Tasawuf

Linglung Berjamaah

“Sistem demokrasi kini mulai dipertanyakan orang,” tegas pak Amal, “dia dianggap tidak cukup, dan melahirkan banyak komplikasi karena prateknya terbukti tak pernah terkawal dengan baik!”

“Di Amerika, yang selama ini, entah atas dasar apa, dianggap juara dalam berdemokrasi pun dinilai telah mencapai titik jenuh, terbukti dengan munculnya Donald Trump sebagai presiden. Seorang Darwinian ateis, Richard Dawkins, yang frustasi melihat perkembangan politik tersebut, bahkan mengatakan bahwa demokrasi dengan konggres yang pengecut bisa menghasilkan Caligula, seorang kaisar gila yang pernah berkuasa di Romawi,” sambung pak Amal.

“Demokrasi tetap rentan dimanipulasi, apalagi berkat terobosan teknologi, banyak instrumennya kini tersedia. Di dunia saat ini misalnya, akses terhadap informasi relatif bebas terbuka, hampir setiap orang dengan gampang bisa memperolehnya lewat gawai di tangannya. Secara bersamaan, terbukanya akses terhadap informasi ini tidak dibarengi kemampuan memilih dan memilah. Ini menjadi lubang besar yang segera dimanfaatkan pihak-pihak tertentu untuk membanjirinya dengan informasi sampah. Bisa ditebak, banjir tersebut akhirnya mengeruhkan cara pandang masyarakat dan menenggelamkannya di tumpukan sampah.”

“Saat pemilihan presiden kemarin misalnya, sempat heboh apa yang disebut firehose of falsehood alias semburan dusta. Sebuah teknik propaganda yang menyiarkan pesan dalam jumlah besar secara cepat, berulang-ulang, dan tanpa henti di berbagai media tanpa memedulikan kebenaran atau kepastiannya. Ini adalah teknik propaganda yang semula dikembangkan Rusia dalam rangka aneksasi Krimea di tahun 2014.”

“Kedua pihak yang kemarin berkonstetasi, menggunakannya tanpa menimbang dampak yang ditimbulkan. Padahal ini seperti menginstall virus ke benak masyarakat dan mengacaukan cara berpikirnya. Sasarannya jelas: mereka tak lagi punya cukup kejernihan untuk memutuskan pilihan, tanpa peduli bahwa dampaknya kemudian terbukti meninggalkan banyak kerusakan dalam pola pikir masyarakat.”

“Wah…” gerutu Kang Sam, “belum lagi ditambah politik uang yang merajalela hampir dimana-mana. Sudah menjadi rahasia umum, betapa besar uang yang harus digelontorkan agar orang bisa menjadi anggota dewan atau pemimpin, dari tingkat daerah sampai pusat.”

“Sekarang rakyat seperti harus membayar cek yang sudah terlanjur diterimanya. Krisis yang terjadi karena munculnya wabah corona virus, mempertontonkan pada rakyat betapa banyak pemimpin yang sebenarnya tidak cukup punya kelayakan dan kemampuan memimpin. Mereka jadi pemimpin hanya karena kombinasi strategi firehose of falsehood dan uang,” sambung Kang Sam.

“Kan ada hadits Nabi, ‘Jika amanat telah disia-siakan, tunggu saja kehancuran terjadi.’ Ada seorang sahabat bertanya; ‘bagaimana maksud amanat disia-siakan?’ Nabi menjawab; “Jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah kehancuran itu,” sela Lik Cecep.

“Lebih parah lagi, bila dalam krisis menghadapi corona virus pun, strategi  firehose of falsehood masih juga dipraktekkan. Masyarakat dibanjiri hoax yang isinya cenderung meremehkan dan membuat abai terhadap bahaya Covid-19. Ada yang lewat tokoh, ada yang lewat artis, influencer, buzzer, dan lain sebagainya. Yang terakhir diviralkan misalnya: seorang yang katanya virologis, ahli virus, tapi tidak jelas latar belakang keilmuannya,” sahut Kang Sam.

