Cakrawala

Hatta dan Islam (6): Menafsir Pancasila

Written by Panji Masyarakat

Dalam soal agama,  Hatta tidak ingin mencari-cari alasan pemahamannya ke tingkat yang mungkin mempersoalkan kebenaran agama itu sendiri. Ia berpendapat bahwa agama (Islam) dimulai dengan percaya. Berbeda dengan  ilmu, yang dimulai dengan tidak percaya. Bagaimana tafsir Hatta tentang Pancasila?

Namun perlu dicatat bahwa sebenarnya di masa-masa selanjutnya Hatta tetap konsisten dalam bersikap dan menyuarakan pendapatnya agar ajaran Islam tetap tegak, termasuk dalam hubungan dengan pancasila. Dalam khutbah Idul Fitrinya di Bukitinggi pada 1947, ia benar-benar berbicara sebagai da’i yang profesional. Ia mengemukakan, didikan Islam yang bersifat “damai” mengajari kita “mengontrol hawa nafsu”, menahan perasaan “suci dan murni”, mengajari kita “sabar”, menegakan “kebenaran dan keadilan”. Dalam rangka ini ia menekan sekali tauhid (Kemahaesaan Tuhan); dan hanya kepada Tuhan manusia takut. Ia juga menekankan agar sejarah Nabi dijadikan pedoman.

Tentu saja Hatta tidak mengelakan soal penjajahan, yang menurutnya dicerminkan oleh “raja-raja” yang merusak negeri orang lain (QS al-Naml 34). Maka ia pun merujuk pada penjajahan Belanda dan Jepang di Indonesia dalam rangka ini; juga aksi militer pertama, Juli 1947.

Dalam khutbah ini Hatta menganjurkan orang yang bertawakkal, tetapi tetap berusaha memperbaiki diri sesuai (QS al-Ra’ad 11). Hatta juga merujuk ke beberapa pasal dalam UUD 1945 yang berkaitan dengan soala sosial. Akhirnya ia mengutip surat al-Insyirah yang ia terjemahkan dengan senandung khas:

Bukankah Kami telah melapangkan dadamu,

    Mengambil darimu beban

    Yang berat menaggung punggungmu?

    Dan meletakan engkau pada derajat yang tinggi?

    Sebab itu, nyatalah, sehabis susah datanglah senang,

    Nyatalah, sehabis susah datanglah senang.

    Sebab itu, apabila terlepas dari kesukaran, giatkanlah usahamu,

    Dan jadikanlah Tuhanmu wujudmu semata-mata.

Tentang Pancasila, dalam sebuah brosur khusus (terbit 1981, tetapi berasal dari pidatonya pada Juni 1977), ia lagi-lagi mengemukan bahwa sila petama, Ketuhanan Yang Maha Esa, sama dengan tauhid. Disamping itu ia juga berpendapat bahwa keempat sila lain –kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, kedaulatan rakyat, dan keadilan social — semuanya merupakan penjabaran sila pertama dalam sila atau bidang bersangkutan.

Mendampingi Bung Karno dalam peringatan HUT Republik Indonesia : Sila pertama menjiwai seluruh sila dalam Pancasila

Pemahaman Pancasila seperti itu juga menjadi pendapat Penitia Lima, yang dibentuk oleh presiden Soeharto pada 1975 untuk menyusun tafsiran tentang pancasila. panitia ini terdiri dari tokoh-tokoh pendiri Republik Indonesia, termasuk Hatta (ketua) Ahmad Soebardjo Djojoadisurdjo, Alex Andries Maramis (menteri keuangan pertama), Sunario (tokoh Partai Nasional Indonesia), dan Abdul Gafar Pringgodigdo, pernah rektor Universitas Airlangga dan mantan sekretaris negara. Sayang, tafsiran ini pula yang tidak dijalankan oleh Prisiden Soeharto.

Hatta juga pernah mengingatkan Presiden Soeharto pada 1973, ketika Rancangan Undang-Undang Perkawinan dibicarakan  di DPR, bahwa RUU tersebut berlawanan dengan keinginan umat Islam karena memang berlawanan dengan syariat Islam. Tidak ada gunanya menimbulkan pertikaian, katanya. Akibatnya domonstrasi ketika itu dilakukan para pelajar dan pemuda Islam, memperkuat tuntutan umat. Oleh sebab itu, ia menyarankan sangat kepada Presiden Soeharto agar tuntutan kalangan Islam diterima karena memang sudah lama dan biasa umat Islam terikat pada ajaran Islamnya dalam hal ini. Akhirnya memang pemerintah mengubah pendiriannya, RUU diganti dengan yang baru yang sesuai dengan keinginan umat Islam. Maka pembicaraan di DPR pun lancar saja. Undang-undang tersebut diundangkan pada Januari 1974.

Dalam soal agama, sebenarnya Hatta tidak ingin mencari-cari alasan pemahamannya ke tingkat yang mungkin mempersoalkan kebenaran agama itu sendiri. Ia berpendapat bahwa agama (Islam) dimulai dengan percaya. Ini, katanya, membedakan dari ilmu, yang dimulai dengan tidak percaya. Kebenaran ilmu bisa digugat, tetapi kebenaran pada agama merupakan “suatu kebenaran yang mutlak” (llmu dan Agama, 1974, diterbitkan 1980).

Ia mengemukan bahwa bagi Tuhqn tidak ada yang kaya atau miskin. Manusia bergantung pada amalnya; bila baik di dunia, baik pula nanti di akhirat. Maka kekayaan alam hendaknya membantu hidup manusia, sama-sama dinikmati manusia, bukan memberikan perbedaan yang kaya dan yang miskin. Dalam hal ini Hatta merujuk pada penampilan ibadah haji yang  tidak memperlihatkan perbedaan bagi semua peserta. Ia juga mengingatkan bahwa Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat hendaknya disertai dengan keadilan dan kemakmuran. Bersambung

Penulis: Prof. Dr. Deliar Noer; Sumber: Majalah Panjimas, 16-29 Oktober 2012. Semasa hidupnya Deliar Noer ( 1926-2008)  dikenal sebagai ilmuwan politik, guru besar dan rektor IKIP Jakarta (kini UNJ). Meraih gelar Ph.D. dari Cornell University (1963). Pada  awal reformasi penulis produktif ini mendirikan Partai Ummat Islam.  

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda