Tasawuf

Darurat Kewarasan

“Kalau melihatnya hanya dari media, baik sosial maupun konvensional, atau sekedar dari beberapa ruang diskusi; rasanya tidak terlalu meleset untuk menyebut betapa luar biasanya capaian peradaban ini. Betapa tidak? Lihat saja, betapa orang bisa memamah apa saja, termasuk sampah dan bangkai sekali pun, sambil secara bersama-sama membayangkan sedang memberi asupan gizi bagi tubuhnya,” gumam pak Amal.

“Dengan kasat mata kita bisa melihatnya. Selama sekian tahun, hampir 24 jam sehari orang diguyur sampah.  Bakteri dan virus terus menerus dijejalkan ke pikiran. Carriernya bernama media sosial atau grup percakapan. Akhirnya orang kehilangan kepekaan untuk membedakan: mana sampah mana berlian.”

“Sekarang orang baru melihat akibatnya. Di saat wabah corona virus sedang merajalela, di saat nyawa jutaan rakyat sedang dipertaruhkan; para buzzer masih terus berakrobat, mengacaukan fokus dan melenakan rakyat dari kewaspadaan, bot-bot masih aktif mengamplikasi pesan menyesatkan!”

“Orang dibuat kacau: mana batang, mana akar, mana ranting, mana daun, mana buah. Lantas batang-akar-ranting-daun-buah dari pohon yang berbeda dipaksa dihubung-hubungkan. Atau sebaliknya batang-akar-ranting-daun-buah dari pohon yang sama dipaksa dipisah-pisahkan. Atau membuat pohon palsu. Atau kalau perlu pohonnya sendiri sebenarnya malah tak pernah ada; sehingga semua pembicaraan hanya sia-sia belaka.”

“Mulutnya sendiri yang kacau, dan tak bisa dijadikan pegangan. Tapi ketika dikritik, malah yang mengritik dikeroyok ramai-ramai. Dituduh tak punya telinga. Dibilang punya agenda tersembunyi. Stigma-stigma ditempelkan. Kesalahannya dicari-cari. Kebenaran hanya boleh datang dari satu sumber saja: pemerintah.”

“Kalau ada senator mengutik-utik kebijakan presiden, segera dia disebut cari panggung; cari popularitas dan seterusnya. Akibatnya, pananganan wabah corona virus menjadi amburadul; dan rakyat juga korbannya…”

“Maaf Pak, apakah sampeyan sedang ngrasani Indonesia?” tanya lik Cecep setelah pak Amal panjang lebar bicara.

“Siapa bilang?” sergah pak Amal.

“Kalau melihat dari bentuk dan pola yang sampeyan katakan, rasanya saya kok agak-agak mengenalinya di sini…” ungkap kang Sam menambahi.

“Itu kan perasaan sampeyan saja. Menurut saya, Indonesia baik-baik saja kok. Para pemimpinnya selalu satu kata dengan perbuatan. Orientasi mereka sepenuhnya bagi kepentingan dan keselamatan rakyat. Koordinasinya luar biasa efektif. Antisipasinya luar biasa cepat. Saya yakin, corona virus itu soal yang sangat-sangat sepele bagi pemerintah, yang selama ini telah terbukti sangat tangguh menghadapi apa saja. Apalagi sudah diproklamasikan bahwa virus tersebut akan keok melawan cuaca Indonesia. Jadi, jangan kuatir; tunggu saja, tak lama lagi corona virus pasti sudah musnah dari bumi Indonesia!”

“Lantas siapa tho yang sampeyan ceritakan tadi?” tanya Giman.

“Amerika. Amerika Serikat. US. United States of America”

“Lho? Mosok?” tanya lik Cecep setengah tidak percaya.

“Katanya kampiun demokrasi, kok begitu ya…” sahut Giman.

“Lha kalian kurang piknik sih. Lihat saja lalu lintas media sosial di Amerika…” jawab pak Amal sambil tersenyum kecut.

“Beda, jauh beda dengan Indonesia. Kita tak punya buzzer bayaran yang kerja utamanya merecoki orang yang melakukan kritik, dan bot-bot yang selalu menyasar pihak yang berbeda. Kita juga tak punya pemerintah yang otoriter, sehingga harus selalu menangguhkan akun atau membungkam suara-suara yang dianggap membahayakan rezim.”

“Disamping itu, rakyat kita sudah sangat cerdas sehingga tidak gampang diarah-arahkan opininya, dibentuk-bentuk cara berpikirnya, diputar-balik kejernihan pandangnya, di adu domba keyakinannya. Mayoritas rakyat di sini kuat berpegang pada Allah, luwes mengamalkan Pancasila, sehingga akan sia-sia orang membayar buzzer untuk menggoyangnya. Percayalah. rakyat kita sudah lama mengembangkan kekebalan terhadap beragam virus yang dibawa oleh aplikasi-aplikasi di gawainya!”

“Ya Allah, ternyata Amerika itu negara rusak-rusakan tho? Pantes saja dikasih presiden ya presiden rusak-rusakan…” gumam Giman.

“Ya tidak mesti begitu…” sahut lik Cecep.

“Tapi nanti dulu…” sergah Kang Sam, “apakah cerita sampeyan sepenuhnya bisa dipertanggung-jawabkan? Dari mana sumbernya? Jangan-jangan hoax juga…”

 “Justru itu! Jangan biasa menelan bulat-bulat apa saja. Tersedak sendiri nantinya…” jawab pak Amal sambil tertawa. Terbahak-bahak pula.

Budayawan, tinggal di Pati Jawa Tengah. Pendiri Rumah Adab Indonesia Mulia

About the author

Anis Sholeh Ba'asyin

Anis Sholeh Ba'asyin

Budayawan, lahir di Pati, 6 Agustus 1959. Aktif menulis esai dan puisi sejak 1979. Tulisannya tersebar di koran maupun majalah, nasional maupun daerah. Ia aktif menulis tentang masalah-masalah agama, sosial, politik dan budaya. Di awal 1980an, esai-esainya juga banyak di muat di majalah Panji Masyarakat. Pada 1990-an sempat istirahat dari dunia penulisan dan suntuk nyantri pada KH. Abdullah Salam, seorang kiai sepuh di Kajen - Pati. Juga ke KH. Muslim Rifai Imampuro, Klaten. Sebelumnya 1980an mengaji pada KH. Muhammad Zuhri dan Ahmad Zuhri serta habib Achmad bin Abdurrahman Al Idrus, ahli tafsir yang tinggal di Kudus. Mulai 2001 kembali aktif menulis, baik puisi maupun esai sosial-budaya dan agama di berbagai media. Juga menjadi penulis kolom tetap di beberapa media. Sejak 2007 mendirikan dan memimpin Rumah Adab Indonesia Mulia, sebuah lembaga nirlaba yang bergerak di bidang pendidikan non formal, penelitian, advokasi dan pemberdayaan masyarakat. Karya lainnya, bersama kelompok musik Sampak GusUran meluncurkan album orkes puisi “Bersama Kita Gila”, disusul tahun 2001 meluncurkan album “Suluk Duka Cinta”. Sejak 2012, setiap pertengahan bulan memimpin lingkaran dialog agama dan kebudayaan dengan tajuk ”Ngaji NgAllah Suluk Maleman” di kediamannya Pati Jawa Tengah mengundang narasumber tokoh lokal maupun nasional.

1 Comment

  • Terbaik Khal… 👍👍
    Dan Doa Smua Umat Islam Khususnya Smoga Virus Ini Segera Pergi dari Muka Bumi Sebelum Ramadhan….

Tinggalkan Komentar Anda