Mutiara

Cik Mad alias Pak Mo dari Hadramaut

Gerbang gedung UIN Jambi
A.Suryana Sudrajat
Ditulis oleh A.Suryana Sudrajat

Ulama keturunan Arab ini menjadi pelopor pendidikan tinggi Islam di Jambi. Ia juga yang pertama kali mengenalkan khutbah dalam bahasa Indonesia di Sumatera Tengah ini.

Syekh Haji Muhammad    Umar Bafdhal atau yang lebih dikenal HMO Bafadhal adalah ulama Jambi keturunan Arab. Semasa hidupnya ia lebih banyak berkecimpung di dunia pendidikan, khasnya pendidikan tinggi Islam. Dia salah seorang yang memelopori pendirian IAIN Sultan Thaha Saifuddin (STS) Jambi.

Muhammad lahir tahun 1914 di Kampung Pasar, di depan Masjid Raya Magatsari,    Jambi. Keluarganya imigran dari Hadramaut yang datang ke Palembang sekitar abad ke-18. Ayahnya Umar Bafadhal dan ibunya Halimah binti Utsman. Waktu kecil ia biasa dipanggil Cik Mad. Ia diambil anak angkat oleh    Abdul Rahman Bafadhal alias Walid Laut, yang tidak hanya kaya tetapi juga sangat peduli dengan pendidikan.

Ketika Cik Mad berusia sekitar empat tahun, Walid Laut membawanya ke Tanah Suci. Setelah hampir dua tahun di Mekkah, Walid Laut membawa pulang Cik Mad ke Jambi. Tahun 1921 ia dimasukkan ke sekolah dasar Belanda. Setelah tamat (1927), ia melanjutkan pendidikannya di Jamiat Kheir, Jakarta, sekolah modern yg didirikan sekelompok keturunan Arab. Tamat dari Jamiat Kheir (1931), Cik Mad kembali ke Jambi dan belajar di Madrasah Nurul Iman. Di sini ia menghabiskan waktu selama lima tahun.

Di sela-sela masa pendidikannya di Nurul Iman, ia sempat mengambil kursus bahasa Belanda. Tamat dari Nurul Iman, Cik Mad diminta mengajar di almamaternya, tapi hanya berlangsung satu tahun.

Tahun 1937, ia mengajar ke Madrasah Al-Khairiyah, di Pasar Jambi, sekaligus sebagai wakil mudir (direktur). Pekerjaan ini pun tidak berlangsung sampai setahun karena ia mendapat tawaran untuk belajar di Madrasah Darul Ulum, Mekah. Ia masuk pendidikan setingkat Aliyah, yang diselesaikannya selama tiga tahun.

Setelah pulang ke Tanah Air, Cik Mad segera memperbaiki sistem pengajaran di Madrasah Al-Khairiyah. Madrasah ini menjadi lebih terbuka, dibandingkan dengan madrasah lainnya. Siswanya tidak harus memakai kain dan peci. Dalam pengajaran, Cik Mad tidak lagi hanya menekankan pada hafalan, tetapi juga diberikan syarah terhadap kitab-kitab yang dibaca. Untuk memperkuat kompetensi guru-guru madrasah, Cik Mad membentuk organisasi An-Nahdhatul Ishlahiyah pada tahun 1941. Organisasi ini melatih para guru madrasah dalam mengajar dan berdakwah. Anggotanya juga diajarkan membaca kitab-kitab kuning dan penguasaan hukum-hukum Islam. Setiap hari jumat diadakan pertemuan di Madrasah Al-Khairiyah.

Memasuki tahun 1940, Cik Mad semakin terkenal tidak hanya sebagai guru madrasah tetapi juga penggiat dakwah dan mengisi pengajian di sejumlah masjid. Ia dipercaya sebagai khatib jum’at di Majid Raya Magatsari. Masjid ini dikelola warga keturuna Arab. Masa itu, khutbah masih menggunakan Bahasa Arab. Tahun 1946, Muhammad memperkenalkan khutbah berbahasa Indonesia. Pada awalnya sempat menimbulkan kegaduhan di kalangan jamaah. Tetapi lambat-laun bisa diterima. Sosok Muhammad sebagai orang yang berilmu dan alim tersebar luas. Saat diperkenalkan diri, namanya disebut Muhammad Umar.

Tetapi nama tersebut lebih populer dipanggil “Mo”. Semenjak itu, di kalangan masyarakat dan bahkan kemudian juga di kalangan akademisi memanggilnya “Pak Mo”. Untuk penulisan nama secara lengkap sering ditulis HMO Bafadhal.

Cik Mad meemang dikenal sosok pemuda yang aktif dan kreatif. Ketika di Jakarta ia ikut kegiatan politik kepemudaan. Ia ikut menghadiri pertemuan kepemudaan yang menyuarakan perlawanan terhadap pemerintahan Kolonial Belanda. Pada tahun 1948 ia sempat terlibat dalam Partai Arab Indonesia, saat dipimpin oleh A.R Baswedan. Ia juga memelopori berdirinya cabang Partai Masyumi di Jambi, dan sempat aktif sebagai pengurusnya. Bahkan pada tahun 1960 sempat diangkat sebagai ketua untuk Provinsi Jambi, tetapi kemudian ia mengundurkan diri, karena ingin lebih fokus pada pengembangan pendidikan tinggi Islam di Jambi.

Setelah Indonesia merdeka, MO Bafadhal diangkat menjadi Kepala Kantor Agama untuk wilayah Jambi, yang berkedudukan di Bukit Tinggi, yaitu ibu kota Provinsi Sumatera Bagian Tengah. Dalam suatu musyawarah kepala-kepala kantor Agama yang berada di bawah naungan Sumatera Bagian Tengah, diputuskan perlunya mendirikan lembaga pendidikan tinggi pada masing-masing wilayah. Sebagai tindak lanjut dari musyawarah tersebut, HMO Bafadhal memprakarsai Kongres Alim-Ulam Jambi pada 5-8 Desember 1957.

Hasil kongres tersebut, di antaranya menyepakati pembentukan Majelis Ulama dan pembentukan Yayasan Pendidikan Islam (YPI) Jambi. YPI ini mempersiapkan pendirian perguruan tinggi di Jambi. Keberadaan pendidikan tinggi Islam di Jambi dirasa sangat mendesak, untuk menampung para tamatan madrasah-madrasah yang ingin melanjutkan pendidikan mereka ke tingkat yang lebih tinggi. Selama ini, tamatan madrasah di Jambi bila ingin melanjutkan pendidikan harus pergi ke Padang, Padang Panjang atau Bukit Tinggi.

Dalam waktu bersamaan di Jambi juga tengah terjadi gejolak untuk memisahkan diri dari Sumatera Bagian Tengah. Beberapa organisasai kepemudaan mengadakan kongres yang mendesak pemerintahan Sumtera Tengah maupun pusat agar menjadi Jambi sebagai provinsi sendiri. Aspirasi masyarakat akhirnya terkabulkan dengan keluarnya UU No. 19 tahun 1957. Berdirinya Provinsi Jambi, memberi jalan bagi YPI untuk mendirikan Perguruan Tinggi Al-Hikmah, dengan satu Fakultas Syari’ah, pada tahun 1963. Fakultas ini dipimpin langsung MO Bafadhal. Fakultas ini berhasil dinegerikan dengan cara digantungkan kepada IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Dari tahun 1964-1967, Fakultas Syari’ah Jambi dialihkan menjadi cabang dari IAIN Raden Fatah Palembang. MO Bafadhal ditunjuk sebagai wakil dekannya.

Bersamaan dengan itu, MO Bafadhal, bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi Jambi, tetap mengupayakan agar di Jambi berdiri sebuah IAIN. Maka pada 7 November 1965, Kementerian Agama RI membentuk Panitia Persiapan Pembukaan IAIN Jambi. Akhirnya, berdasarkan SK Menteri Agama RI No. 84 tahun 1967, berdirilah IAIN Sultan Thaha Saifuddin Jambi. Sampai tahun 1979, MO Bafadhal berulang kali merangkap jabatan sebagai Dekan Fakultas Syariah sekaligus Pembantu Rektor di IAIN STS Jambi. Dari tahun 1976-1978 ia ditunjuk sebagai pejabat rektor, dan akhirnya diangkat sebagai rektor selama dua periode dari tahun 1978-1982 dan 1982-1985.

Tahun 1980 MO Bafadhal diangkat sebagai Guru Besar dalam bidang Hadis. Banyak yang telah dilakukannya untuk memajukan IAIN STS Jambi, baik dalam pengembangan akademik maupun sumber daya manusia. Ketika ia mengawali jabatan rektor, jumlah dosen tetap baru 29 orang, dan jumlah mahasiswa 710 orang. Untuk memenuhi kebutuhan dosen, MO Bafadhal meminjam dosen-dosen dari IAIN Palembang, IAIN Padang, dan IAIN Jakarta untuk mengajar di Jambi. Tahun 1986, setahun setelah usai menjadi rektor, Prof. HMO Bafadhal wafat.***

Tentang Penulis

A.Suryana Sudrajat

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda