Relung

Menggalang Sikap Positif Kolektif Demi Menyelamatkan Bangsa dan Negara

Kita perlu bersama-sama menggalang sikap positif, optimistis,  dan bersangka baik terhadap sesama – terlebih kepada Tuhan yang menguasai seluruh jiwa-raga-nasib dan kehidupan kita.

Sejak UUD 1945 asli yang dijiwai Pancasila dirombak total oleh para elit politik menjadi UUD yang berjiwa individualistis, liberalistis dan kapitalistis pada tahun 2002, bangsa Indonesia menjadi sangat individualis, pragmatis, hedonis, materialis dan narsis dengan ujub-riyanya yang luar biasa. UUD 1945 pun kehilangan semangat gotong royongnya. Sebagaimana para elit memanipulasi nama UUD yang sudah dirombak total, dengan tetap menyebutnya sebagai UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945, maka gaya hidup semau gue dan penuh manipulasi pun meruyak di masyarakat. Yang penting bagaimana bisa menjadi berkuasa dan kaya raya dalam tempo sesingkat-singkatnya dengan segala cara.

Apa akibat dan dampak lebih lanjut dalam kehidupan berbangsa dan bernegara? Kini bangsa Indonesia mulai terbelah mengikuti pola SARA – Suku – Agama – Ras – Antargolongan. Dengan dukungan buzzer masing-masing  yang terus mendengung, pembelahan pun makin mengental. Ada Islam vs non Islam, ada Islam radikal vs Islam wasathiyah, ada cebong versus kampret, dan sekarang ada kadrun (katak dungu turun-temurun) vs kadrun (kadal gurun), ada goodbener vs gakbener dan seterusnya. Semua saling menghinakan, saling menafikan kebaikan yang lain, saling menghujat dan merendahkan.

Yang sangat memprihatinkan, meski kita sedang menghadapi ancaman pandemi, wabah atau pageblug yang mengancam jutaan jiwa manusia secara acak, sejak dari rakyat jelata sampai penguasa. Mereka yang menderita dalam ketakberdayaan di kampung-kampung kumuh perkotaan dan di hutan-hutan Papua sampai dengan Presiden dan para konglomerat. Termasuk jiwa mereka yang saling membelah, termasuk jiwa para pendengung yang terus saling memuntahkan makian dan hinaan, termasuk para elit penguasa partai-partai politik. Jiwa mereka, keluarga mereka sungguh terancam, namun ironisnya tak menyadari, bahkan tetap merasa sedang menggenggam martabat dan jiwa hamba Allah yang lain.

Di tengah kemelut suasana yang seperti itu, sejatinya diperlukan kesadaran kolektif bangsa. Kita perlu menyadari benar bahwa keadaan yang tengah kita hadapi sekarang merupakan ancaman kehancuran bangsa dan negara. Kita perlu bersama-sama menggalang sikap positif, optimistis,  dan bersangka baik terhadap sesama – terlebih kepada Tuhan yang menguasai seluruh jiwa-raga-nasib dan kehidupan kita.

Ini sejalan dengan firman bahwa Allah akan mengabulkan permohonan hamba-hamba-Nya (QS Al-Baqarah: 186). ), dan hadis qudsi bahwa  “Aku sesuai dengan prasangka hamba-hamb-Ku kepadaku” (HR Bukhari dan Muslim). Karena itu marilah kita tinggalkan segera, segala pikiran, ucapan, tulisan, tindakan dan perbuatan yang mengandung ungkapan serta konotasi negatif terhadap apa dan siapa pun, sebab ucapan dan tulisan itu bagaikan doa.

Marilah kita olah tiga potensi dasar yang ada dalam setiap diri kita, yakni kehendak atau nafsu, akal dan kalbu kita menjadi suatu senyawa yang positiF. Orang Jawa tempo dulu menyebut ketiga potensi diri tadi sebagai karsa (nafsu atau kehendak), cipta (akal dengan otaknya) serta rahsa yang merupakan inti kalbu atau nurani. Olahan atas ketiganya disebut olah cipta– rahsa–karsa.
Mari kita bangkitkan karsa kita untuk menyelamatkan bangsa dan negara dari wabah Covid-19 yang bisa memusnahkan kita,  serta menata dan membangun kembali, memberikan landasan rahsa, demi kemaslahatan sesama, sebagai perwujudan rahmatan lil alamin.  Selanjutnya mari kita proses lebih lanjut dengan sikap positif dan optimistis, kita visualkan dalam pikiran kita, dalam cipta kita, menjadi gambaran sebuah negara kepulauan yang disebut Nusantara ini, sebuah negeri idaman nan aman tenteram, adil makmur sejahtera, jaya sentosa, baldatun thyibatun wa rabbun ghafur, senaniasa dalam perlindungan dan ampunan Tuhan, yang dipimpin oleh para elit, para penguasa yang jujur, adil dan amanah; yang kehidupannya bersih, sederhana dan mengabdi. Mari kita bayangkan, kita visualkan diri kita bersama orang-orang yang kita cintai serta para sahabat kita, berbahagia bersama dalam suasana kehidupan berbangsa dan bernegara yang seperti itu. Semoga

About the author

B.Wiwoho

Wartawan, praktisi komunikasi dan aktivis LSM. Pemimpin Umum Majalah Panji Masyarakat (1996 – 2001, 2019 - sekarang), penulis 40 judul buku, baik sendiri maupun bersama teman. Beberapa bukunya antara lain; Bertasawuf di Zaman Edan, Mutiara Hikmah Puasa, Rumah Bagi Muslim-Indonesia dan Keturunan Tionghoa, Islam Mencintai Nusantara: Jalan Dakwah Sunan Kalijaga, Operasi Woyla, Jenderal Yoga: Loyalis di Balik Layar, Mengapa Kita Harus Kembali ke UUD 1945 serta Pancasila Jatidiri Bangsa.

Tinggalkan Komentar Anda