Mutiara

Dakwah Tanpa Kata Mbah Wali

Makam Mbah Hasan di Banyuwangi Jawa Timur kerap diziarahi pengunjung (foto :laduni.id)
A.Suryana Sudrajat
Ditulis oleh A.Suryana Sudrajat

Ulama asal Buntet,  Cirebon, ini tidak kembali ke pesantren yang diasuh ayah dan keluarga besarnya. Sebelum pindah ke Banyuwangi dan berdakwah dengan cara yang unik, dia sempat membuka pengajaran di daerah sekitar Cirebon sambil memelihara sapi.

Kiai Haji Hasan Basri atau Mbah Wali Hasan Basri adalah ulama asal Cirebon yang berdakwah di Banyuwangi  sampai akhir hayatnya. Tidak diketahui kapan dia datang di ujung timurPulau Jawa itu. Ia wafat pada 1953  ketika sedang melaksanakan salat dalam keadaan bersujud. Sampai sekarang, makamnya di Dusun Sumberkepuh, Desa Kedungwungu, Kecamatan Tegaldilimo, ramai dikunjungi para peziarah. Kiai karismatis dan pejuang kemerdekaan  ini memang dipercaya sebagai wali dan punya banyak karomah.

Ia  putra Kiai Abdul Mun’im, pengasuh Pondok Buntet Pesantren, Cirebon. Kiai Mun’im adalah  adik KH Abdul Jamil dan mertua KH Abbas yang notabene keponakannya sendiri. Kiai Abbas inilah yang kemudian meneruskan kepemimpinan Kiai Mun’im di Buntet Pesantren – dan bukan Kiai Hasan Basri.

Tidak diketahui kapan  Hasan lahir. Waktu kecil ia dipanggil Mas’ud, namun sepulang dari puluhan tahun belajar di Mekah. Tetapi kemudian ia lebih memilih tinggal di luar Buntet. Mungkin ia merasa di pesantren itu sudah banyak kiai, sementara ia  lebih banyak diperlukan di tempat lain. Yakni di Ciledug, kurang lebih 25 kilometer dari kampung halamannya itu. Di tempat inilah ia mengajarkan agama kepada penduduk setempat sambil beternak sapi. Ada puluhan sapi yang ia miliki. Konon sapi-sapi itu dibiarkan begitu saja, mencari makan sendiri. Anehnya, meski berkeliaran sapi-sapi Mbah Hasan itu tidak merusak tanaman orang. Beberapa tahun kemudian Mbah Hasan pergi. Entah ke mana. Tapi sebelum pergi ia sempat membagi-bagikan seluruh sapi-sapinya kepada masyarakat.

Suatu hari, Mbah Hasan, yang sebaya dengan sepupunya Kiai Abbas bin Kiai Abdul Jamil (wafat pada 1947 dalam  usia 60 tahun), muncul secara mengejutkan di Buntet. Beberapa  kiai sempat cemas dengan kedatangan Mbah Hasan. Sebab kedatangan dia dipercaya sebagai   pertanda akan ada musibah, bisa kematian kiai besar atau serangan Belanda, di Buntet. Ia pun mengunjungi beberapa kiai dan kerabat, di antaranya Kiai Anas bin Kiai Abdul Jamil kakak sepupunya. Kiai Anas merupakan muqaddam (guru besar) tarekat Tijaniyah dan orang  yang pertama kali mengenalkan tarekat ini di Indonesia.Konon, saat bertemu Kiai Anas minta oleh-oleh kepada Mbah Hasan, yang juga dkenal kiai shamut alias pendiam itu. Saking pendiamnya ia lebih banyak mengeluarkan kata enggih (ya) dan boten (tidak) kepada lawan bicaranya. “Kang Hasan, mana oleh-olehnya dari Banyuwangi?” begitu kira-kira kata Kiai Anas Namun Mbah Hasan tidak menjawab. Ia hanya tersenyum. Setelah berkali-kali Kiai Anas meminta, akhirnya dia  mengeluarkan bungkusan kain putih dari kantong bajunya seraya berbisik; “Jangan dibuka kecuali di depan anak-anak dan menantu.”

Setelah Kiai Hasan pamit, Kiai Anas membuka bungkusan tersebut. Ternyata berisi minyak wangi dan kapas. Ia pun lantas mafhum, dan berkata kepada orang-orang di sekitarnya: “Anak-anakku ketahuilah, Bapak sebentar lagi meninggal dunia.” Benar saja, beberapa minggu kemudian Kiai Anas pulang ke rahmatullah.

Menjelang wafat, Mbah Hasan berwasiat kepada murid satu-satunya yang merangkap khadim atau asisten, yaitu Kiai Khozin yang berasal dari Garut, Jawa Barat. Dia diperintahkan untuk menghubungi adiknya di Buntet  yang bernama Kiai Muhammad. Zen. Kiai Khozin yang bertahun-tahun berkhidmat kepada Mbah Hasan terheran-heran, ternyata Mbah Hasan berasal dari Buntet.

Menurut sumber tutur di masyarakat Sumberkepuh dan sekitarnya, cara dakwah Mbah Hasan terbilang unik. Hampir tanpa berkata-kata, apalagi ceramah. Tiap pagi hari selalu keliling kampung bersilaturahmi dengan masyarakat, mengunjungi rumah-rumah yang empunya belum mau masuk Islam atau berprofesi sebagai bajingan, perampok, penjahat dan semacamnya. Mbah Hasan mampir ke rumah-rumah mereka dan disambut hangat karena mereka tahu bahwa ia seorang yang mempunyai nilai lebih atau mungkin sakti. Mbah Hasan hanya duduk sebentar dan melakukan salat dhuha di rumah seorang dari mereka. Anehnya setiap Mbah Hasan mampir ke rumah salah seorang penduduk,  pada sore harinya mereka mendatangi Mbah Hasan untuk mengucapkan syahadat atau bertobat atau belajar salat atau praktek ibadah lainnya

Tentang Penulis

A.Suryana Sudrajat

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda