Cakrawala

Hatta dan Islam (4): Satu Kata dengan Perbuatan

Written by Panji Masyarakat

Hatta menerima dengan lapang dada para pengeritiknya, seperti kalangan sosialis yang menolak hasil KMB yang telah susah payah ia upayakan. Tetapi ia tersengat ketika kalangan Islm menuduh orang yang berpendidikan Barat mulhid alias murtad.

Sikap tindakan Hatta umumnya sesuai dengan pendirian serta ucapannya. Quran mengingatkan dalam hubungan ini: “Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu katakan apa yang tidak kamu kerjakan. Amat besar kebencian Allah bila kamu katakan apa yang tidak kamu kerjakan.” (Q.S. Al-Shaff 2,3)

Tidak sombong, angkuh, tidak mubazir; tidak berbuat kerusakan di bumi. Berkata Quran tentang ini: “Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan bermegah-megah.” (al-Nisa’ 36, al-Nahl 23); “Sesungguhnya orang-oarang yang mubazzir itu kawannya syaithan (Q.S. al-Isra’ 27); “Jangan berbuat kerusakan.” (Q,S. al- Qashash 77); “Jangan berlebih-lebihan.” (Q.S. al-A’raf 31).

Bersama keluarga sebelum dibuang ke Digul (1938)

Musyawarah. Ia senatiasa berpegang pada sifat ini walaupun kekuasaan pada tanganya, seperti menjadi perdana menteri di kabinet masa revolusi. Ia menganjurkan kepada para anggota kabinetnya agar senantiasa langsung menghadapi Badan Pekerja KNIP yang di masa itu berfungsi sebagai parlemen, dan jangan mewakilkan kedudukan menteri tersebut dalam berhubungan dengan parlemen kepada sekretaris jenderal atau pejabat lain. Ia memang menghargai orang pada tempatnya. Berkata Quran: “Tentang urusan mereka, mereka bermusyawarah.” (Q.S. al-Syura 38); “Mereka bermusyawarah dalam urusan mereka” (Q.S. Ali Imran159).

Dalam rangka ini ia juga menghargai kalangan yang menolak hasil konferensi Meja Bundar 1949, walaupun ia sudah bersusah payah mencapainya. Kawan-kawan rapatnya dalam Partai Sosialis Indonesia menolak hasil KMB ini. Ia menerima penolakan itu dalam lapang dada. Lagi pun memang begitulah musyawarah dalam KNIP – menerima atau menolak.

Dengan melihat sikap-sikapnya ini, sebenarnya ia telah melakukan tablig dengan memberi contoh, bukan dengan kata-kata. Tetapi ia juga tersengat bila ada kalangan Islam yang mencela mereka yang berpendidikan Barat, yang dikatakan oleh orang bersangkutan menegakkan persatuan Indonesia tetapi memecah. Terpaksalah Hatta meluruskan pendapat yang pernah dimuat Adil 7 mei 1938 itu. Majalah ini diterbitkan di Solo oleh kalangan Muhamadiyah, dan pengarangnya pun seorang Muhaamadiyah dari Medan. Hatta menegur tulisan itu dengan mengingatkannya “Mesti sopan dalam Kritik” (Adil, Juni 1938).

Menunaikan shalat Ied di Jakarta

Memang penulis tersebut mempergunakan kata mulhid a la Barat (mulhid = murtad) bagi mereka yang berpendidikan Barat. Dan menuduh Si mulhid membawa sebagian kalangan Islam “ke lembah keinsafan impulsief, ialah keinsafan yang kosong bolong deras jalnnya berapi-api, tetapi lekas habis terbang ke cakrawala!”

Hatta mengingatkan bahwa sudah agak lama Islam mundur, di Indonesia jauh sebelum apa yang disebut si mulhid ada. Tentang ini Hatta merujuk pendapat seorang sastrawan Turki di zaman Sultan Abdul Hamid, Ziya Pasya yang “memasygulkan kemunduran masyarakat Islam dengan perkataan yang mengiris hati: Aku berkeliling dalam dunia orang kafir dan aku melihat di sana ada gedung dan Istana (sebagai tanda ilmu dan kultur); tatkala aku berjalan di seluruh tanah Islam, aku hanya melihat sendi-sendi yang runtuh.”

Hatta juga mengingatkan si penulis bahwa intelektuil di Indonesia yang berpendidikan Barat yang berada dalam pergerakan nasional lebih memilih “kesukaran yang bakal diterimanya kalau masuk dalam pergerakan sebagai hidup melarat, bui dan pembuangan” ketimbang “keuntungan, yang bisa didapatnya dengan pengetahuan dan ilmunya sebagai pangkat tinggi, kesenangan hidup dan pensiunan yang besar.”

Malah, mungkin Hatta menunjuk dirinya sendiri ketika ia katakan dalam tulisannya itu bahwa langkah perjuangan mereka yang dikritik si penulis tadi rasanya (nya= mereka yang berpendidikan Barat yang menyerbu ke pergerakan nasional) sebagai suruhan suatu suara Yang Maha Kuasa dalam dadanya atau sebagai iradat Ilahi Rabbi atas dirinya, yang tidak dapat ditimbangnya dengan urusan akal tentang berbahagia atau tidak. Di antaranya itu ada yang menolak jabatan baik yang ditawarkan pemerintah kepadanya. Ada yang mendasarkan langkahnya atas pengertian tentang agama Islam, yang dipahamkan sebagai suruhan menuntut keadilan yang setinggi-tingginya bagi masyarakat.

Di samping mengingatkan si pengeritik agar sopan dalam mengeritik, Hatta juga menyarankan agar mengetahui benar objek pembahasan terlebih dahulu. Bersambung.

Penulis: Prof. Dr. Deliar Noer; Sumber: Majalah Panjimas, 16-29 Oktober 2012. Semasa hidupnya Deliar Noer ( 1926-2008)  dikenal sebagai ilmuwan politik, guru besar dab rektor IKIP Jakarta (kini UNJ). Meraih gelar Ph.D. dari Cornell University (1963). Pada  awal reformasi penulis produktif ini mendirikan Partai Ummat Islam.

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda

Inspirasi Hari Ini

Foto

  • 23-april-19972-1024x566
  • hamka
  • Hamka
  • KH-Ali-Yafie-804x1024
  • Ali-Yafi1-1024x768
  • tabloid-panjimasyarakat