Tasawuf

Ridha Allah, Sakinah, dan Salam (Bagian 3)

Written by Panji Masyarakat

Seolah-olah Alquran mengatakan, kalau kamu melakukan perbuatan baik akan mendapat kupon ke surga, tetapi yang lebih penting mendapat ridha Allah. Karena sebetulnya memang kebahagiaan tertinggi itu ialah salam. Jadi ridha Allah-sakinah-salam itu menjadi satu.

Sakinah di dalam Tabut

Maka Zaitun menjadi salah satu tonggak perkembangan agama Allah SWT. Tentu saja Tursina adalah lambang agama Musa yang titik beratnya adalah perjanjian dengan Allah dalam bentuk menaati hukum yang intinya The Ten Commandements. Dan Albaladul Amin adalah Mekah (Bakkah, Ummul Qura), sedangkan albaladul amin sama dengan darus salam (negeri salam).

Jadi di situ kita ketemu dengan konsep ketenangan atau ide tentang ketentraman. Karena seolah-olah semua agama dan budaya melewati fase-fase Tin-Zaitun dan fase-faseTursina menuju kepada masyarakat yang aman, yaitu Ummul Qura atau metropolis. Maka agape atau rahmah adalah persyaratan untuk mencapai sakinah.

Karena itu, nanti di surga kita akan mendapat maskan — masakin thayyibah – dan maskan-maskan (tempat-tempat) yang indah, tetapi pengalaman mendapat ridha Allah itulah yang paling indah. Seolah-olah Alquran mengatakan, kalau kamu melakukan perbuatan baik akan mendapat kupon ke surga, tetapi yang lebih penting mendapat ridha Allah. Karena sebetulnya memang kebahagiaan tertinggi itu ialah salam, yang antara lain karena mendapat sakinah yang dengan begitu kemudian mendapat ridha Allah SWT. Jadi ridha Allah-sakinah-salam itu menjadi satu.

Pengertian sakinah sebetulnya lebih luas daripada yang biasa dibicarakan, yang seolah-olah hanya menjadi tujuan sebuah keluarga. Semua kehidupan harus membawa kepada sakinah. Misalnya ketika Bani Israil, untuk memerangi Yerussalem dan menghadapi Jalut (Goliath), dipimpin Daud, dan Daud ini hanya seorang jenderal dari seorang raja bernama Thalut. Thalut ini ditunjuk Allah sebagai raja Bani Israil karena mempunyai kelebihan fisikal (berbadan sehat) dan pengetahuannya luas. Tetapi yang lebih penting lagi dia berhasil menemukan tabut, yaitu kotak yang memuat naskah perjanjian dengan Tuhan — ada deskripsi bahwa “dalam tabut ada sakinah dari tuhan kamu (sakinatun min rabbikum)” (Q.2:248). Itu lambang agama Yahudi yang paling penting.

Kemudian, tabut itu ditaruh di puncak bukit Muria (di tengah-tengah Kota Yerussalem). Dipilih sebuah batu karang, shakhrah dalam bahasa Arab, yang kemudian oleh orang Israil disebut The Holy of Holies. Itu juga mereka sebut sakinet itu ada hubungannya dengan ketentraman. Karena itu Ka’bah pun (Masjid Al-Haram) digambarkan sebagai suatu tempat di mana orang mendapat rasa aman. Ini semuanya pengalaman-pengalaman spiritual yang tidak bisa digambarkan. Karena itu kemudian diterangkan cara-cara mencapainya, yaitu dengan tiga jenjang. Pertama cinta atau eros, kedua cinta jiwa, psikologis, nafsani, kemudian cinta rohani atau agape. Untuk bisa mendapat agape kita harus ridha kepada Allah, supaya Allah ridha kepada kita —  radhiah-mardhiyah. Bersambung


Penulis: Prof.  Dr. Nurcholish Madjid (1939-2005). Sumber: Majalalah Panjimas, 13-25 Desember 2002. Almarhum yang biasa dipanggil Cak Nur adalah pendiri dan rektor pertama  Universitas Paramadina, Jakarta. Peraih Ph.D dari Universitas Chicago (AS) ini guru besar UIN Syarif Hidayatullah,  Jakarta, tempat ia menyelesaikan sarjana S1, dan peneliti senior Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda