Berbagi Cerita Corona

Galang Donasi APD Usai Baca “Berbagi Cerita Corona”

Jamiyatul Khoir
Written by Jamiyatul Khoir

Serial tulisan testimonial di panjimasyarakat.com ini didedikasikan untuk mendokumentasikan dan membagikan pengalaman baik dari berbagai tempat dan latar belakang penulis untuk saling menguatkan dalam menghadapi wabah Virus CORONA COVID-19.
Kami tunggu partisipasi Anda, kirim tulisan via WA 
0895616638283 atau email panjimasyarakat.com@gmail.com
–Pemimpin Redaksi

Malang, Indonesia – Beberapa waktu lalu, ada yang membagikan tautan artikel Panji Masyarakat rubrik “Berbagi Cerita Corona” yang berjudul “Sedih, Rawat Pasien Positif Corona Melalui Video Call” di grup WhatsApp KAHMI (Keluarga Alumni Himpunan Mahasiswa Islam). Saya tergelitik membuka tautan tersebut karena judulnya menarik.

Artikel itu menceritakan perjuangan seorang bidan – Nailufi El Murrobah namanya – di salah satu Puskesmas di Kota Depok dalam menangani pasien Covid-19 dengan keterbatasan tanpa Alat Perlindungan Diri (APD) yang standar, melainkan menggunakan jas hujan sebagai pelindung diri petugas kesehatan.

Pasien tersebut harus diisolasi total. Bidan Nailufi kemudian menghubungi sebuah rumah sakit swasta di Depok namun rumah sakit tersebut tidak memiliki fasilitas yang memadai untuk merawat pasien positif Corona. Khawatir menulari tenaga medis dan pasien lainnya, rumah sakit itu menolak. Ia memutar otak bagaimana cara menolong pasiennya itu.

Bidan Nailufi memutuskan untuk mengisolasi pasien positif Corona di rumah si pasien sendiri, sebab tidak ada pilihan lain. Warga yang mengetahui sempat mengusir pasien. Akhirnya, Ia turun tangan untuk mengedukasi warga, bahwa pasien positif corona itu mengisolasi diri dengan tetap di kamar saja, sehingga aman bagi kemungkinan penularan.

Tenaga Kesehatan di Puskesmas sebelum dan sesudah
mendapatkan APD: pakai jas hujan (kiri) dan pakai APD (kanan)

Untuk menjaga agar tidak tertular, Ia dan tenaga medis lainnya tidak melakukan perawatan dan fasilitasi di rumah tersebut. Dalam beberapa hari, Ia hanya bisa memantau dan mengedukasi pasien dari jauh menggunakan video call.

Sejujurnya, Bidan Nailufi dan teman-teman tenaga medis ingin sekali merawat di rumah pasien, sayangnya perlengkapan tidak memadai. Setiap hari mereka tanpa APD dan hanya menggunakan jas hujan dan masker N95 untuk menangani pasien-pasien.

Hati saya terenyuh ketika membaca cerita itu. Ingin sekali berbuat sesuatu, membantu bidan dengan meyumbang APD. Tapi uang saya terbatas. Saya pun berinisiatif membagi ulang rubrik “Berbagi Cerita Corona” itu kepada teman-teman melalui grup-grup WhatsApp yang ada di gawai. Siapa tahu mereka tergerak untuk membantu. Alhamdulillah, teman-teman mau berdonasi dan mereka mempercayai saya untuk memimpin project ini.

Saya tinggal di Kota Malang dan berprofesi sebagai guru. Mayoritas yang mengirimkan donasi adalah para guru dan teman-teman Tapak Suci, pencak silatnya Muhammadiyah, kebetulan saya anggota di dalamnya. Tapi ada juga orang-orang yang berdonasi di luar grup itu bahkan ada yang dari Surabaya.

Saat donasi mulai terkumpul, saya mencari APD. Dalam kondisi seperti ini untuk mendapatkan APD khususnya baju dan masker sulit sekali. Harganya juga mahal. Karena izin Allah, saya masih bisa mendapatkannya. APD-APD itu segara saya kemas. Sebelumnya saya bertanya ke teman yang membagikan tautan Panji Masyarakat itu, di mana alamat Puskesmas tempat Bidan Nailufi dan teman-temannya bertugas. Alhamdulillah, teman saya mendapatkan alamatnya. Selanjutnya bantuan saya kirim ke Bidan Nailufi melalui jas  pengiriman logistik.

Para tenaga Kesehatan di Puskesmas Kalimulya, Kota Depok dengan
senang menerima kiriman donasi APD (Alat Pelindung Diri).

Beberapa hari kemudian, saya mendapat kiriman foto, bahwa APD sudah sampai. Bidan Nailufi sangat senang sekali. Dalam foto itu ia tampak sumringah. Sejak itu saya bertekad untuk menggalang donasi lagi. Saya berharap masyarakat bisa bekerjasama, saling bahu–membahu dalam menghadapi wabah ini dengan melakukan sesuai dengan porsinya masing-masing. Bisa memberikan harta benda, tenaga dan waktu.

Saya juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh tim Panji Masyarakat yang telah membuat rubrik “Berbagi Cerita Corona”. Rubrik ini sangat menginspirasi banyak orang sekaligus membuat masyarakat tahu kondisi yang terjadi sesungguhnya seperti apa. Tiba-tiba saya teringat dengan almarhum Bapak. Saat saya masih kecil bapak rajin membaca Majalah Panjimas. Saya tidak tahu Bapak mendapatkannya dari mana, padahal kami tinggal di pelosok yang jauh dari kota.

Majalah era 80-an itu bapak simpan dengan rapi. Tapi semenjak Bapak meninggal, rumah kami robohkan, majalahnya lupa diselamatkan dan hancur. (*)

About the author

Jamiyatul Khoir

Jamiyatul Khoir

Guru SMKN 2 Malang, Anggota Keluarga Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) dan Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Kota Malang

Tinggalkan Komentar Anda