu tidak bisa digambarkan. “Tidak satu jiwa pun mengetahui kebahagiaan tertingi yang dirahasiakan terhadap mereka, yang nanti akan diberikan kepada mereka sebagai balasan amal baik mereka.” (Q. 32:17)

Maka dari itu ada hadis: “(Allah berfirman:) Aku siapkan bagi hamba-hamba-Ku sesuatu yang tidak pernah terlihat oleh mata dan tidak pernah didengar oleh telingga dan tidak pernah terpikir dalam hati manusia.” Itulah surga. Kemudian Nabi mengatakan, “Kalau kamu mau bacalah ayat as-Sajdah” tadi. Jadi ada idiom-idom agama, yaitu agama dipahami menurut kemampuan orang.

Bayangan akhirat di dunia  

Poin yang penting kita ingat, kebahagiaan yang kita nantikan di akhirat sebetulnya sekarang sudah ada angsurannya, dan begitu pula dengan azab. Quran dengan jelas menyebutkan, “pasti akan Aku bikin mereka merasakan azab yang besar, supaya mereka bertobat” (Q.32:21). Jadi kita di dunia pun terkena, dan celakannya azab di dunia kadang-kadang azab publik: tidak hanya menimpa orang-orang jahat; orang-orang baik pun kena, karena dosa orang jahat. Seperti Quran mengatakan, “Kamu harus waspada terhadap bencana yang tidak hanya menimpa orang jahat saja di antara kamu” (Q. 8:25).

Jadi, bencana di dunia ini tidak seperti akhirat. Di akhirat mutlak hanya individual, tapi di dunia bisa publik. Karena itu kita wajib meluruskan hal-hal yang tidak baik itu, dengan amr ma’ruf nahy munkar. Nanti kalau kita ke surga disambut oleh malaikat, dan mereka semuanya mengucapkan salam ke kita: “Salam kepada engkau semuanya yang telah berhati baik, sekarang masukilah surga ini dengan bahagia dan abadi.” (Q. 39:73).

Begitu juga dalam surah Yasin,  yang menyambut kita tidak hanya malaikat, tetapi Tuhan juga: “Salaamun qoulan min rabbin rahiim (Salam, ucapan dari Tuhan yang maha kasih)”

(Q.36:58).

Maka dari itu kita harus mengucapkan salam kepada Tuhan, yaitu dengan baca tahiyat. Pertama salam kepada Tuhan sendiri, kedua salam kepada Nabi, dan ketiga salam kepada diri sendiri dan kepada semua hamba hamba yang baik. Itu semuanya gambaran mengenai kehidupan di surga. Maka dari itu Lailatul Qadr pun suatu simbolisasi dari pengalaman rohani, yang intinya ialah salam atau pasrah  (islam). Wassalamu’alaikum.***

Penulis: Prof.  Dr. Nurcholish Madjid (1939-2005). Sumber: Majalalah Panjimas, 13-25 Desember 2002. Almarhum yang biasa dipanggil Cak Nur adalah pendiri dan rektor pertama  Universitas Paramadina, Jakarta. Peraih Ph.D dari Universitas Chicago (AS) ini guru besar UIN Syarif Hidayatullah,  Jakarta, tempat ia menyelesaikan sarjana S1, dan peneliti senior Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda