Berbagi Cerita Corona

Diperlakukan sebagai Suspect Corona

A Titian Ulil Hikam

Serial tulisan testimonial di panjimasyarakat.com ini didedikasikan untuk mendokumentasikan dan membagikan pengalaman baik dari berbagai tempat dan latar belakang penulis untuk saling menguatkan dalam menghadapi wabah Virus CORONA COVID-19.
Kami tunggu partisipasi Anda, kirim tulisan Anda via WA 0895616638283 atau email panjimasyarakat.com@gmail.com
–Pemimpin Redaksi

BANDUNG, INDONESIA– Respon saya pertama kali ketika mendengar kabar soal virus Corona, seperti kebanyakan orang, agak acuh nggak acuh. Itu virus menyebar di Tiongkok sana. Memang parah sekali akibatnya. Tapi apa pengaruhnya bagi saya di sini? Bulan Februari 2020, saya masih berpikir demikian.

Menjelang bulan Maret2020, meski kabar soal virusCorona makin gencar, saya masih haha-hihi saja. Banyaknya meme-meme yang berseliweran tentang virus Corona menjadi salah satu faktor saya masih belum menanggapi Corona dengan serius waktu itu. Selain itu, saya pun masih kuliah seperti biasa, dan ketar-ketir karena sebentar lagi menghadapi Ujian Tengah Semester(UTS).

Awal Maret UTS sudah digelar selama dua minggu. Bagi mahasiswa jurusan DKV (Desain Komunikasi Visual) seperti saya, UTS biasanya jadi masa kritis, karena tugas-tugas biasanya menumpuk semua dan deadline jatuh pada dua minggu masa UTS itu. Tenaga, pikiran dan emosi biasanya terkuras habis, sehabis-habisnya. Maka, waktu itu saya lebih bersikap bodo amat soal virus Corona. Dan lebih memikirkan hal yang ada di depan mata: ya UTS ini.

Tanggal 2Maret2020, virus Coprona akhirnya terdeteksi masuk ke Indonesia: dua orang terkonfirmasi positif terinfeksi virus Corona di Jakarta. Meskipun itu  tetap tidak terlalu saya perhatikan, karena saya sibuk dengan UTS. Ketika akhirnya UTS selesai, baru saya duduk termenung, berpikir, apa virus Corona memang seserius itu?

Dua hari setelah itu saya ambruk: tidur 12 jam, dari jam enam sore, bangun jam enam pagi esok harinya dengan tenggorokan terasa sakit. Semula saya anggap, itu paling cuma serak gara-gara tenggorokan saya kering, tidur 12 jam kan ya. Berarti selama itu saya tidak minum air untuk waktu yang cukup lama. 

Penulis, A Titian Ulil Hikam, di depan kampusnya, Telkom University, Bandung. (dok pribadi)

Saya mengabari Orangtua, bahwa saya sakit ringan di tenggorokan. Terbersit di kepala saya, jangan-jangan ini gejala Corona. Tapi itu nggak terlalu saya pikirkan, biar tidak panik. Saya pun langsung beli bermacam-macam obat, dan penguat daya tahan tubuh. Mulai dari temulawak sampai tolak angin. Sebenarnya ya panik juga, mau apa saya kalau beneran kena virus Corona. Apalagi saya tinggal di rumah kontrakan bersama seorang teman, bakal gawat kalau saya betulan sakit dan menulari kemana-mana. Saya pun mengisolasi diri di kamar. Dan hanya keluar bila sangat perlu saja.

Dari sana kemudian saya mulai mencari-cari informasi gejala-gejala terinfeksi Corona itu seperti apa. Mengetahui bahwa gejalanya mirip sakit flu, langsung panik saya. Apalagi sakit hari kedua, saya mulai batuk dan bersin, plus malamnya saya jugamulai sakit kepala sampai tidak bisa tidur. Makin was-was: wah, kena Corona, saya. Dalam hati saya berharap ya mudah-mudahan saya cuma paranoid dan kelewat takut. Semoga saja ini cuma flu biasa.

Saya tidak tahu apakah doa saya didengar Gusti Allah, atau bagaimana, karena menjelang hari kelima sakit, saya mulai membaik. Memang masih batuk-batuk, namun sudah nggak ada rasa sakit di kepala atau batuk. Hanya sisa hidung pilek saja.

Orangtua kemudian menyarankan saya untuk pulang saja, karena mulai beredar kabar lewat grup-grup WhatsApp bahwa Kampus bakal di-lockdown. Ketika meminta pertimbangan kepada teman-teman kerja kelompok, mereka malah melarang saya pulang. Takutnya kalau saya memang terpapar virus Corona nanti malah bawa virus ke mana-mana, termasuk ke rumah. Selain itu Kampus belum dinyatakan lockdown, jadi kerja kelompok di kampus masih jalan seperti biasa. 

Tapi begitu saya merasa agak sehat, sambil berdoa agar saya gak bawa virus ke mana-mana, hari itu saya pesan tiket travel ke Depok meluncur pulang. Alhamdulillah, akhirnya saya tiba di rumah dan berkumpul dengan keluarga. Meskipun, karantina selama total 14 hari diberlakukan oleh Orangtua buat saya. Jadilah kamar saya dan semua perlengkapannya, perlengkapan makan, perlengkapan ibadah saya dipisahkan dari Ayah, Ibu, dan adik saya. Dan semua protokol sebagaimana seorang suspect corona diberlakukan: pakai masker, physical distancingsaat makan, ibadah dan di hampir di semua aktifitas. Tentu saya patuh saja. Saya nggak mau ambil resiko di tengah wabah seperti ini.

Hikmahnya apa? Jangan ngegampangin, sodara-sodara. Jangan kayak saya yang ngegampangin dan ketawa-ketiwi terus malah panik sendiri pas mulai batuk-batuk. Cuci tangan yang bener, dan sehat-sehat semua ya. (*)

About the author

A Titian Ulil Hikam

A Titian Ulil Hikam

Mahasiswa Multimedia-Animasi, Desain Komunikasi Visual (DKV), Fakultas Industri Kreatif, Telkom University, Bandung, Ketua UKM Komik BALON KATA, Telkom University (2018-2019), alumni SMA Pesantren Unggul Al-Bayan, Sukabumi.

Tinggalkan Komentar Anda