Cakrawala

Yang Runtuh, Yang Tumbuh

Makanlah saat lapar, dan berhentilah makan sebelum kamu kenyang. Ini hadits yang sangat populer, sangat dipahami tapi, seperti banyak hadits-hadits berisi panduan praktis kehidupan lainnya, sekaligus sangat jarang dipraktekkan oleh kalangan muslim sendiri.

Padahal hadits yang boleh disebut sebagai salah satu bentuk aplikasi praktis dari perintah ayat wakuluu wasyrabuu walaa tusrifuu innahu laa uhibbul musrifuun, makan dan minumlah tapi jangan berlebihan, karena Dia tak suka orang-orang yang berlebihan (QS 7:31) ini; bersamaan dengan panduan tentang apa saja yang ‘wajib-sunnah-mubah-thoyib’ masuk ke perut, pada dasarnya adalah panduan sapu jagat yang sempurna bagi kesehatan. Sebagian terbesar penyakit bermuara dari perut, dan sudah pasti itu berasal dari kualitas sekaligus kuantitas yang masuk ke dalamnya.

Di sisi lain, karena perintah untuk tidak berlebihan oleh Al Qur’an juga dipakai secara umum, dalam setiap sendi kehidupan; maka pada dasarnya setiap peradaban juga akan menemukan keseimbangan ‘kesehatan’ bila semua elemen pembentuknya tak berlebihan dalam laku. Baik sosial, politik, ekonomi, budaya, hukum, militer, sains, teknologi dan seterusnya. Sikap berlebihan di semua lini ini, bisa dipastikan akan melahirkan komplikasi penyakit di sekujur ‘tubuh’ peradaban; sejajar dengan potensinya melahirkan penyakit di jasad manusia.

Kalau alur nalar ini kita sepakati, maka kita bisa membaca kehadiran wabah corona virus atau Covid-19 ini sebagai sekadar faktor pemicu yang secara bersamaan dan dalam skala global memunculkan ke permukaan segenap komplikasi penyakit yang selama ini mendekam di ‘tubuh’ peradaban, tanpa sebagian besar kita sempat menyadarinya.

Gejala luruhnya kohesi sosial dan tergerusnya kemanusiaan; yang dari waktu-waktu tertimbun di bawah permukaan; sebenarnya sudah lebih dulu muncul ke permukaan saat teknologi komunikasi dengan gawai dan media sosial sebagai ujung tombaknya diperkenalkan. Tapi orang mengabaikannya.

Sistem ekonomi yang menghasilkan kelompok minoritas yang menguasai mayoritas sumber daya; sementara mayoritas penduduk dunia harus berebut minoritas sisanya. Berkali-kali gejalanya muncul ke permukaan; mulai dari kemiskinan, kelaparan, sampai dengan kerusuhan bahkan pemberontakan. Orang juga mengabaikannya.

Dominasi politik global dan turunan-turunannya, yang tak henti memproduksi kegaduhan dan bahkan peperangan; hegemoni nilai yang membuat suara-suara alternatif terdepak; eksploitasi alam yang menganggu keseimbangan ekosistem dst, dst. Gejalanya sudah berkali-kali muncul, dan terus diabaikan.

Kini, tak perlu ahli untuk melihat betapa virus ini secara bersamaan dan dengan telanjang mencolokkan ke mata kita komplikasi penyakit yang secara massif telah diproduksi peradaban tersebut. Komplikasi yang dengan gampang bisa kita sebut sebagai dampak sikap berlebih-lebihan yang ditunjukkan peradaban selama ini.

Secara individual, virus ini mempertegas keasingan sesama manusia dengan membuatnya bukan hanya terpisah, harus mengambil jarak secara fisik; tapi lebih jauh lagi, membuatnya untuk selalu waspada, kalau tidak boleh dibilang curiga, terhadap kehadiran orang lain. Tiba-tiba setiap orang seperti dipaksa untuk memosisikan yang lain sebagai ancaman laten bagi dirinya.

Secara sosial, ekonomi, politik; baik skala global maupun di mayoritas negara, ia mempertunjukkan betapa semua sistem yang semula dimaksud manusia untuk mempermudah dirinya, ternyata malah menyerimpungnya; yang dimaksud melindungi keberadaannya malah mengancamnya; yang dimaksud memuliakan dirinya justru menghinakannya.

Sains dan teknologi yang berkembang bukannya membuat orang semakin memahami dan ramah terhadap semesta; tapi malah mendorongnya lebih gila lagi memacu syahwat ekonomi dan ghadab politiknya. Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup (QS 96:6-7).

Kini semua dipaksa uzlah, bertapa; menarik diri dari apa pun yang sebelumnya menjadi panggung kehidupannya. Pertanyaannya: adakah ‘dokter’ yang tergerak dan mampu menangani komplikasi penyakit peradaban yang terlanjur akut ini dan menyelamatkannya dari keruntuhan? Atau malah semuanya malah sedang melempar handuk putih, membiarkan peradaban ini sekarat sambil menyiapkan panggung baru bagi syahwat dan ghadabnya? (*)

About the author

Anis Sholeh Ba'asyin

Budayawan, lahir di Pati, 6 Agustus 1959. Aktif menulis esai dan puisi sejak 1979. Tulisannya tersebar di koran maupun majalah, nasional maupun daerah. Ia aktif menulis tentang masalah-masalah agama, sosial, politik dan budaya. Di awal 1980an, esai-esainya juga banyak di muat di majalah Panji Masyarakat. Pada 1990-an sempat istirahat dari dunia penulisan dan suntuk nyantri pada KH. Abdullah Salam, seorang kiai sepuh di Kajen - Pati. Juga ke KH. Muslim Rifai Imampuro, Klaten. Sebelumnya 1980an mengaji pada KH. Muhammad Zuhri dan Ahmad Zuhri serta habib Achmad bin Abdurrahman Al Idrus, ahli tafsir yang tinggal di Kudus. Mulai 2001 kembali aktif menulis, baik puisi maupun esai sosial-budaya dan agama di berbagai media. Juga menjadi penulis kolom tetap di beberapa media. Sejak 2007 mendirikan dan memimpin Rumah Adab Indonesia Mulia, sebuah lembaga nirlaba yang bergerak di bidang pendidikan non formal, penelitian, advokasi dan pemberdayaan masyarakat. Karya lainnya, bersama kelompok musik Sampak GusUran meluncurkan album orkes puisi “Bersama Kita Gila”, disusul tahun 2001 meluncurkan album “Suluk Duka Cinta”. Sejak 2012, setiap pertengahan bulan memimpin lingkaran dialog agama dan kebudayaan dengan tajuk ”Ngaji NgAllah Suluk Maleman” di kediamannya Pati Jawa Tengah mengundang narasumber tokoh lokal maupun nasional.

Tinggalkan Komentar Anda