Berbagi Cerita Corona

Antara Cemas dan ‘Membunuh Waktu’ di Melaka

Salma Auriga Azhar
Written by Salma Auriga Azhar

Serial tulisan testimonial di panjimasyarakat.com ini didedikasikan untuk mendokumentasikan dan membagikan pengalaman baik dari berbagai tempat dan latar belakang penulis untuk saling menguatkan dalam menghadapi wabah Virus CORONA COVID-19.
Kami tunggu partisipasi Anda, kirim tulisan via WA 
0895616638283 atau email panjimasyarakat.com@gmail.com
–Pemimpin Redaksi

MELAKA, MALAYSIA — Setelah melewati diskusi panjang di tengah kepanikan saya dan 2 teman, saya akhirnya memutuskan menarik koper dan langsung meninggalkan Mahalla (Asrama) kampus International Islamic University Malaysia (IIUM) Pagoh, untuk pindah sementara ke apartemen di Melaka.

Salah satu pertimbangan yang membuat kami bertiga pindah ke Melaka dari asrama kampus, pertama, saat itu International Office kampus kami melarang kami untuk keluar dari Malaysia kembali ke negara kita. Kedua, karena manager apartemen dan hotel di Melaka ini adalah teman baik dari salah satu teman saya ini. Sehingga ayahnya dapat saling berkontak dengan sang manager dan tentu akan bisa mengontrol kita bertiga jika ada perlu apa-apa. Atau, jika ada kejadian darurat yang menimpa kami.

Selfie di hari pertama saat sampai Apartement dan Hotel Mahkota Melaka.
Kiri ke kanan: Wulan, Salma, Riefda (foto: dok pribadi)

Hal lain yang menjadi pertimbangan adalah apartemen ini terletak di tengah kota Melaka. Tidak jauh dari apartemen ini hanya sekitar 2 ruas jalan besar kami bisa menyebrang dan sampai ke Mahkota Parade Mall. Sehingga jika kami ingin membeli keperluan penting seperti sembako, stok makan, obat-obatan atau vitamin, akan mudah karena tidak perlu transpotasi. Cukup jalan kaki.

Apartemen di Melaka (foto: dok pribadi)

Tinggal di Melaka, saya dan dua teman saya melalui hari-hari yang beda banget dengan keseharian kita ketika di kampus. Beda banget! Yang biasanya kita pergi ke kelas buat kuliah pagi, nongki sama teman di cafe, kerja kelompok hingga pagi, makan malam di luar jika bosan dengan makanan kampus. Lalu seketika setelah Malaysia lockdown semuanya berubah. Jadi just stay at home.

Selama di Melaka, kegiatan kita ya cuma itu-itu saja. Kegiatan yang kita ulang-ulang saja terus di dalam rumah. Ditambah dengan berita yang beredar membuat kami bertiga semakin parno (cemas) dan membuat mental kita semakin khawatir. Ya tentu sebagai muslimah, kita bertiga saling mengingatkan untuk selalu berzikir, seperti istighfar dan sholawat untuk menenangkan hati kita.

Di hari pertama kepindahan, 17 Maret 2020 (sehari sebelum lockdown) pada sore hari kita sempatkan ke mall. Kami membeli keperluan sehari-hari seperti beras, telur, nugget, sosis, bawang putih, susu untuk 2 minggu ke depan.

Meski belum lockdown sepenuhnya, tapi keadaan mall saat itu terlihat mencekam. Sepi. Ya sangat sepi. Semua orang bermasker dan sudah ada beberapa restoran, outlet baju yang sudah tutup. Kami juga melihat beberapa pamflet pengumuman kalau dari tanggal 18-31 maret 2020 mall akan tutup sepenuhnya kecuali supermarket. Dan menurut peraturan pemerintah supermarket hanya buka jam sampai jam 7 pm atau pukul 19.00 waktu setempat. Jadi setelah 7 pm semua bisnis tutup. Wah. Saat itu kita jadi semakin panik. Setelah berbelanja dan sampai di apartement kita langsung mandi dan tidak duduk sama sekali. Setelah semuanya bersih barulah kita menyusun belanjaan.

Tiga hari pertama kita masih excited

Yeay gak kuliah, gak ada kelas, bisa bangun siang, tinggal di apartemen ber-AC, ya pokoknya enak deh. Bangun tidur, nonton berita di tv, sambil ngeteh cantik, masak pagi buat sekalian makan siang juga. Maklum, ini perpaduan antara malas dan hemat. Kemudian nonton youtube, nonton drakor (drama korea), tidur siang, sholat, ngaji, main hp, begadang, dan tidur lagi. Hahaha dan gak lupa menyelesaikan beberapa assignment yang masih tersisa dari sebelum lockdown.

Suasana di ruang tamu (foto: dok pribadi)

Lalu di hari ke-4 sampai seterusnya kita sudah mulai bosan. Untuk menangani kebosanan kita mencoba untuk ikut-ikutan workout at home dari youtube. Semua video kita ikutin tiap pagi, biar badan juga gerak dan gak lesu lagi. Tidak lupa hampir setiap hari kita bertiga juga selalu videocall dengan keluarga. Dan pasti yang dibahas selalu bagaimana keadaan di sana, makan apa hari ini, apakah ada kemungkinan untuk kembali ke Indonesia dan lain-lain. Pertanyaannya seputar itu-itu saja.

Oh iya, karena saya memiliki waktu luang yang banyak, saya gunakan waktu untuk mengaji dan murojaah hafalan Qur’an saya. Walau tidak banyak, setidaknya ada waktu yang saya gunakan untuk sesuatu yang lebih berfaedah. He..he.

Setelah enam hari kami tinggal which is tanggal 23 maret 2020, stok makanan kami sudah mulai menipis. Seperti sayur dan buah-buahan. Akhirnya kami memutuskan untuk pergi di jam 1 siang, dengan tekad yang bulat setelah 3 jam diskusi. Maklum, cewek kalo diskusi mau beli apa saja itu ribet dan lama. Karena kita gak mau menghabiskan waktu yang lama di luar.

Akhirnya kami bertiga keluar dengan perasaan yang deg-deg-an. Baru saja keluar, security apartemen memanggil kami dan menanyakan mau kemana kita pergi, lalu dia pun memberi informasi bahwa kita harus kembali ke apartemen sesegera mungkin sebelum jam 7 pm. Karena setelah itu polisi dan tentara akan turun ke jalan berpatroli dan mengecek keadaan jalan jika ada orang yang masih keluar.

Kalau bisa jangan lama-lama di luar, 2 jam saja cukup. Dan jangan lupa membawa paspor, memakai masker. Kami bertiga tidak boleh jalan berbarengan harus berjarak 1 meter. Walau hanya dihimbau seperti itu, itu cukup membuat kami takut. Seperti mau perang saja. Padahal cuma mau beli sayur dan buah.

Kami pun patuh, berjalan berjauhan. Dua teman saya di depan dan saya di belakang. Tidak ada interaksi selama berjalan. Karena kita takut kalau-kalau ada polisi yang lewat dan menghampiri kita. Karena dengar-dengar Malaysia memberlakukan denda jika ada sekumpulan orang di luar. Makanya kita berjauhan.

Berita tentang RMO (Restriction Movement Order) diperpanjang hingga 14 April 2020 oleh Prime Minister Malaysia Muhyiddin Yassin (foto: capture TV)

Tanggal 25 Maret 2020 kami dikejutkan dengan berita dari Prime Minister Malaysia yang mengumumkan bahwa lockdown diperpanjanng sampai 14 April 2020. Yang artinya bertambah 14 hari lagi. Kami bertiga kaget, pusing. Jujur, kepala kami rasanya berat sekali. Jika lockdown diperpanjang sepertinya kita tidak akan kuat berlama-lama di apartemen dengan keadaan dan kondisi yang seperti ini.

Akhirnya kami pun memutuskan untuk melakukan hal lain sambil memikirkan bagaimana plan kita ke depan. Apakah kembali ke kampus IIUM Pagoh? Kampus IIUM Gombak? Atau opsi terakhir adalah kembali ke Indonesia? Kembali ke Indonesia? Rasanya sangat tidak mungkin. Karena banyak cerita dari teman-teman kami yang penerbangannya di-cancel oleh maskapai pesawat tertentu.

Ditambah ketakutan kami kalau ada polisi yang mencegat kita di jalan, dan kami tidak diperbolehkan melakukan perjalanan antar negara. Ditambah lagi, pihak kampus kami mewajibkan kami untuk membuat surat izin travel yang harus diserahkan ke International Office dan harus menunggu selama 7 hari untuk approval. Wah. Berat sekali dan sangat ribet untuk pulang saja.

Keesokan harinya, 26 Maret 2020, kami dikejutkan lagi oleh berita terbaru dari kampus kami: kampus diliburkan hingga akhir Mei 2020. Perkuliahan akan dimulai pada tanggal 1 Juni 2020. Iya, totalnya menjadi 3 bulan (Maret, April, Mei 2020) kita tidak memiliki kelas online atau libur. Libur artinya tidak ada perkuliahan online. Dan kami pun akan gabut (bosan, gak ada kegiatan). Pasti. Akhirnya, dengan pertimbangan yang panjang, kalau kita ke asrama kampus Pagoh tidak mungkin karena libur ini akan sampai lebaran. Begitupun ke kampus Gombak. Jadi kenapa tidak pulang saja? Di Melaka 10 hari (17 -27 Maret 2020). (*)

About the author

Salma Auriga Azhar

Salma Auriga Azhar

Mahasiswa Tourism Planing and Management, International Islamic University Malaysia (IIUM), pernah setahun kuliah di Arkeologi, Universitas Indonesia, alumni MAN Insan Cendekia Gorontalo.

Tinggalkan Komentar Anda