Berbagi Cerita Corona

Keputusan Berat sang Kyai; Memulangkan Santrinya

Saeful Bahri
Written by Saeful Bahri

Serial tulisan testimonial di panjimasyarakat.com ini didedikasikan untuk mendokumentasikan dan membagikan pengalaman baik dari berbagai tempat dan latar belakang penulis untuk saling menguatkan dalam menghadapi wabah Virus CORONA COVID-19.
Kami tunggu partisipasi Anda, kirim tulisan via WA 
0895616638283 atau email panjimasyarakat.com@gmail.com
–Pemimpin Redaksi

TANGERANG, BANTEN – Nafisah dan Mutawali, harus memendam keinginannya pulang ke kampung halaman di Selangor, Malaysia. Keduanya adalah santri  di Pesantren Daar el Qolam, Tangerang, Banten. Kita tahu, Malaysia sedang mengunci negaranya sebagai strategi perang melawan Covid-19. 

Dilema akibat Corona terjadi dimana-mana. Tak terkecuali dengan pesantren. Di saat seluruh lembaga pendidikan di negeri ini serentak meliburkan murid-muridnya, pesantren satu-satunya yang masih menjalankan aktifitas belajar-mengajar. 

Pasalnya, tak mudah bagi pesantren memulangkan santri santrinya yang datang dari berbagai wilayah di tanah air. Bahkan yang berasal dari negara tetangga seperti Nafisah dan Mutawali.

Sejak keluar edaran semua serba di rumah, pesantren mengambil cara isolasi diri. Menutup pintu kunjungan orang tua santri. Meniadakan perizinan pulang, dan memperketat keluar masuk guru dari dan ke lingkungan pesantren.  Bahkan santri yang kebetulan sedang berada di rumah ketika wabah ini melanda, tidak diperkenankan kembali ke pesantren sampai situasi normal kembali. Begitu bunyi surat edaran beberapa pimpinan pesantren yang beredar di media sosial.

Yang Saya ketahui, hanya pesantren Darunnajah Jakarta yang langsung bereaksi memulangkan santri santrinya. Menurut salah seorang guru di pesantren itu yang saya hubungi, kebijakan ini terpaksa ditempuh. Sebab Darunnajah berada di episentrum penyebaran wabah. Ada murid sekolah dasar di pesantren itu yang pergi pulang. Masjid mereka terbuka untuk umum, dan 30 % guru tinggal di luar pesantren.

Berbeda dengan pesantren lain yang tetap menjalankan rutinitasnya. Mereka berharap 14 hari masa pembatasan sosial bisa berjalan efektif dan situasi akan normal kembali. Tapi ternyata situasi malah memburuk. Perilaku masyarakat dan desakan situasi yang menyebabkan 14 hari tak memiliki arti. 

Dilema semakin menjadi-jadi. Pesantren bagai mengayuh di antara dua karang. Maju kena mundur kena. Meskipun ada pengetatan kunjungan, tetap saja ada celah keluar masuk lingkungan pesantren, terutama pemenuhan logistik santri yang harus tersedia setiap hari.

foto ilustrasi

Dua hal yang berat dilakoni pesantren yang punya santri ratusan sampai ribuan adalah menjaga keselamatan dan kesehatan mereka. Satu tertular ribuan lain bisa terpapar. 

Kedua, Logistik santri yang mulai sulit dicari. Belum lagi dampak pendapatan orang tua santri. Dua pekan saja social distancing digaungkan,  pendapatan masyarakat berkurang bahkan sampai hilang. Hal ini berdampak pada kewajiban orang tua menafkahi anaknya di pesantren.

Jika bertahan, sampai kapan? Jika dipulangkan, bagaimana caranya di saat situasi bertambah pelik? Sementara beberapa daerah mengunci wilayahnya. Sampai pada struktur terkecil di tingkat RT RW memperketat keluar masuk warganya.

Keduanya sama sama berat:  keselamatan dan pemenuhan logistik sama sama penting. Tak mudah rumah besar ini memenuhi keduanya.  

Bagi orang tua, anak anaknya lebih baik di pesantren. Lebih aman dan terjamin. Tapi mereka juga harus memastikan bagaimana cara pesantren menjaga anak anaknya. Jika celah terbuka lebar, mereka memilih membawa anak anaknya pulang.

Para kyai harus berpikir keras menghadapi dilema ini. Terjebak pada dua situasi yang sama-sama mudarat. Akhirnya memutuskan pilihan pada yang lebih ringan risikonya: memulangkan santri.

Tapi masalah tak selesai sampai di sini. Aparat sekitar pesantren tak tinggal diam. Mereka sebenarnya tidak setuju santri dipulangkan. Karena akan memunculkan keramaian dan kerumunan akibat kedatangan orang tua santri menjemput anaknya. 

Dari Camat, Polsek sampai Koramil tidak ingin wilayah teritorialnya yang masih bersih terpapar pihak luar. Tapi mereka juga tidak bisa mencegah kehendak pesantren memulangkan santri santrinya. Kerjasama antara kedua belah pihak dibutuhkan agar tidak terjadi hal hal yang tidak diinginkan. 

Mobil jemputan santri pun harus disemprot cairan disinfektan. (foto: dok pribadi)

Drama perpulangan pun terjadi. Dari opsi mengantar santri pada titik tertentu lalu dijemput orang tuanya, sampai opsi dijemput langsung orang tua ke pesantren. 

Tak ada solusi untuk opsi pertama. Pasalnya, tidak ada daerah yang mau menampung. Belum lagi asal daerah santri yang beragam. Akhirnya pesantren mengambil opsi kedua. Orang tua menjemput langsung dan tidak diperkenankan turun dari kendaraan. Take and Go.

Dalam kasus pesantren Daar El Qolam dan La Tansa, dengan jumlah santri ribuan orang. Tak bisa memulangkan santri dalam waktu sehari. Akhirnya dibuat opsi perpulangan secara bertahap.  Pola Take and Go ini berlangsung sampai dini hari. Kendaraan yang masuk gerbang pesantren tak luput dari semprotan cairan disinpektan. 

Untuk memudahkan jemputan, santri dikumpulkan pada satu titik. Kendaraan orang tua wajib menempelkan identitas anaknya di kaca depan. Pengeras suara disiapkan, sesaat mobil melintas titik kumpul, petugas langsung memanggil nama anak. Tak sampai 1 menit kendaraan langsung melaju keluar pesantren.

Kini beberapa pesantren sudah lega nafasnya. Tanggung jawab menjaga santri beralih kepada kedua orangtuanya.  Meski masih ada pesantren yang tetap bertahan, meliburkan santri sesuai kalender pendidikan yang telah ditetapkan. 

Semoga situasi segera berubah lebih baik. Pesantren harus ekstra keras menjaga mereka. Memberikan pemahaman tentang kebersihan dan menjaga jarak. Karena pesantren adalah kerumunan yang saat ini tidak diharapkan wujudnya. (*)

About the author

Saeful Bahri

Saeful Bahri

Alumni dan guru Pondok Pesantren Daar el Qolam, Tangerang, Banten. Pernah belajar di UIN Sultan Maulana Hasanudin Banten, Universitas Indonesia, dan Universiti Kebangsaan Malaysia. Selain mengajar di almamernya, ia juga menulis beberapa buku di antaranya Lost in Pesantren (2017), 7 Jurus Betah di Pesantren (2019), yang diterbitkan Penerbit Republika Jakarta.

3 Comments

  • Sangat dilema tp diputuskan dengan rafih dan kebijaksana. Tulisan ini sedikit banyaknya menggambarkan wabah corona tak terkecuali pesantrenpun menghadapi wabah ini.

    Keuren tulisannya. Mabruk alaika alfa mabruk KH Syaiful Bahri

  • Tulisan yg hebat cukup untuk menggambarkan bagaimana perjuangan Pesantren dan para Kyai melindungi para santrinya dari wabah covid 19 meskipun pada akhirnya kita sebagai makhluknya hanya harus pada qadha dan qadar-Nya. Teimakasih akhiina fillah Ust. Syaiful Bahri

Tinggalkan Komentar Anda

Inspirasi Hari Ini

Foto

  • Hamka
  • Ali-Yafi1-1024x768
  • KH-Ali-Yafie-804x1024
  • hamka
  • tabloid-panjimasyarakat
  • 23-april-19972-1024x566