Cakrawala

Hatta dan Islam (3): Selalu Menjaga Ajaran Agama

Written by Panji Masyarakat

Dengan Ibadah dan akhlak nya, dengan sengaja atau tidak, Hatta memberi contoh kepada manusia lain atau masyarakat pada umumnya bagaimana tanggung jawab seorang Muslim. Hubungannya dengan Allah tadi benar-benar berpengaruh pada hubungan sesama manusia.

Ada dua hal yang terkait salam kehidupan dan perjalanan hidup Hatta dengan Islam dan ajarannya. Pertama, ajaran Islam bagi pribadi dalam hubungan dengan Allah; biasa dikatakan hablun minallah. Kedua, ajaran Islam bagi pribadi dalam hubungan dengan manusia lain dan masyarakat – hablun min annas.Yang kedua ini terbagi dua lagi: soal kehidupan dalam memandang masyarakat, dan soal ajaran dalam hubungan dengan manusia tetapi yang lebih bersifat abstrak.

Dalam hal yang pertama, telah kita singgung soal ibadah dan perilaku atau akhlaknya. Dengan sengaja atau tidak, ia sebenarnya memberi contoh kepada manusia lain atau masyarakat pada umumnya bagaimana tanggung jawab seorang Muslim. Hubungannya dengan Allah tadi benar-benar berpengaruh pada hubungan sesama manusia.

Saya teringat akan seruan para mubalig atau da’i sampai kini bila memperingati maulid Nabi s.a.w. Mubalig atau da’i mengemukan empat sifat Nabi yang perlu kita tiru. Yakni: siddiq, amanah, tabligh, dan fathanah. Keempat seruan inilah yang yang dilakukan Hatta. Siddiq berati benar, lurus, baik terhadap diri sendiri maupun orang lain. Hatta memang bersifat lurus di masa hidupnya. Kalaupun ada kekurangannya, itu memang bagian dari sifat manusia, hal yang tidak mungkin ia elakkan sepenuhnya.

Amanah artinya dipercaya, Kata amin (dipercaya) terkait di sini. Kita tentu masih ingat bahwa di masa mudanya, ketika belum menjadi nabi, Muhammad diberi gelar Al-Amin (Yang Dipercaya) karena kelurusannya. Demikian pulalah   kira-kira sifat Hatta. Ia lurus, dan kepercayaan yang yang diberikan — seperti terlihat dalam memegang jabatan — ia tunaikan dengan penuh tanggung jawab yang dipercayakan kepadanya. Benar-benar dalam hubungan ini ia melaksanakan apa yang dikemukakan dalam Alquaran: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah menghianati Allah dan Rasul, (jangan) menghianati amanah-amanahmu….. “(Q. Al-Anfal:  27). Sebuah hadis mengatakan, “Tiap-tiap kamu adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan ditanyai tentang kepemimpinannya itu.”

Sifatnya ketiga adalah tabligh – menyampaikan. Nabi s.a.w. memang menyampaikan kepada umatnya apa saja yang patut disampaikan, dengan maksud supaya umat juga dapat memperbaiki keadaan serta prilakunya. Menyampaikan ini tentu akan lebih efektif bila si penyampai juga memberi contoh. Sebuah hadis juga menyebutkan: “Sampaikanlah apa yang dariku walau sekalimat pun.” Hatta juga bersifat demikian. Menyampaikan yang baik agar diperhatikan siapa pun yang mendengar pidatonya dan membaca tulisannya.

Sifat keempat fathanah, mengemukakan perlunya pengetahuan yang harus senatiasa dipupuk dan ditambah. Ini juga berkaitan dengan perlunya pencerdasan diri. Maka nilai dan kegiatan ini memang sesuai dengan apa yang disebut hadis: “Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim dan muslimat.” Atau hadis lain: ” Tuntutlah ilmu walau sampai ke negeri Cina”, dan “Menuntut ilmu itu bagi muslim dimulai dari buaian sampai liang kubur.”

Hadis-hadis itu menyebut perlunya menuntut ilmu selama hidup, dan ke negeri mana pun. Tentu dengan syarat yang harus dipenuhi: menjaga ajaran Islam pada dirinya, dimana pun dan kapan pun. Hatta memang sudah memperlihatkan hal ini di masa kecil sampai melakukan menunaikan tugasnya di tengah masyarakat dan lingkungan pemerintahan; malah boleh dikatakan sampai akhir hayatnya. Hatta tidak henti-henti membaca – berarti menambah ilmu, dan ia tuangkan kepandainya itu dalam bentuk tulisan sebagai cara menyampaikan kepada khalayak ramai.

Maka berentetlah sifat yang dituntut ajaran Islam pada diri seoramg muslim yang dapat ditegakan Hatta pada dirinya. Antara lain: istiqamah, teguh pendirian, tentu dalam kebenaran. Pembuangan dirinya oleh Belanda di tahun 1930-an tidak mengubah niat dan pendiriannya. Juga sesudah itu. Diberitakan bahwa ia akan dibunuh di zaman Jepang, karena dinilai anti-Jepang. Ketika tahun 1943 ia bersama Soekarno dan Ki Bagus Hadikusumo ke Jepang, dimakhsudkan ia akan ditahan sekurang-kurangnya selama enam bulan di Jepang untuk brainwashing, pencucian otak, dengan mengenal Nippon Seishin, semangat Nippon. Hanya nasibnya saja yang menyelamatkannya. Ia tidak jadi ditahan karena ia menerima bintang kehormatan dari Kaisar Jepang. Kemudian ia terus saja dengan pemikiranya yang lugu dan tidak berubah.

Ia juga termasuk dalam ratusan orang yang di zaman sesudah Gestapu akan dibunuh pihak komunis, namun tetap saja melanjutkan pemikirannya yang “lugu” tadi dan menyebarkannya ke tengah masyarakat. Sikap hidupnya seperti ini sejalan dengan yang dikemukakan dalam dalam Quran, surat  Fushilat (41):30 “Sesungguhnya orang-orang yang berkata “Tuhan kami ialah Allah”, kemudian berpegang teguh padanya, akan turun para malaikat kepada mereka (mengatakan): “Janganlah takut, jangan sedih, dan bergembiralah dengan surga yang dijanjikan kepada kamu.” Bersambung

Penulis: Prof. Dr. Deliar Noer; Sumber: Majalah Panjimas, 16-29 Oktober 2012. Semasa hidupnya Deliar Noer ( 1926-2008)  dikenal sebagai ilmuwan politik, guru besar dan rektor IKIP Jakarta (kini UNJ). Meraih gelar Ph.D. dari Cornell University (1963). Pada  awal reformasi penulis produktif ini mendirikan Partai Ummat Islam.

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda