Tasawuf

Allah Kok Ditantang

Iqra’, iqra’, iqra’. Itu kuncinya! Membaca yang terang tertulis saja kalian acap gagal, apalagi membaca di balik yang tertulis. Padahal lebih banyak lagi yang justru tak tertulis…” gumam Pak Amal sambil menarik nafas dalam-dalam.

“Cuma membaca judul, atau potongan pendek berita; langsung mengambil kesimpulan. Lebih parah lagi, pembacaannya dibimbing dan diarahkan oleh prasangka dan pengetahuan yang sebelumnya telah menumpuk di pikiran. Bagi yang dianggap ahli saja, ini bisa menggelincirkan, apalagi bagi yang awam…!”

“Benar juga..” celetuk Lik Cecep, “ada orang dari desa saya yang datang ke kyai dan meminta saran karena usahanya mengalami kebangkrutan. Oleh pak kyai, dia disuruh banyak membaca istighfar setiap hari…”

“Terus?” sahut Giman penasaran.

“Sampai rumah dia langsung komat-kamit melafalkan istighfar-istighfar-istighfar…”

Kami semua tertawa mendengarnya.

“Maklum, dia ingin menjalankan ajaran agama, tapi bekalnya pas-pasan atau malah nihil…” sambung Lik Cecep sambil tertawa.

“Tak apa juga sebenarnya. Bukankah innamal a’malu binniyat? Amal itu dinilai menurut niatnya. Kalau niatnya benar berpegang pada Allah, maka itu yang akan dinilai dan mungkin dikabulkan Allah..” sahut Kang Sam.

“Ini baru jadi masalah kalau dia bersikukuh, ngotot, bahwa istighfar adalah melafalkan ucapan istighfar, bukan astaghfirullah atau astaghfirullahal adzim misalnya. Lebih parah lagi, dengan berbekal perintah yang didengar dari pak kyai, lantas dia salahkan semua yang mengucapkan astaghfirullah atau astaghfirullahal adzim…” sambung Kang Sam.

“Itu yang sekarang sangat mewarnai kehidupan kita…” sergah Lik Jum, “orang baru membaca beberapa potong ayat atau hadits; langsung menuding-nuding orang yang puluhan tahun mengkaji Al Qur’an, hadits dan kitab-kitab yang berkait dengannya…”

“Bisa jadi, mungkin memang seperti itulah yang sekarang banyak terjadi. Tapi, pada titik tertentu, pengambilan kesimpulan semacam ini juga bisa berbahaya lho…” sanggah Kang Sam.

“Maksudnya?” Lik Jum tampak penasaran.

“Masalah pokoknya bukan sedikit atau banyaknya pengetahuan, karena ada faktor yang lebih mendasar lagi, yakni kejernihan hati yang selalu terhubung dengan Allah. Coba pikir, kurang apanya Bal’am, penasehat spiritualnya Fir’aun. Dia bukan cuma menguasai ilmu-ilmu lahir, tapi sekaligus juga ilmu batin. Dalam kitab-kitab bahkan digambarkan: cukup dengan mendongak saja dia mampu memandang ‘arsy Allah. Tapi toh ketinggian dan keluasan pengetahuannya tak menyelamatkan dia dari neraka.”

“Atau, dari sisi lain, bukankah Al Qur’an pernah juga mengritik bani Israil dan ulamanya yang telah diberi Taurat, tapi tidak mengamalkannya dengan sebutan: seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal (QS 62:5). Tidak mengamalkan karena tidak masuk ke hatinya. Tidak masuk ke hati karena kekeruhannya sendiri. Keruh karena tidak terhubung secara terus menerus dengan Allah…”

“Bukankah di surat Fathir ayat 28, Al Qur’an justru menegaskan bahwa orang-orang yang segan, hormat atau takut pada Allah itulah yang sesungguhnya boleh disebut sebagai ulama? Jangan dibalik. Kalau dibalik bisa kacau pengertiannya. Orang yang segan, hormat atau takut pada Allah, pastilah alim. Sementara yang kita anggap ‘alim’ belum tentu segan, hormat atau takut pada Allah!”

“Terus? Ini arahnya kemana?” sahut Lik Cecep dengan tak sabar.

“Bukankah kitab-kitab sudah banyak memberi contoh orang yang sepertinya tak punya cukup ‘pengetahuan formal’ keagamaan, tapi berkedudukan dekat dengan Allah. Bukan cuma yang tak cukup punya ‘pengetahuan formal’, bahkan sering juga mereka yang dipandang hina oleh masyarakatnya.”

“Belum jelas juga…” gumam Giman kebingungan.

“Banyak dari kita yang salah kaprah memahami informasi agama sebagai pengetahuan atau ilmu atau bahkan sebagai agama itu sendiri. Ada jarak yang cukup jauh di antara keduanya. Dari sini, setidaknya untuk sementara bisa kita simpulkan bahwa banyak sedikitnya informasi, bukan dan tidak boleh menjadi satu-satunya ukuran. Masih ada banyak faktor lain yang harus juga diperhitungkan, sehingga tidak gegabah kita menilai siapa dan apa saja…”

“Nah, tepat di titik itulah kita bisa memetik salah satu pelajaran dari kasus merebaknya virus corona,” sambung Pak Amal, yang sedari tadi hanya mengamati kami berdebat.

“Apa itu Pak?” sela Giman.

“Bahwa informasi saja tidaklah cukup! Apalagi bila informasinya salah, sengaja dibuat salah atau hanya sepotong-sepotong. Itu bisa mencelakakan!” tandas Pak Amal.

“Bukankah semua silang sengkarut terkait corona virus sekarang ini hanya menegaskan apa yang sebenarnya sudah sekian lama ada di depan mata tanpa sempat kita menyadarinya?”

“Apa itu?” Giman sambil terbengong kembali mengulang pertanyaannya.

“Allah kok ditantang…” sahut kang Sam sambil tersenyum masam. (*)

About the author

Anis Sholeh Ba'asyin

Anis Sholeh Ba'asyin

Budayawan, lahir di Pati, 6 Agustus 1959. Aktif menulis esai dan puisi sejak 1979. Tulisannya tersebar di koran maupun majalah, nasional maupun daerah. Ia aktif menulis tentang masalah-masalah agama, sosial, politik dan budaya. Di awal 1980an, esai-esainya juga banyak di muat di majalah Panji Masyarakat. Pada 1990-an sempat istirahat dari dunia penulisan dan suntuk nyantri pada KH. Abdullah Salam, seorang kiai sepuh di Kajen - Pati. Juga ke KH. Muslim Rifai Imampuro, Klaten. Sebelumnya 1980an mengaji pada KH. Muhammad Zuhri dan Ahmad Zuhri serta habib Achmad bin Abdurrahman Al Idrus, ahli tafsir yang tinggal di Kudus. Mulai 2001 kembali aktif menulis, baik puisi maupun esai sosial-budaya dan agama di berbagai media. Juga menjadi penulis kolom tetap di beberapa media. Sejak 2007 mendirikan dan memimpin Rumah Adab Indonesia Mulia, sebuah lembaga nirlaba yang bergerak di bidang pendidikan non formal, penelitian, advokasi dan pemberdayaan masyarakat. Karya lainnya, bersama kelompok musik Sampak GusUran meluncurkan album orkes puisi “Bersama Kita Gila”, disusul tahun 2001 meluncurkan album “Suluk Duka Cinta”. Sejak 2012, setiap pertengahan bulan memimpin lingkaran dialog agama dan kebudayaan dengan tajuk ”Ngaji NgAllah Suluk Maleman” di kediamannya Pati Jawa Tengah mengundang narasumber tokoh lokal maupun nasional.

Tinggalkan Komentar Anda