Berbagi Cerita Corona

Di Amerika, Indomie Ludes hingga Bule Borong Beras

Gema Gempita
Written by Gema Gempita

Serial tulisan testimonial di panjimasyarakat.com ini didedikasikan untuk mendokumentasikan dan membagikan pengalaman baik dari berbagai tempat dan latar belakang penulis untuk saling menguatkan dalam menghadapi wabah Virus CORONA COVID-19.
Kami tunggu partisipasi Anda, kirim tulisan via WA 
0895616638283 atau email panjimasyarakat.com@gmail.com
–Pemimpin Redaksi

BUFFALO, AMERIKA SERIKAT – Satu bulan lalu, Amerika masih berjalan seperti biasa. Warga masih bekerja dan berkegiatan di luar rumah. Kampus-kampus dan sekolah-sekolah masih buka. Semua bandara masih open flight. Tanggal 6-8 Maret 2020, saya masih sempat traveling ke Boston. Sepupu saya dari Indonesia datang ke sini, transit di Hongkong dan masih diterbangkan ke Amerika.

Semua tampak normal-normal saja, seperti tidak terjadi apa-apa. Meski sejak Februari sudah ada kasus positif Corona di Seattle. Di state lain belum parah, kasusnya baru 1 atau 2. Tapi di Minggu pertama Maret, kasus mulai banyak di mana-mana. Awalnya cancel class hanya di Seattle, kemudian di state lain memberlakukan kebijakan yang sama.

Tepatnya 16 Maret, semua kampus melakukan online class. Tapi gedung-gedung masih buka. Laboratorium masih buka. Karena kalau mau riset, harus ke laboratorium setiap hari. Seminggu kemudian, di New York State kasusnya makin banyak. Langsung semua gedung ditutup. Tidak ada akses ke kampus. Teman-teman yang harusnya lulus bulan Mei ini, jadi terkendala. Mereka tidak bisa riset.

Sekarang Amerika Serikat menjadi negara dengan kasus virus Corona (Covid-19) tertinggi di dunia. Ya wajar saja. Karena dari awal pemerintah sini tidak terlalu respon. Kita kan sebenarnya sudah tahu, wabah Corona separah itu di China dari Desember. Tapi semua penerbangan masih dibuka. Harusnya semua akses sudah ditutup.


Suasana jalan di pusat kota Buffalo yang sepi. Tampak Balai Kota yang juga tanpa kegiatan. Sebagian besar kosong karena perintah pembatasan kegiatan. (foto: Sharon Cantillon / Berita Buffalo)

Setelah kasusnya banyak, baru deh heboh. Penerbangan, gedung-gedung baru ditutup. Apalagi di New York City, mobilitas penduduknya tinggi. Di sana padat banget. Harusnya, pemerintah sudah melakukan rapid test ke semua warganya sejak awal.

Di sini saya tinggal di Buffalo, kota terbesar kedua di negara bagian New York. Semenjak ada wabah Corona, Buffalo jadi sepi. Tapi tidak terlalu berasa karena penduduknya memang penduduknya tidak banyak. Beda dengan New York City yang selalu ramai. Di Buffalo restoran dan kafe juga tutup. Tapi apotek dan grocery store (toko grosir) masih buka.

Saya masih bisa belanja kebutuhan pokok. Biasanya grocery store buka sampai tengah malam. Sekarang hanya sampai sore. Dan kalau ke sana, harus pagi-pagi. Kalau sudah siang, barang- barang sudah banyak yang habis. Mungkin karena semua orang pada nyetok.

Satu minggu yang lalu, saya masih belanja di sana. Untuk tisu toilet habis, karena orang-orang sini enggak terbiasa untuk cebok dengan air. Lucunya, banyak bule yang borong beras. Belanja sampai dua karung. Padahal mereka enggak terbiasa makan nasi. Biasanya makan roti. Dan yang patut bikin kita bangga, Indomie habis. Rasanya emang enak banget sih. Orang-orang di sini banyak yang suka.

Saya sempat cek di Amazon, eh harganya sudah mahal banget. Harga normalnya, 1 buah $0.5 – $1, tapi di Amazon 10 bungkus dijual $15 dan 5 bungkus dijual $10. Padahal di Indonesia, harga Indomie hanya Rp3.000-an.

Seperti yang terjadi di semua negara, masker dan hand sanitizer sangat langka. Di Amazon masih ada yang jual, tapi harganya mahal banget. Untuk itu, warga di sini memilih tidak memakai masker, meski sudah banyak yang terpapar Corona. Mungkin itu yang membuat Amerika menjadi Negara tertinggi dengan kasus Corona-nya.

Corona Bikin Saya Hemat

Saya hobi sekali traveling. Sekarang saya sudah lulus, tinggal menunggu graduation yang seharusnya dilakukan pada Mei 2020. Karena sebentar lagi pulang ke Indonesia, saya sudah bikin daftar bepergian ke beberapa kota di Amerika.

Gema Gempita (foto: dok pribadi)

Begitu juga dengan teman-teman, untuk merayakan farewell party. Tapi karena ada Corona, sekarang saya di rumah saja. Gagal semua rencana. Saya prediksi, wabah Corona akan selesai, paling cepat bulan Agustus 2020. Sementara setelah graduation, saya ada rencana untuk pulang ke Indonesia. Mudah-mudahan penerbangan ke Indonesia masih dibuka.

Kalau saya tak bisa pulang ke Indonesia sesuai rencana, saya akan tetap stay di sini sampai wabah berakhir. Setelah itu langsung pulang, enggak akan traveling lagi. Tidak masalah, saya jadi hemat. Memang selalu ada hikmah di balik kejadian. Bagi orang-orang yang sudah punya famili, mereka jadi semakin dekat dengan keluarganya. Tapi bagi orang-orang single seperti saya, enggak punya famili. Positifnya enggak traveling. Uangnya kesimpan. Pulang ke Indonesia, jadi punya tabungan nanti.

Ya Allah, semoga wabah Corona segera berakhir, dan saya bisa pulang ke Indonesia dengan aman. Amin.

About the author

Gema Gempita

Gema Gempita

Master in Biomaterials, University at Buffalo Sunny

Tinggalkan Komentar Anda