Berbagi Cerita Corona

Manajemen Barangay Hadapi Corona di Filipina

Written by Bagus Handoko

Serial tulisan testimonial di panjimasyarakat.com ini didedikasikan untuk mendokumentasikan dan membagikan pengalaman baik dari berbagai tempat dan latar belakang penulis untuk saling menguatkan dalam menghadapi wabah Virus CORONA COVID-19.
Kami tunggu partisipasi Anda, kirim tulisan via WA 
0895616638283 atau email panjimasyarakat.com@gmail.com
–Pemimpin Redaksi

Manila, Filipina – Jumlah orang yang terinfeksi Covid-19 di Filipina semakin banyak, meski pemerintah sudah memberlakukan lockdown sejak 15 Maret. Daripada sering ke luar rumah untuk belanja dan risiko terpapar virus lebih besar, maka saya dan istri memutuskan untuk ke supermarket seminggu sekali. Kami memborong bahan-bahan pokok untuk satu minggu.

Saya Bagus Handoko, biasa dipanggil Bhe. Saat ini saya bekerja di Asian Development Bank (ADB) Filipina sebagai Executive Board Assistant. Di sini saya tinggal bersama istri di sebuah apartemen yang letaknya berseberangan dengan kantor ADB di Metro Manila, Filipina.

Metro Manila merupakan pusat politik, ekonomi, sosial, budaya, dan rekreasi di Filipina. Metropolis ini terdiri dari 16 kota dan satu kotamadya. Saat kasus positif Corona mulai meluas, pemerintah Filipina mengambil keputusan lockdown Metro Manila. Awalnya pemerintah berencana me-lockdown satu kota saja. Tapi mengingat banyak orang dari kota lain yang bekerja di Manila, pemerintah mengubah kebijakan menjadi lockdown untuk semua kota.

Metro Manila pun kini sepi (foto: dok pribadi)

Gerak pemerintah dalam menangani kasus virus Corona ini tergolong cepat. Tahapannya juga jelas. pada saat itu kasusnya belum banyak, namun pemerintah setempat berupaya keras dalam mencegah penyebaran virus Corona. Makanya, banyak warga Indonesia yang memilih tidak pulang dan tetap tinggal di Manila. Karena pemerintah sudah menyiapkan semuanya, jadi orang-orang juga sudah siap.

Lockdown yang dilakukan pemerintah Filipina sangat sistematis. Implementasinya berada di tingkat Barangay (setingkat dengan kecamatan di Indonesia). Pemerintah pusat memberi wewenang kepada Barangay untuk mengontrol wilayahnya masing-masing. Apapun yang terjadi akan menjadi tanggungjawab Barangay. Misalnya kalau ada orang yang disinyalir positif COVID, dia tidak boleh pergi ke rumah sakit sendiri, ada tugas Barangay yang menjemput. Jadi daripada pemerintah pusat mengurusi semuanya, mending kasih dana, petunjuk teknis dan tenaga suplai ke tiap Barangay.

Dengan cara memberi wewenang kepada Barangay, implementasi lockdown menjadi efektif. Kenapa? Karena Barangay adalah satuan terkecil dari pemerintahan yang pastinya tahu dan mengenal warga serta lingkungannya. Kalau arus traffic orang sudah tertahan di level kecamatan, tidak akan ada arus lintas antar kecamatan.

Kebijakan itu semakin efektif karena setiap Barangay mengeluarkan quarantine pass atau kartu izin keluar. Setiap rumah tangga hanya diberi satu quarantine pass yang fungsinya untuk membeli bahan pokok dan obat-obatan. Quarantina pass menunjukkan seseorang tinggal di mana, warga negara apa dan namanya siapa.

Hanya mobil yang diparkir, tanpa manusia melintas di sana (foto: dok pribadi)

Ketika yang membawa Quarantina pass saat itu bernama Risa, sementara nama yang tertera di kartu itu adalah Joni dan ketahuan oleh petugas, maka si Risa harus pulang ke rumah. Tidak boleh keluar. Pokoknya harus Joni. Karena kartu itu milik Joni, bukan Risa.

Selama lockdown, pemerintah menggelontorkan dana talangan darurat. Pemerintah menggunakan dana tersebut untuk menanggung kebutuhan pokok warga yang terimbas lockdown, seperti memberikan ransum kepada setiap keluarga untuk beberapa hari, jaminan sosial untuk orang-orang miskin, bantuan tunai langsung (BLT), jaminan kesehatan untuk tes COVID, keringanan pembayaran listrik, air, telepon bahkan ada juga program survivol dan recovery bagi petani dan nelayan.

Untuk jaminan sosial, pemerintah memberikan uang kepada 17% dari total jumlah populasi penduduk Filipina saat ini. Mereka adalah orang – orang miskin yang terdampak. Lalu ada cash transfer untuk 17, 9 juta keluarga. Sehingga total uang yang digelontorkan pemerintah untuk menghadapi wabah Corona ini sebesar 234 Miliar Peso.

Di sisi lain, perusahaan-perusahaan besar yang memiliki bisnis memberi keringanan sewa, misalnya perusahaan makanan San Miguel punya banyak tenant – tenant yang disewakan. San Miguel membebaskan sewa sekitar tiga bulan. Banyak perusahaan juga yang mengeluarkan gaji ke-13 lebih awal.

Warga Filipina yang Patuh

Kondisi Manila saat ini berbeda jauh dari sebelumnya. Tidak jauh beda dengan negara-negara lain pastinya. Jalanan menjadi sepi dan orang memilih untuk diam di rumah. Kantor saya memberlakukan Work From Home (WFH). Saya keluar hanya untuk membeli bahan-bahan pokok dan seminggu sekali.

Salah satu bentuk kepatuhan warga: jaga jarak! (foto: dok pribadi)

Prinsipinya daripada keluar sering hanya untuk beli bahan pokok mending ke supermarket seminggu sekali. Bahan-bahan yang dibeli yang penting-penting saja seperti beras, daging, ikan, buah, sayuran dan roti. Saya memperbanyak cemilan, karena air yang mengalir di pipa-pipa apartemen hanya untuk mandi dan cuci, tidak untuk dikonsumsi. Sementara harga air per jerikennya mahal. Saya dan istri memutuskan untuk membeli banyak cemilan atau makanan yang tidak perlu banyak menggunakan air.

Begitu juga dengan warga Manila yang lain. Mereka memborong bahan-bahan pokok untuk kebutuhan satu minggu. Masih tampak wajar, troli-troli mereka tidak penuh dan menumpuk beberapa kardus. Maksimal hanya satu kardus yang ada di troli.

Pada dasarnya warga Filipina memang memiliki kedisiplinan yang lebih bagus dibandingkan orang Indonesia. Setiap masuk mall dan transportasi, mereka antri panjang. Tidak ada yang menyerobot seperti di Indonesia. Karena secara culture sudah terbangun, pada saat ada peraturan physical distancing, mereka patuh.

Terbukti, kalau saya ke supermarket, antriannya panjang sekali sampai luar. Dan mereka terlihat menjaga jarak satu sama lain. Lalu, saat pemerintah membuat peraturan Grabfood dan Food Panda hanya beroperasi sampai pukul 4 sore, para driver juga patuh. Bahkan sudah pukul 3.30 sore, mereka tidak terima order.

Rela antre untuk ke supermarket (foto: dok pribadi)

Saya pernah mencoba pesan makanan tapi enggak dapat. Padahal di aplikasi para driver masih kelihatan. Mereka tidak mau ambil. Begitu mereka selesai bekerja, mereka akan membeli makanan dan pulang. Maka, saat pukul 7.00 malam, semua warga sudah kembali ke rumahnya masing-masing.

Saya sendiri mendapatkan banyak pelajaran dari wabah ini. Saya lebih rasional saat membeli barang. Ohhh … ternyata dengan uang segini bisa dapet segini untuk beberapa hari. Kalaupun saya butuh barang tambahan sebenarnya hanya butuh mengeluarkan uang sekian. Intinya jadi lebih hemat dan bisa mengatur pengeluaran dengan baik. Hikmah lainnya adalah jadi hidup lebih bersih. Begitu dari luar rumah biasanya saya duduk di sofa, istri bakal mengingatkan untuk cuci tangan, ganti baju dan mandi. (*)

About the author

Bagus Handoko

Executive Board Assistant Asian Development Bank (ADB) Filipina.
Pernah menjadi Policy Analyst Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Lulusan dari Magister Public Policy and Management di University of Melbourne.

Tinggalkan Komentar Anda