Cakrawala

Nafsu yang Menghinggapi Banyak Penguasa

Written by Panji Masyarakat

Keadilan merupakan  perjuangan yang terpanjang dan yang terberat karena pada diri kita melekat nafsu amarah. Yakni nafsu yang terlalu mendorong kita untuk berbuat kejahatan.  Nafsu yang satu ini cenderung mengalahkan nafsu muthmainnah

Yang termulia tetapi tersulit ditegakan, itulah keadilan. Sumber kebahagiaan, ketenangan dan kedamaian bagi setiap ihsan. Tidak heran jika perjuangan para nabi, sebagia besar dicurahkan untuk menegakan keadilan. Bukankah Alquran sendiri banyak membicarakan topik yang selalu aktual itu?

Fakta historis menunjukkan, masa kegelapan alias zaman jahiliah di kota Mekah ditandai dengan merajalelanya ketidakadilan. Yang kaya menindas yang miskin. Kaum bangsawan dan penguasa memperbudak yang lemah. Bahkan perempuan dianggap manusia rendah. Bayangkan betapa banyak anak perempuan yang baru lahir, bahkan sudah jadi gadis, dibunuh atau dikubur hidup-hidup. Jelas, waktu itu peradaban manusia mencapai titiknya yang paling rendah. Karena itu, Nabi s.a.w. berjuang habis-habisan untuk melawan segala ketidakadilan itu.

Jauh ke belakang, pada zaman Yunani kuno, kedilan bahkan telah menjadi fokus perdebatan para filosof. Socrates, misalnya, mengatakan janganlah kita mengharapkan ketenangan hidup selama tidak ada keadilan, selama diskriminasi merajalela. Filosof ini akhirnya dibunuh dengan dipaksa minum racun oleh sebagian penduduk yang waktu itu menghendaki kedudukan istimewa atas bangsa bukan Yunani. Socrates memang tidak mau bergeser dari pendiriannya bahwa semua manusia dilahirkan sama, karena itu hukum harus menjamin kedudukannya yang sama itu. Dari prinsip inilah, Plato, murid Socrates, mengatakan antara lain bahwa setiap pemerintah harus berlaku adil karena seyogianya keadilannya yang harus memerintah. Tanpa prinsip ini, kata dia, pemerintah mudah berlaku curang, sewenang-wenang dan akhirnya akan dijatuhkan oleh rakyatnya sendiri.

Tapi mengapa orang menyebut keadilan sebagai perjuangan yang terpanjang dan yang terberat?

Soalnya pada diri kita melekat nafsu amarah. Yakni nafsu yang terlalu mendorong kita untuk berbuat kejahatan. (Q. 12:53). Nafsu yang satu ini cenderung mengalahkan nafsu muthmainnah (nafsu yang tenang), yang juga ada pada diri kita. Celakanya pula, nafsu amarah ini lebih banyak yang menghinggapi para penguasa, sehingga di mana-mana terjadi kecurangan dan kesewenang-wenangan.

Sebelum berkuasa, banyak pemimpin yang bernafsu muthmainnah. Antara lain ditandai dengan janji-janji mereka untuk menegakan keadilan, memajukan kesejahteraan, jika mereka nanti berkuasa. Tetapi setelah jabatan diraih, nafsunya berubah menjadi amarah –-korupsi dan ingkar janji. Wilfredo Pareto,  sosiolog Italia, dalam berbagai karangannya selalu mengingatkan agar kita mewaspadai janji-janji para pemimpin, yang bila sudah berkuasa cenderung mengingkarinya.

Banyak cara untuk menghindari dari hawa nafsu untuk tidak berbuat adil (maksiat). Antara lain dengan menjauhkan diri dari lingkungan yang menyebabkan diri kita terjerumus ke dalam perbuatan maksiat. Kalau kita serumah dengan penjudi atau perampok, lama-lama kita akan terpengaruh untuk melakukan perbuatan keji. Kecuali, kita betul-betul punya iman yang kuat.

Selain itu, kita perlu meningkatkan kesadaran dan pemahaman terhadap akibat perbuatan kita. Misalnya, kalau kita mengorup duit negara, maka tidak saja akan menganggu proyek-proyek kemanusiaan seperti pembayaran gaji pegawai, tetapi juga dapat mendorong orang untuk melakukan perbuatan yang sama. Apalagi kalau kita melakukannya dengan mulus. Harus diakui, banyaknya kalangan atas yang melakukan korupsi telah mendorong para pejabat yang berada dibawahnya ikut-ikutan korupsi.

Itu sebabnya mengapa kita perlu meningkatkan takwa. Karena dengan takwalah, tentunya didukung lingkungan yang positif, semua nafsu atau semua peluang untuk melakukan kejahatan dapat dicegah. Allah berfirman: “Berbekallah dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.” (Q. 2:197).


Penulis: Baharudin Lopa (1935-2001). Sumber: Majalah Panji Masyarakat, 15 Desember 1998. Tulisan dimuat ketika Lopa menjabat duta besar RI untuk Arab Saudi. Semasa hidupnya ia dikenal pejabat yang bersih, tegas, dan sederhana. Selain menjadi jaksa, Lopa pernah menjadi ketua Komnas HAM dan Dirjen Pemasyarakatan. Pada masa pemerintahan Abdurrahman Wahid,  Lopa menjabat Menkumham sebelum diangkat jadi Jaksa Agung. Lopa wafat pada 3 Juli 2001 di Arab Saudi dalam rangka serah terima jabatan sebagai duta besar sekaligus umroh.

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda