Hamka

Hamka tentang Hamka (15)

Hamka San (tengah) bersama koleganya Tengku Yafizham dan Syekh Abdullah pada zaman pendudukan Jepang.
Ditulis oleh Panji Masyarakat

Hamka menolak para pemimpin Indonesia yang bekerja sama dengan Jepang untuk mencapai kemerdekaan disebut kolaborator. Pada masa awal revolusi kemerdekaan dia berada di Sumatera Barat. Mengapa di Medan ia dicerca habis-habisan sampai dia diminta mundur dari kepemimpinan Muhammadiyah Sumatera Timur?

Mereka Bukan Kolaborator Jepang

Sejak kembali dari Jawa, boleh dikatakan “burung tikukur” (Hamka) tidak mau dirayu-rayu lagi supaya bernyanyi, tidak lagi kedengaran suaranya. Segala yang diusahakan boleh dikatakan gagal. Sokongan yang sebenarnya dari rakyat, boleh dikatakan tidak ada. Masih dicobanya beberapa kali mengadakan penerangan di Medan, Tebing Tinggi, Pematang Siantar, dan tempat-tempat lainnya, bersama Haji Abdul Rahman Syihab, atau Yunan Nasution, atau Haji Busthami lbrahim. Ada didengar orang, tetapi tidak dapat mereka menerimanya.

Boleh dikatakan sejak bulan April 1944 dia (Hamka) sengaja menjauhkan diri dari Nippon. Kalau tidak perlu benar, dia tidak mendekat. Sampai suatu hari Tyokan sendiri memanggilnya, menanyai mengapa tidak datang-datang lagi. sejak 1944, mulailah dengan bunga “Sakura” berangsur runtuh. Serangan-serangan Sekutu telah datang bertubi-tubi. Pada 7 September 1944 keluarlah maklumat Perdana Menteri Koiso (yang mengantikan PM Tojo), menjanjikan kemerdekaan di masa depan. Belum pernah bangsa Belanda memberi janji demikian. Janji kemerdekaan adalah menggembirakan dan mengharukan hati. Memang kemerdekaan mesti direbut, bukan dihadiahkan, tetapi tidak ada suatu bangsa kecil yang hendak merdeka, yang lebih dahulu tidak mendapat perbantuan atau pengakuan dari bangsa yang lebih besar. Bagi pemimpin-pemimpin yang mempunyai cita-cita besar, janji itu adalah obat penawar yang paling mujarab, atas tenaga yang telah ditumpahkan selama ini membantu peperangan Jepang. Soekarno sendiri, waktu janji itu tiba, sedang pergi ke daerah Banten, memimpin suatu gerakan “gotong royong”.

Bung Haji kita baru pulang dari sembahyang taraweh, seketika datang dua orang wartawan, Yahya Ya’kub dan Hadely Hasibuan, dari Domei (kantor berita Jepang). Mereka menanyakan kesannya (Hamka) mendengar berita itu.

Tidak pelak lagi, sebelum menumpahkan perasaan, sebelum membalas pertanyaan, dia masuk ke dalam kamarnya, Beberapa saat dia bersujud kepada Tuhan, sujud syukur, menerima kabar itu. Air matanya pun menggelenggang karena terharu.

Sebetulnya Haji (Hamka) ini rupanya bukanlah seorang “politikus” yang mengetahui tipu daya dan belit-belit politik. Lupa dia bahwa janji itu datang setelah Jepang terdesak. Telah dipandangnya kecil saja rakyat yang telah menderita, beras yang senantiasa dirampas, catut, dan “kilat” yang bersimahrajalelala. Besoknya ditemuinya kawannya Xarim M.S. Kawannya berkata: “Sayang! Sudah terlambat!”

Puasa pun habis, datang 1 Syawal, Hari Raya Idil Fitri. Orang mengadakan upacara di tanah Lapang Hukuraido mensyukuri janji itu.

Dengan resmi Tyokan memberi izin orang menaikkan bendera “Merah Putih” di tiang yang tinggi diiringkan oleh musik “Indonesia Raya” di bawah pimpinan seorang dirigent yang ahli, Hamka San kembali terharu. Dia menangis lagi! Seorang pemotret lekas-lekas menunjukan kamera ke mukanya, “mengambil” tangisnya untuk alat propaganda.

Bung Haji!Bung Haji!

Engkau terlalu jujur… dan tolol!

Sumatera mempunyai beberapa pemimpin yang tinggi cita-citanya, yang mempunyai perasaan nasional luas. Yang sudi bekerja sama dengan Jepang dengan niat yang mengambil keuntungan demi bangsanya. mereka bukan kolaburator Jepang! Sebab kolaborator hanya hanya boleh diucapkan kepada orang-orang dalam satu Tanah Air yang sudi bekerja sama dengan pihak musuh yang datang mengalahkan negeri itu dan menghianati perjuangan bangsanya sendiri. Bagaimana akan dikatakan kolaburator, kalau mereka melihat bahwa penjajah yang baru datang menjanjikan kemerdekaan bagi tanah airnya, sedang penjajah yang sangat “degil” memberi janji?

Janji kemerdekaan yang diberikan Jepang, meskipun pada hakikatnya hanya karena terdesak, adalah suatu alat yang amat manjur bagi Jepang buat menarik pemimpin-pemimpin supaya sudi membantunya melanjutkan perang. Dan lagi pemimpin yang telah ingin merdeka Tanah Airnya, yang belum pernah menerima janji demikian, padahal telah berpuluh tahun berjuang untuk kemerdekaan, adalah janji itu menyebabkan mereka lupa segala penderitaan, segala kebencian rakyat yang telah sangat menderita. Ketika saya bertanya kepada beberapa pemimpin itu, bagaimana rasa hatinya menerima janji itu, dia menjawab: “Bagaimana perasaan Tuan jika Tuan sedang berenang karena perahu karam, dan ombak besar, lalu bertemu sebelah papan? Tentu papan itu Tuan pegangi, walaupun kecil, walaupun penuh duri.”

(Pada masa itu Hamka pergi ke Sumatera Barat dan di sana dia menyaksikan gerakan revolusi telah berkobar. Setelah itu dia kembali ke Medan, Red.)

“Sayang Engku Haji tinggalkan Kota Medan, di saat tidak boleh ditinggalkan, Engku Haji dituduh orang “lari”! Sepeninggal Engku Haji, segala hinaan, makian, dan cercaan bertimpa atas diri Engku Haji, payah saya memperbaikinya.”

Selesai dia bicara, dipersilakan Mohamad Yusuf Ahmad berbicara. Dengan sikap yang teguh, dan sekali-kali tidak tidak mau menentang matanya, sekretaris pun berdiri. Tangannya kelihatan agak gemetar. Dibacakan suatu mosi, yang isinya menyatakan “tidak percaya kepada kebijaksanaan Hamka buat memimpin terus perserikatan Muhammadiyah di Sumatera Timur. Karena dia meninggalkan kewajiban di saat perserikatan perlu benar akan pimpinannya. Oleh sebab itu, salah satu dari dua harus dipilihnya. Pertama dia meletakan jabatan sebagai konsul Muhammadiyah. dan Pimpinan Muhammadiyah diteruskan oleh Majlis Pimpinan dengan ketua yang baru, tidak memakai konsul. Dan kalau Tuan Hamka keberatan meletakkan jabatannya, maka Majlis Pimpinan semuanya meletakkan jabatan dengan serentak.”Bersambung                                                            

Tentang Penulis

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda