Cakrawala

Hatta dan Islam (2): Tarikan Kehidupan Dunia

Written by Panji Masyarakat

Hatta sangat memperhatikan agar kekuasaan tidak menyebebkan ia berbuat korup. Ia hanya  ingin berjalan lurus. Juga dalam urusan wanita. Meskipun tidak bisa mencukupi hidupnya dari uang pensiun, Hatta menolak pelbagai tawaran dari perusahaan swasta yang menginginkannya jadi komisaris.   

Kehidupan dunia pada umumnya bukan tidak menarik Hatta, tetapi ia meletakan sendiri batas-batas yang harus ia jaga. Duduk di kafe di Negeri Belanda bersama kawan-kawannya ia ikuti juga, tetapi tidak sampai larut malam yang tidak  menetu. Ia juga pergi dengan kawan-kawannya di Negeri Belanda menonton opera, film pertunjukan musik — hal yang kadang-kadang ia lakukan dengan istri di alam Indonesia merdeka. Tetapi ia tidak berdansa, malah seperti dikatakan di atas ia tidak melenso di Maluku. Ia menikmati kesenian tanpa harus larut di dalamnya.

Makanan dan minuman yang haram pun ia jaga. Malah, yang sebenarnya sangat ia perhatikan adalah agar kekuasaan tidak menyebabkan ia jatuh pada perbuatan korup. Termasuk dalam rangka ini kemegahan (ia tidak suka bila penyambutan terhadapnya di daerah-daerah dilakukan secara berlebihan), menilai harta (ia tidak korup, tidak pula mencari kesempatan untuk memperkaya diri), dan wanita (seperti dikatakan, ia sangat menjaga hal ini, baik sebelum maupun  setelah berumah tangga). Kita menyadari betapa banyaknya penguasa korup dalam berkuasa. Hal-hal ini sebenarnya bisa saja dilakukan Hatta, bila ia mau, tetapi ini pula yang dijaganya. Ia memang ingin berjalan lurus saja.

Dalam hal harta, ia senantiasa mengganggap bahwa ia harus membatasi diri, baik dalam memperolehnya maupun dalam menggunakannya. Baginya harta yang diperoleh hendaklah sejalan dengan cita-citanya. Harta hendaklah tidak berseberangan dengan cita-cita.

Maka setelah ia kembali dari  Negeri Belanda, dan kepadanya ditawarkan Pemerintah Hindia Belanda untuk bekerja di Departemen Perekonomian di Jakarta, dengan gaji f500 sebulan, serta merta ia menolaknya. Bekerja dengan pemerintah Hindia Belanda berati melepaskan cita-citanya hendak memerdekakan Indonesia. Gaji besar tidak menggiurkan sama sekali.

Malah yang sebenarnya pun bisa ia terima dengan halal, dan tidak bertentangan dengan cita-citanya langsung, tidak selalu ia lakukan karena ia tidak mau diistimewakan. Uang yang ada di tangannya pun tidak mau ia pergunakan bila tidak sesuai dengan maksud uang tersebut. Ketika sekitar tahun 1951 ia wakil presiden, ia mulanya menolak kenaikan gajinya (dari Rp 3000 menjadi Rp 5000 sebulan), dengan alasan gajinya sudah cukup, apalagi disertai berbagai macam fasilitas. Akhirnya ia terima juga kenaikan gaji karena, kalau tidak, pemerintah akan sukar menentukan gaji perdana menteri.

Desember 1956, ketika ia berhenti sebagai wakil presiden, ia juga menyuruh sekretaris l yang ia terima sebagai wakil presiden ke kas negara. Alasannya semata-mata karena ia sudah berhenti, ia merasa tidak berhak lagi. Bung Wangsa mulanya berusaha agar Hatta membatalkan suruhannya itu, karena uang taktis tidak perlu di pertanggungjawabkan, jadi bisa saja terus dipergunakan sesuai dengan maksud dana taktis semula. Hatta dengan tegas menjawab bahwa uang tersebut bukan haknya lagi, karena ia sudah berhenti sebagai wakil presiden. Terpaksalah Bung Wangsa mengembalikan ke kas negara.

Dalam hubungan dengan uang ini, Hatta setelah berhenti sebagai wakil presiden menerima sejumlah pensiun, yang kian lama kian tidak memadai untuk hidupnya bersama isteri dan tiga orang anaknya. Akhirnya (dan ini mulai dari tahun 1960) uang pensiunnya pun tidak lagi cukup. Maka dalam surat-suratnya mengenai itu ia meminta perhatian pemerintah, apalagi uang pembayaran listrik dan air minum pun meningkat sehingga tidak lagi terbayar.

Sebenarnya hal-hal seperti itu tidak perlu ia keluhkan, sekiranya setelah berhenti sebagai wakil presiden ia menerima tawaran dari berbagai perusahaan besar, termasuk perusahaan asing, agar mau menerima kedudukan sebagai komisaris perusahaan tersebut. Tetapi berbeda dari banyak bekas pejabat (seperti menteri atau lainnya), tawaran ini ditolak dengan bertanya: “Apa kata rakyat nanti?” – suatu pertanyaan yang mengundang makna yang sangat dalam. Ia berpegang teguh pada pendirian semula bahwa perjuangan menegakan kemerdekaan, mengusahakan masyarakat adil, makmur, dan sejahtera, harus senantiasa memperhatikan rakyat banyak, bukan mencari kedudukan dan kesejahteraan diri dan keluarga.

Gajinya memang besar, sangat besar, bila ia menerima jabatan komisaris pada berbagai perusahaan tersebut. Tetapi hatinya menolak, karena mengganggap penerimaan berarti penyimpangan cita-cita semula. Sebagai komisaris tentu ia diharapkan akan dapat menjaga kepentingan dan perusahaan, memberi saran-saran yang akan menguntungkan perusahaan, dengan otomatis memperoleh laba yang meningkat.

Hatta coba mengingatkan pemerintah, termasuk Presiden Soekarno dan beberapa menteri.  Mengingatkan seperti ini ia lakukan juga di zaman Soeharto. Ia pernah memanggil menteri yang ia anggap kadernya dahulu untuk mengingatkan hal ini. Namun suaranya tidak didengar, dan surat-suratnya tidak berbalas. Ia tambah sepi, dan praktis ia juga tambah miskin. Namun ia tabah, sangat tabah.”

Tetapi sebaliknya ia khawatir kalau-kalau —  paling menyengsarakan rakyat — orang menilainya sebagai sosok dengan perilaku yang akhirnya toh akan melupakan perjuangan untuk kepentingan nasib rakyat. Perbedaan hidup komisaris perusahaan dengan semata-mata pensiunan wakil presiden tentulah besar. Ia khawatir rakyat akan kecewa dengan pilihannya kalau menjadi komisaris perusahaan, dan akan menilai Hatta sama saja dengan orang lain.

Bung Hatta dengan teman-teman nya di Perhimpunan Indonesia Baru di Belanda

Walaupun demikian ia tidak mengeluh amat. Keluhannya dan kritikannya lebih banyak mengenai kesejahteraan hidup rakyat banyak yang tidak pernah terwujud. Tentulah ini berkaitan dengan kebijaksanaan pemerintah yang ia kritik; ia coba mengingatkan pemerintah, termasuk Presiden Soekarno dan beberapa menteri dalam hubungan ini. Mengingatkan seperti ini ia lakukan juga di zaman Soeharto. Ia pernah memanggil menteri yang ia anggap kadernya dahulu untuk mengingatkan hal ini. Pada tahun 1950-an ia praktis tiap minggu mangadakan pertemuan dengan dua kelompok, antara laim dengan mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Namun suaranya tidak didengar, dan surat-suratnya tidak berbalas. Ia tambah sepi, dan praktis ia juga tambah miskin. Namun ia tabah, sangat tabah.
Untunglah ada juga kawan-kawannya juga mengingatkannya dalam hal keadaan pensiunnya yang tidak mencukupi itu. Tetapi sekali-sekali terbit juga rasa malunya menerima bantuan kawan-kawanya. Padahal ia sudah berusaha hidup sesederhana mungkin, dengan mengurangi keperluan yang biasanya di kecap orang yang berpendidikan dan pernah mempunyai jabatan tinggi seperti dia. Tetapi rasa berserah dirinya kepada Allah, dengan kata lain ajaran Islamnya, lebih diutamakannya untuk dilaksanakan. Bersambung

Penulis: Prof. Dr. Deliar Noer; Sumber: Majalah Panjimas, 16-29 Oktober 2012. Semasa hidupnya Deliar Noer ( 1926-2008)  dikenal sebagai ilmuwan politik, guru besar dan rektor IKIP Jakarta (kini UNJ). Meraih gelar Ph.D. dari Cornell University (1963). Pada  awal reformasi penulis produktif ini mendirikan Partai Ummat Islam.  

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda