Cakrawala

Presiden-Presiden Terlucu

Donald Trump, Boris Johnson dan Vladimir Putin konon setelah meninggal, masuk ke neraka. Melihat ada telpon di pojok, mereka penasaran dan bertanya tentang kegunaannya. Untuk telpon ke bumi, jawab sang malaikat penjaga.

Putin kemudian menelpon ke Rusia, dan bicara selama 5 menit. Selesai telpon, dia ditarik biaya sebesar 1 juta dollar. Putin kemudian menulis cek pembayaran.

Setelah itu, gantian Johnson menelpon ke Inggris, dan bicara selama 30 menit. Selesai telpon, dia ditarik biaya sebesar 6 juta dollar. Johnson pun kemudian menulis cek pembayaran.

Terakhir, Trump menelpon ke Amerika dan bicara selama 4 jam. Selesai telpon, sang malaikat menagih biayanya sebesar 5 dollar.

Mendengar ini, Putin mencak-mencak: biaya Trump kok murah banget, cuma 5 dollar untuk 4 jam?

Dengan tersenyum sang malaikat menjawab, “sejak dia jadi Presiden, negerinya seperti neraka; jadi dihitung panggilan lokal.”

Sebenarnya ini anekdot lama, tampaknya didaur ulang oleh orang-orang Amerika yang ‘pecah kepala’nya oleh ulah Trump, yang mereka anggap sering melampaui ambang batas akal sehat; lebih-lebih terkait penanganan Covid-19.

Di satu sisi, anekdot semacam ini mampu menjadi kanal pelampiasan frustasi; di sisi lain, secara tidak langsung menambah kekebalan tubuh. Dengan tertawa kekebalan tubuh meningkat, dan sekaligus cara berpikir bisa kembali diseimbangkan.

Ada lagi daur ulang anekdot yang ditimpakan pada Donald Trump, dan banyak beredar.

Ceritanya: Donald Trum bertemu dengan Ratu Inggris, dan bertanya padanya: “Paduka, bagaimana cara anda menjalankan pemerintahan secara efisien? Adakah saran yang bisa Paduka berikan pada saya?”

“Tentu,” jawab Ratu Inggris, “yang paling utama adalah mengisi lingkaran terdekatmu dengan orang-orang yang cerdas!”

“Tapi bagaimana saya tahu bahwa lingkaran terdekat Paduka adalah orang yang benar-benar cerdas?” tanya Trump sambil mengerenyitkan kening.

“Oh itu gampang. Suruh mereka menjawab teka-teki yang cerdas!” jawab Ratu Inggris sambil menyeruput teh.

Ratu Inggris kemudian memencet tombol interkomnya, “bisakah kamu suruh Boris Johnson kemari sekarang?”

Boris Johnson segera masuk ke ruangan, “ya Paduka!” katanya.

Sang Ratu tersenyum dan bertanya “tolong jawab bila engkau mampu Boris. Bapak Ibumu punya anak. Dia bukan kakakmu atau adikmu. Siapakah dia?”

Tanpa sejenak pun jeda, Boris Johnson langsung menjawab, “itu pasti saya sendiri!”

“Bagus. Sangat bagus!” kata sang Ratu.

Trump pulang ke Amerika, dan langsung menanyakan pada Mike Pence, wakilnya, pertanyaan yang sama; “Mike, tolong jawab ini. Bapak Ibumu punya anak. Dia bukan kakak atau adikmu. Siapa dia?”

“Saya tidak yakin..” jawab Mike Pence, “saya akan coba cari jawabannya untuk anda!”

Mike kemudian menanyakan pada para panasehatnya, tapi tak seorang pun bisa menjawab. Malam berikutnya dia bertemu komedian Larry David di sebuah restoran.

“Larry, bisakah kamu jawab pertanyaan saya? Bapak Ibumu punya anak. Dia bukan kakak atau adikmu. Siapakah dia?” tanya Mike.

“Amat sangat mudah. Itu pasti saya!” jawab Larry.

“Terima kasih,” kata Mike sambil tersenyum.

Mike kemudian bergegas menemui Trump.

“Saya sudah melakukan penelitian, dan menemukan jawaban atas teka-teki anda: Dia adalah kawan saya, Larry David!”

Trump menggebrakkan kakinya ke lantai, dan dengan marah berteriak “Salah! Idiot kamu! Dia adalah Boris Johnson.”

Badai horor yang tercipta dan terus menerus disemburkan oleh Covid-19, membuat rakyat di banyak negara ketakutan. Mereka berharap agar negara dan pemerintah cepat melakukan tindakan yang terukur untuk mencegah atau setidaknya menghambat laju penyebarannya.

Bila negara atau pemerintah dianggap tidak sigap; hampir pasti hujan kritik, hujatan atau bahkan makian segera berhamburan di mana-mana. Sebuah artikel di The Conversation, pernah menyoroti tiga presiden, dan mungkin bisa juga ditambah satu Perdana Menteri, yang dianggap tidak tanggap, dan karena itu ikut berkontribusi terhadap kegagalan dunia menangani pandemi Covid-19 secara tepat.

Kesamaan ketiga presiden ini adalah: mereka naik ke tampuk kekuasaan dengan mengibarkan bendera populisme. Mereka juga dianggap sama-sama mempertunjukkan sikap ‘anti sains’ dalam menghadapi pandemi ini.

Yang pertama, sudah kita sebut di awal: Donald Trump, presiden Amerika Serikat. Yang kedua: Jair Bolsonaro, presiden Brazil. Yang ketiga: cari sendiri, tak usah dibahas karena rawan dipidanakan.

‘Kelucuan’ Donald Trump jelas terlihat dari awal. Sangat meremehkan ancaman Covid-19. Bahkan, bukan hanya saat corona virus mulai mewabah di Wuhan, China; tapi sejak Januari 2017 peringatan-peringatan akan munculnya pandemi sudah banyak disampaikan di Amerika. Baik oleh intelijen mau pun para ahli. 17 Mei 2017 majalah Time malah mengunggahnya sebagai laporan utama. Bill Gates mengutarakannya pada 27 April 2018.

Dan peringatan semacam terus disampaikan sampai Februari 2020; tapi dengan santai Trump pada 18 Maret malah mengatakan: “ini adalah hal yang sangat tidak terduga. Tidak ada yang tahu akan ada pandemi, dengan besaran seperti ini. Tak seorang pun akan pernah berpikir hal seperti ini bisa terjadi.” Dan bukannya menghadapi pendemi ini dengan langkah medis yang terukur, sebagai pemimpin pemerintahan Trump malah mengumumkan hari doa nasional pada 15 Maret 2020.

Alhasil, kelucuan yang diproduksi Trump memang seperti tak ada habisnya. Beberapa hari lalu dengan ‘lugu’ dan ‘lucu’ dia bahkan menolak dan mementahkan saran dari Anthony S. Fauci, direktur NIAID (National Institute of Allergy and Infectious Diseases), yang sebenarnya dia undang melakukan konferensi pres bersama untuk membahas pengobatan yang tepat terhadap Covid-19.

Sementara presiden lainnya, yakni presiden Brazil, Jair Bolsonaro, sejak awal menampik pendemi ini dengan terus menerus memobilisasi berita bohong dan misinformasi. Bolak-balik dengan lantang dia mengatakan bahwa Covid-19 hanyalah flu biasa; dan kalau virus tersebut mengenai dirinya, dia hanya akan sakit ringan karena latar belakangnya sebagai atlit.

Bolsonaro malah menuduh media telah membesar-besarkan beritanya, sebagai trik dan kampanye konyol untuk melengserkan dirinya. Dia juga menuding beberapa gubernur yang menerapkan kebijakan physical distancing, sebagai kebijakan yang membuat warga miskin dan kehilangan pekerjaan.

Sikap Bolsonaro yang menolak melakukan  physical distancing, apalagi lockdown; karena dianggap sebagai cara untuk melengserkan dirinya; akhirnya malah membuat organisasi-organisasi gangster di sana, di Rio de Janeiro misalnya, mengambil inisiatif sendiri untuk melakukan lockdown di wilayah kekuasannya masing-masing. Mungkin mirip dengan kampung-kampung di sini yang melakukan lockdown secara mandiri. Bedanya, para ganster ini menerapkan jam malam, membatasi aktivitas toko, menyebar poster tentang keharusan cuci tangan dll.

Alhasil, dari pada menurunkan kekebalan tubuh karena frustasi melihat ulah para presiden ini; lebih baik sedikit kita ubah sudut pandangnya, ke arah yang lebih santai: melihatnya tak lebih dari sekadar panggung komedi. Sehingga kita bisa tertawa lepas, dan dengan demikian kekebalan tubuh justru meningkat.

Bangsa kita sendiri terkenal kreatif dan selalu punya seribu satu cara untuk tertawa. Kita lebih memilih mendubbing doa untuk Trump dengan cara Islam, bahkan dengan suwuk berbahasa Jawa; ketimbang membuat konten lokal yang bisa berbuntut luar biasa panjang. Yang penting bisa melepas ketegangan.

Toh tak banyak yang bisa kita lakukan untuk mengubahnya. Yang bisa kita lakukan paling jauh hanyalah apa-apa yang ada dalam jangkuan kita; baik sebagai kepala keluarga, tokoh masyarakat, tenaga medis, aktivis, pelaku media dan seterusnya. Mungkin itu justru lebih produktif; tentu dengan tetap terus berharap: semoga Allah berkenan setidaknya sedikit saja melembutkan hati pasukan kepala batu.

Sebagai penutup, semoga daur ulang anekdot di bawah ini bisa meningkatkan kembali kekebalan tubuh di tengah guyuran informasi yang membuat frustasi.

Sebuah pesawat dengan lima penumpang mengalami kerusakan berat. Mereka adalah Donald Trump, Boris Johnson, Vladimir Putin, Angela Merkel dan seorang bocah berusia 10 tahun. Celakanya, di pesawat hanya tersedia 4 parasut.

“Saya butuh satu,” kata Trump, “saya orang tercerdas di Amerika dan saya membutuhkannya untuk menyelesaikan masalah di dunia.” Dia mengambil satu parasut dan langsung melompat dari pesawat.

“Saya butuh untuk menyelesaikan masalah Rusia dan sekutunya.” Putin mengambil satu parasut dan melompat.

“Saya butuh untuk menyelesaikan masalah Inggris.” Boris Johnson mengambil satu parasut dan melompat.

“Kamu bisa ambil parasut terakhir. Saya sudah cukup lama menjalani hidup, sementara kamu baru memulainya,” kata Angela Merkel pada bocah berusia sepuluh tahun.

Sang bocah dengan santai menjawab, “jangan kuatir, ini masih tersisa dua parasut kok. Orang paling cerdas se-Amerika mengambil tas sekolah saya!” (*)

About the author

Anis Sholeh Ba'asyin

Anis Sholeh Ba'asyin

Budayawan, lahir di Pati, 6 Agustus 1959. Aktif menulis esai dan puisi sejak 1979. Tulisannya tersebar di koran maupun majalah, nasional maupun daerah. Ia aktif menulis tentang masalah-masalah agama, sosial, politik dan budaya. Di awal 1980an, esai-esainya juga banyak di muat di majalah Panji Masyarakat. Pada 1990-an sempat istirahat dari dunia penulisan dan suntuk nyantri pada KH. Abdullah Salam, seorang kiai sepuh di Kajen - Pati. Juga ke KH. Muslim Rifai Imampuro, Klaten. Sebelumnya 1980an mengaji pada KH. Muhammad Zuhri dan Ahmad Zuhri serta habib Achmad bin Abdurrahman Al Idrus, ahli tafsir yang tinggal di Kudus. Mulai 2001 kembali aktif menulis, baik puisi maupun esai sosial-budaya dan agama di berbagai media. Juga menjadi penulis kolom tetap di beberapa media. Sejak 2007 mendirikan dan memimpin Rumah Adab Indonesia Mulia, sebuah lembaga nirlaba yang bergerak di bidang pendidikan non formal, penelitian, advokasi dan pemberdayaan masyarakat. Karya lainnya, bersama kelompok musik Sampak GusUran meluncurkan album orkes puisi “Bersama Kita Gila”, disusul tahun 2001 meluncurkan album “Suluk Duka Cinta”. Sejak 2012, setiap pertengahan bulan memimpin lingkaran dialog agama dan kebudayaan dengan tajuk ”Ngaji NgAllah Suluk Maleman” di kediamannya Pati Jawa Tengah mengundang narasumber tokoh lokal maupun nasional.

1 Comment

Tinggalkan Komentar Anda