Mutiara

Sultan Abdullah Awwalul Islam

Dia raja pertama yang masuk Islam di Sulawesi Selatan. Bagaimana sikap penguasa Tallo-Gowa ke-8 ini terhadap agama lain?

Karaeng Matoaya adalah raja Tallo dan sekaligus perdana menteri Kerajaan Gowa. Ia tahta mengantikan raja Tallo ke-6 yang juga raja Gowa ke-8. Ia digelari Sultan Abdullah Awwalul Islam. Dia memang penguasa pertama di Sulawesi Selatan yang masuk Islam, yakni pada 22 September 1605. Yang mengislamkannya adalah Khatib Tunggal Abdul Makmur alias Dato’ ri Bandang yang berasal dari Sumatera Barat. Selain dia, ada dua orang yang terkenal sebagai penyebar agama Islam di Sulawesi Selatan. Yakni Khatib Sulaiman yang terkenal dengan gelarnya Dato’ ri Patimang, dan Khatib Bungsu yang kemudian terkenal dengan gelarnya Dato’ ri Tiro karena ia wafat di Desa Tiro. Khatib Tunggal alias Dato’ ri Bandang berasal dari Kota Tengah di Minangkabau, Sumatra Barat. Oleh karena itu, ia diberi gelar Dato’, berasal dari gelar orang-orang Minangkabau, Datuk.

Gowa dan Tallo adalah kerajaan kembar orang Makassar. Jika berhubungannya dengan dunia luar, Kerajaan Tallo bertindak sebagai perdana menteri.

Akan tetapi, hubungan dengan pengangkatan raja, mereka menetapkan sendiri. Kerajaan Gowa dan Tallo lebih dikenal dengan sebutan Kerajaan Makassar.

Secara geografis, Sulawesi Selatan memiliki posisi yang penting, karena dekat dengan jalur pelayaran perdagangan Nusantara. Bahkan daerah Makassar menjadi pusat persinggahan para pedagang, baik yang berasal dari Indonesia bagian timur maupun para pedagang yang berasal dari daerah Indonesia bagian barat. Dengan letak seperti ini mengakibatkan Kerajaan Makassar berkembang menjadi kerajaan besar dan berkuasa atas jalur perdagangan Nusantara.

Karaeng Matoaya tercatat sebagai Perdana Menteri Gowa pada masa Kerajaan Gowa diperintah kemenakannya, Sultan Alauddin raja Gowa yang ke-14. Tercatat dalam lontara bahwa pada masanya diadakan salat Jumat di Tallo pada 9 November 1607 atau 19 Rajab 1016 Hijriah. Setelah Gowa dan Tallo menjadi kerajaan Islam dan raja-rajanya telah memeroleh gelar sultan, kedua kerajaan itu menjadi pusat penyebaran Islam di seluruh Sulawesi Selatan. Dalam hal ini Karaeng Matoaya atau Sultan Abdullah Awwalul Islam, raja Tallo ke-6, merangkap sebagai tumabbicara butta Kerajaan Gowa, sangat besar sekali jasanya.

Karaeng Matoaya dikenal sebagai pemimpin Makassar yang melakukan Islamisasi, meskipun tergolong terlambat dibandingkan negara-negara pesisir lain di wilayah Nusantara. Ia mengirimkan surat undangan kepada Aceh untuk mengirimkan ahli teologi Islam  dan kepada Portugis yang berkedudukan di Malaka untuk mengirimkan ahli teologi Kristen guna didengar pandangan-pandangan mereka tentang dua agama tersebut. Namun ahli teologi Kristen tidak dapat datang ke Makassar,   maka dengan sendirinya Matoaya dan para pemimpin  Makassar lainnya memilih Islam sebagai agama baru setelah mendengar presentasi dari ulama ahli teologi Islam tersebut. Setelah presentasi  tersebut dan melalui proses pemikiran dan pengkajian yang berulang-ulang terhadap agama baru ini. Setelah itu, dengan berbagai cara Matoaya melakukan penyebaran agama Islam diseluruh wilayah Sulawesi Selatan. Di antaranya dengan cara persuasif dan suri tauladan walaupun orang-orang yang berada di sekitarnya merekomendasikan dengan menggunakan senjata untuk penyebaran agama

Islam, namun Matoaya lebih memilih dengan cara yang lemah lembut agar orang-orang Makassar dapat memeluk Islam sebagai agamanya. Beberapa waktu kemudian, orang-orang di Makassar secara sukarela mulai memeluk agama Islam, meskipun dalam kehidupan keseharian mereka masih terdapat banyak unsur-unsur pra-Islam yang dilakukan jika di banding masyarakat pesisir lainnya di wilayah Nusantara.

Dalam proses penyebaran agama Islam di Makassar selama tiga tahun, Matoaya kembali berupaya menyebarkan agama Islam pada kalangan orang-orang Bugis. Dalam hal ini, untuk pertama dan terakhir kalinya Matoaya, menanggalkan kebijakan damai dengan kerajaan-kerajaan Bugis guna sesuatu yang ia yakini lebih besar manfaatnya jika orang-orang Bugis itu masuk Islam. Meskipun pada awalnya kerajaan- kerajaan Bugis menolak masuk Islam dan melakukan perlawanan dalam sebuah perang yang disebut dengan “perang Islam,” akhirnya Matoaya berhasil melakukan Islamisasi di wilayah kerajaan-kerajaan Bugis yang membuat seluruh wilayah Sulawesi Selatan menjadi kerajaan-kerajaan Islam.

Langkah selanjutnya yang dilakukan oleh Matoaya adalah menyelenggarakan pertemuan dengan para pemimpin untuk membuat kontrak-kontrak politik yang baru. Dalam pertemuannya itu para peserta diberikan cincin sebagai simbol perdamaian, dan Matoaya meminta kepada mereka untuk tidak berselisih di kalangan internal karena ancaman-ancaman eksternal siap mengganggu. Setelah pertemuan tersebut, hubungan Makassar dengan Bugis menjadi solid dan damai.

Meskipun kegigihan Matoaya terhadap Islam sangat kuat, ia memiliki toleransi terhadap agama-agama lain, khususnya Kristen yang banyak dipeluk oleh orang-orang Eropa yang tinggal di Makassar. Pada masa itu, beberapa rahib Fransiskan tiba di Makassar dan diberi izin melakukan pelayanan-pelayanan Kristen secara terbuka. Terlebih setelah Portugis kehilangan dominasinya di Malaka, maka Makassar kemudian menjadi basis utama bagi ordo-ordo Fransiskan, Jesuit serta Dominikan se-Asia Tenggara. Masing-masing ordo memiliki rumah ibadah sendiri di Makassar, termasuk keberadaan gereja kathedral yang dijalankan oleh bekas Keuskupan Malaka. Bahkan, berkat tingkat toleransi yang cukup tinggi di Makassar, setidak-tidaknya segelintir pemuka Makassar bisa ikut menikmati khotbah-khotbah Kristen.

Sultan Awwalul Islam wafat pada 1 Oktober 1636 M. dan diberi gelar anumerta Tu menanga ri Agamana (wafat dalam agamanya). Ia dimakamkan pada pemakaman Raja-raja Gowa di Bukit Tamalate, Kecamatan Sungguminasa, Kabupaten Gowa (Pemakaman Sultan Hasanuddin) bersama Raja Gowa Sultan Alauddin, Sultan Malikussaid, Sultan Hasanuddin dan Raja Gowa ke 17- I Mappaosong Daeng Mangngewai. Setelah wafat, dia digantikan oleh anaknya yang bernama I-Manginyarang Karaeng Kanjilo Daeng Makkiyo Sultan Abdul Jafar Muzaffar.

Kompleks makam raja Tallo di Makasar Sulawesi Selatan

About the author

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda