Berbagi Cerita Corona

Waduh! Di Turki, Mahasiswa Indonesia Dikira dari China

Serial tulisan testimonial di panjimasyarakat.com ini didedikasikan untuk mendokumentasikan dan membagikan pengalaman baik dari berbagai tempat dan latar belakang penulis untuk saling menguatkan dalam menghadapi wabah Virus CORONA COVID-19.
Kami tunggu partisipasi Anda, kirim tulisan via WA 
0895616638283 atau email panjimasyarakat.com@gmail.com
–Pemimpin Redaksi

ESKISEHER, TURKI – Sebelum Virus Corona (Covid-19) menghampiri, Turki masih seperti biasa. Masyarakat beraktivitas, remaja berkumpul dan saling bercanda. Kami bisa menghirup udara bebas tanpa terhalang masker.

Semua aman, terkendali dan bahagia. Namun semua berubah setelah wabah itu melanda. Turki menjadi sepi. Warga panik. Mereka beranggapan orang-orang asing, khususnya keturunan Asia telah membawa virus ke negaranya. Kami mendapat perlakuan rasisme yang memilukan. Diam di rumah adalah solusi tepat saat ini hingga kondisi kembali pulih.

Saya Zetira, tinggal di Eskisehir, salah satu kota di wilayah Turki yang terkena pandemi. Meski kasus Corona di sini tak sebanyak Istanbul atau kota-kota lainnya, saya tetap merasa khawatir. Suatu hari saya dan teman-teman naik transportasi umum. Penumpang satu gerbong melirik ke arah kami sambil menutup hidung. Mereka kira, kami dari negara China yang membawa Corona. Beberapa dari kami ada yang diam saja dan menyimpan sakit di hati. Ada juga yang melawan karena merasa tidak nyaman. Perlakuan rasisme dari penduduk lokal Turki memang tidak terlalu berat, tapi lumayan membuat risih dan cemas.

Zetira Azzahra Rachmannisa

Bagi saya, Turki adalah tempat yang menarik dan unik. Negara ini terletak di dua benua, Asia dan Eropa. Mayoritas penduduk Turki beragama Islam. Destinasi wisatanya juga telah disorot dunia. Ada banyak sejarah konstatinopelnya. Saya yakin akan nyaman jika tinggal di sini. Apalagi Turki sangat ramah pelajar. Fasilitasnya baik dan biaya hidupnya terjangkau.

Sampai saat ini Turki selalu menjadi incaran pelajar Indonesia yang ingin kuliah ke luar negeri. Tapi siapa sangka Turki akan seperti ini? Saya sempat sedih dan kaget. Orang tua saya merasa khawatir dan sempat menyuruh saya pulang. Beberapa teman juga bernasib sama. Sayangnya, ketika hendak pulang, semua penerbangan di bandara sudah ditiadakan.

Kami hanya bisa pasrah dan berdiam diri di asrama. Kalau ada keperluan mendesak seperti keluar untuk membeli kebutuhan pokok, kami selalu menggunakan masker. Setelah itu mencuci tangan dengan cairan alkohol khusus tangan, karena hand sanitizer sudah langka. Untuk menghilangkan kejenuhan, saya dan teman-teman biasanya bermain game online, olahraga, dan memasak makanan khas Indonesia. Tentunya bersih-bersih asrama demi menjaga kesehatan bersama.

Meski saya sudah berada di Turki sejak 1 September 2019, saya belum kuliah. Untuk tahun pertama, diwajibkan belajar bahasa. Sekarang saya masih belajar bahasa Turki. Nanti kalau sudah selesai, saya akan memulai perkuliahan di Universitas Anadolu, untuk belajar ilmu psikologi dan bimbingan Konseling. Sejak wabah meluas, pemerintah mengeluarkan kebijakan untuk masyarakatnya tetap diam di rumah. Sehingga proses belajar mengajar dilakukan secara daring.

Universitas Anadolu, kampus Zetira belajar ilmu psikologi dan bimbingan Konseling

Jika melihat ke luar jendela, kota tampak lengang. Setiap hari masyarakat menghabiskan waktunya di rumah. Sementara itu, sebagian besar orang asing sudah pulang ke tempat asalnya. Setelah satu minggu masuknya virus corona, pemerintah menerbitkan tujuh poin yaitu perjalanan antar kota harus mendapat izin kantor Gubernur, sistem kerja yang fleksibel dengan personil minimum di sektor swasta dan di sektor publik dan pengaturan tempat duduk selang-seling di kendaraan transportasi umum.

Aturan lainnya, area piknik dan taman ditutup penuh pada akhir pekan dan dilarang berkumpul secara kolektif pada hari kerja. Kemudian, tentara juga akan mengikuti peraturan karantina selama 14 hari yang disesuaikan dengan kondisi, dan penerbangan internasional sepenuhnya dihentikan. Para Gubernur pun akan mengikuti langkah langkah di semua provinsi (khusus 30 kota besar) dan langkah langkah tambahan akan diambil jika perlu.

Menurut saya kebijakan tersebut sangat bagus. Selain mengurangi masyarakat beraktifitas di luar rumah, pemerintah Turki juga menginstruksikan petugas keamanan untuk datang ke rumah warga yang bertujuan mencatat kebutuhan warganya seperti kebutuhan pangan dan sebagainya. Petugas keamanan itulah yang membelanjakan kebutuhan para warganya.

Pemerintah juga menggratiskan biaya sewa asrama di beberapa rumah pelajar. Kebijakannya merata mulai dari pelajar hingga manula. Itulah yang membuat saya merasa salut sekali dengan pemerintah Turki. (*)

About the author

Zetira Azzahra Rachmannisa

Mahasiswa Psychological Counseling and Guidance, Anadolu
University Turkey. Alumni SMK Sahid Boarding School Bogor. Alumni SMPN 103 Jakarta.

1 Comment

  • Semangat trus buat zetira 😇😇 semoga allah selalu melindungi kmu dimana pun dan kapan pun, ,

Tinggalkan Komentar Anda