“Ada juga orang yang tidak diketahui kapasitasnya keilmuannya, tiba-tiba bicara tentang keimanan dan keIslaman dalam menghadapi virus ini; dan mendorong orang untuk tetap beribadah sebagaimana biasa. Video atau tulisan mereka banyak tersebar ke grup-grup WA. Kalau diamati, sebagian besar ada pola tetapnya. Dan pola semacam ini jelas dirancang oleh mereka yang paham psikologi dan tingkat keberagamaan mayoritas masyarakat. Kalau mau su’udzon, rasanya ini boleh dibaca sebagai strategi cuci tangan. Kan sekarang zamannya serba cuci tangan. Kesalahan akan ditimpakan ke masyarakat, muslim yang mayoritas terutama, bila virus ini gagal ditangani,” sahut Pak Amal.

“Tapi kan juga ada bukti, bahwa sebagian kalangan muslim memang bersikap demikian?” tanya Lik Jum.

“Benar. Karena itu, amati saja pola dan muatannya. Ada yang generik, dan itu sedikit volumenya. Ada yang artifisial. Nah ini yang banyak,” jawab pak Amal.

“Gempuran mis-informasi dan dis-informasi telah mempreteli kewaspadaan dan kejernihan masyarakat; artinya antibodi mereka sudah dilemahkan sejak awal dan tak lagi punya kemampuan cukup untuk melawan virus mis-informasi dan dis-informasi yang tak henti disuntikkan. Akibatnya mereka linglung, tak tahu lagi apa yang harus dikerjakan. Dan, dari pada pusing, akhirnya mereka cenderung mengabaikan bahaya yang ada di depan mata.”

“Saya jadi ingat, ada pasien yang berbohong tentang kemungkinan asbabun nuzul penyakitnya; dan dampaknya adalah: banyak dokter dan perawat di rumah sakit yang akhirnya ikut terpapar Covid-19 sehingga harus mengisolasi diri, ketika diketahui bahwa pasien tersebut ternyata positif  Covid-19. Ini misalnya terjadi di Grobogan, Salatiga juga Semarang. Mungkin juga sudah terjadi di tempat lain. Artinya, kebohongan yang dibuat satu orang saja sudah mampu membuat celaka banyak orang, dan mengurangi ketersediaan tenaga medis justru di saat sangat di butuhkan. Saya tidak bisa membayangkan dampaknya bila ini dilakukan secara sistematis dan berjamaah pula. Bukan hanya terhadap tenaga medis, tapi juga kemungkinan jumlah korban yang jatuh…” sambung Kang Sam.

Gotha’an tiba-tiba disergap keheningan. Kami semua termangu membayangkannya. (*)

About the author

Anis Sholeh Ba'asyin

Budayawan, lahir di Pati, 6 Agustus 1959. Aktif menulis esai dan puisi sejak 1979. Tulisannya tersebar di koran maupun majalah, nasional maupun daerah. Ia aktif menulis tentang masalah-masalah agama, sosial, politik dan budaya. Di awal 1980an, esai-esainya juga banyak di muat di majalah Panji Masyarakat. Pada 1990-an sempat istirahat dari dunia penulisan dan suntuk nyantri pada KH. Abdullah Salam, seorang kiai sepuh di Kajen - Pati. Juga ke KH. Muslim Rifai Imampuro, Klaten. Sebelumnya 1980an mengaji pada KH. Muhammad Zuhri dan Ahmad Zuhri serta habib Achmad bin Abdurrahman Al Idrus, ahli tafsir yang tinggal di Kudus. Mulai 2001 kembali aktif menulis, baik puisi maupun esai sosial-budaya dan agama di berbagai media. Juga menjadi penulis kolom tetap di beberapa media. Sejak 2007 mendirikan dan memimpin Rumah Adab Indonesia Mulia, sebuah lembaga nirlaba yang bergerak di bidang pendidikan non formal, penelitian, advokasi dan pemberdayaan masyarakat. Karya lainnya, bersama kelompok musik Sampak GusUran meluncurkan album orkes puisi “Bersama Kita Gila”, disusul tahun 2001 meluncurkan album “Suluk Duka Cinta”. Sejak 2012, setiap pertengahan bulan memimpin lingkaran dialog agama dan kebudayaan dengan tajuk ”Ngaji NgAllah Suluk Maleman” di kediamannya Pati Jawa Tengah mengundang narasumber tokoh lokal maupun nasional.

Tinggalkan Komentar Anda