Mutiara

Kiai Jatira Sang Penanda

A.Suryana Sudrajat
Written by A.Suryana Sudrajat

Kiai Hasanuddin Jatira, pendiri pesantren Babakan Caringin,  Cirebon, berani melawan Belanda ketika pesantrennya akan digusur. Setelah melakukan perlawanan bersama rakyat ia pun dilumpuhkan. Ia menjadi tonggak bagi berdirinya sejumlah pesantren di Cirebon.

Kiai Hasanuddin Jatira adalah pendiri Pondok Pesantren Babakan,  Caringin, Cirebon, Jawa Barat. Ia lahir sekitar tahun 1715 di Pamijahan Kulon, Plumbon, Jawa Barat. Ia juga dikenal berbagai nama antara lain Kiai Hasan, Kiai Hasanuddin, Kiai Jatira, dan Kiai Qobul. Ia wafat pada 1815 dan dikuburkan di komplekas Maqbaroh Syekh KH. Abdul Latif Kajen, Pamijahan Wetan,   Plumbon, Cirebon. Kiai Abdul Latif adalah ayah Kiai Hasanuddin, keturunan ke-9 Syekh Abdul Muhyi dari Pamijahan Kulon (Tasikmalaya).

Leluhur Kiai Hasanuddin Jatira yaitu Kiai Nawawi merupakan tonggak bagi berdirinya sejumlah pondok pesantren di wilayah Cirebon paling barat, yang berbatasan dengan Kabupaten Majalengka. Di antaranya Pondok  Pesantren Babakan, Pondok Pesantren Panjalin, Pondok Pesantren Kempek, Pondok Pesantren Arjawinangun, Pesantren Winong, Pesantren Loatang Jaya, Pesantren Duku Mire, Pesantren Gintung, Pesantren Kedongdong, dan Pondok Pesantren Lebak Ciwaringin.

Ketika Kiai Jatira membangun pesantrennya, Babakan hanyalah sebuah  kampung kecil, yang jauh dari pusat keramaian. Namun kedamian di dusun  kecil ini terusik, ketika pemerintah kolonial Belanda akan membuat jalan Bandung-Cirebon yang melintasi kompleks Pesantren Babakan. Penguasa kolonial memerintahkan agar Kiai Jatira  pindah tempat karena pondok dan suraunya akan dibongkar untuk pembuatan jalan.

Perintah tersebut tidak dihiraukan oleh Kiai Jatira, bahkan disambut dengan tambahan beberapa bangunan baru. Setelah pemerintah mengetahui hal tersebut segera menyiapkan tentaranya untuk menangkap Kiai Jatira dan menghancurkan komplek pesantren. Sementara pembuatan jalan terus berjalan dengan cara memasang patok dan tanda-tanda lainnya. Kedatangan tentara kompeni Belanda ke komplek pesantren disambut oleh Kiai Jatira dan beberapa santrinya dengan perlawanan yang gigih. Siasat yang dilakukan oleh Kiai Jatira dan santrinya dengan cara gerilya. Lama kelamaan perlawanan yang dipimpin oleh Kiai Jatira kian membesar dan terbuka berkat keikutsertaan rakyat, terutama bagi mereka yang menolak kerja paksa yang diperintahkan kolonial Belanda.

Kemudian Kiai Jatira dan para pengikutnya  memindahkan patok dan tanda-tanda jalan lainnya sedemikian rupa sehingga pihak Belanda tidak mengetahui bahwa patok itu telah dipindah dari tempatnya. Karena ukuran dan posisinya masih tetap seperti semula (jembatan lama dan belokan di depan pabrik Tera Cotta). Patok-patok dan tanda jalan yang terbuat dari kayu jati itulah yang menjadi saksi sejarah, sehingga Kiai Hasanuddin, selain dijuluki pangeran Qobul juga mendapatkan julukan dan gelar dari penduduk desa dengan sebuta “Kiai Jatira”.

Setelah pemidahan patok-patok itu, Kiai Jatira menyusun rencana baru untuk melanjutkan perlawanan terhadap Belanda,  Ia pun mendapat bentuan dari Tubagus Serit dan Tubagus Rangin. Keduanya adalah jawara dari kesultanan Banten yang memimpin pemberontakan melawan Belanda. Akhirnya perlawanan Kiai Hasanuddin Jatira dapat dilumpuhkan oleh Belanda. Namun demikian, pengaruhnya terus meluas sampai ke daerah Sumedang, Karawang, Indramayu, Cirebon, Tegal dan Kuningan.

Kiai Hasanudin Jatira wafat pada tahun 1853 dalam usia sekitar 120 tahun. Pimpinan pesantrennya dilanjutkan oleh menantunya yang bernama Kiai Nawawi. Sampai sekarang Pondok Pesantren Babakan Ciwaringin masih eksis

About the author

A.Suryana Sudrajat

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda