Berbagi Cerita Corona

Buku-buku Babon Memprediksi Munculnya Virus Baru

Serial tulisan testimonial di panjimasyarakat.com ini didedikasikan untuk mendokumentasikan dan membagikan pengalaman baik dari berbagai tempat dan latar belakang penulis untuk saling menguatkan dalam menghadapi wabah Virus CORONA COVID-19.
Kami tunggu partisipasi Anda, kirim tulisan via WA
0895616638283 atau email panjimasyarakat.com@gmail.com
–Pemimpin Redaksi

YOGYAKARTA – Sejak dua minggu lalu memang sudah mulai dianjurkan untuk tinggal di rumah. Saat itu Universitas Gajah Mada (UGM) sudah melakukan kondisi darurat.  Kemudian meningkat menjadi awas, istilahnya adalah maksimum penutupan. Boleh ke kampus, kalau ada keperluan yang sangat penting. Oleh karena itu, kami semua mulai dua minggu yang lalu menggunakan online seperti Webex, Zoom, dan Instagram. Saya sebagai orang yang sudah tidak muda, jadi belajar lagi. Ternyata mengasikkan juga. Webex bisa digunakan untuk kuliah.

Menariknya lagi bisa terhubung dengan para mahasiswa dari berbagai daerah. Ada yang tinggal di Sulawesi Tenggara, Bali, Jakarta, Jawa Tengah, Jogjakarta. Kami bisa melakukan ujian siding skripsi atau tesis secara online. Meskipun situasinya sedang kirisis. jadwal mahasiswa bisa terpenuhi. Mereka ujian skripsi sambil melakukan kegiatan dari rumah yang dikelilingi keluarganya. Satu keunikan di masa seperti ini.

Rapat juga begitu. Koordinasi dan penyelenggaraan kegiatan bimbingan, baik tesis maupun skripsi terselenggara melalui sistem ini. Baru saja saya rapat di Fakultas, selama dua jam kami melaporkan perkembangan kuliah masing-masing dan Ujian Akhir Semester yang akan dimulai pada minggu ini.

Prof. Dr. M. Baiquni, MA di rumahnya yang asri (foto: dok pribadi)

Saya tinggal di ujung Jogjakarta, yaitu desa Tirtomartani, Kalasan, Sleman. Letaknya bersebelahan dengan sungai dan kampung Karang Nongko. Aktivitas masyarakat di sini, masih seperti biasanya. Para petani tetap harus bekerja di sawah. Hanya saja kegiatan publik seperti pertemuan-pertemuan ditunda dan sholah jum’at sudah tidak ada lagi. Sholat jamaah diselenggarakan di rumah masing-masing. Hari ini di masjid dan mushola sekitar kami sudah mulai tutup.

Akhirnya, para takmir Pesantren Riset Kalam membuat tiga upaya. Pertama, tetap komunikasi di whatsapp, masing-masing anggota baca beberapa juz Al-Qur’an sebagai satu upaya meningkatkan imun tubuh melalui kualitas iman.  Kedua, membaca sebagai wahana menggali pengetahuan dari berbagai referensi untuk membuka wawasan pemikiran terhadap situasi seperti saat ini.

Ketiga, melakukan ikhtiar kecil yang dilakukan antar tetangga. Bentuknya seperti solidaritas tetangga dalam memenuhi beberapa kebutuhan pokok yang diperlukan satu sama lain. Kami juga melakukan penyemprotan disinfektan, saling berbagi, kalau ada yang menghasilkan sayuran kita membeli. Bahkan kadang-kadang, ada tetangga yang memberi sayur lodeh kepada tetangga lainnya. Cara-cara seperti itu menjadi kekuatan real social cohesion (konsep kohesi sosial). Keterhubungan sosial sangat dibutuhkan.

Di rumah saya mulai membongkar buku-buku lama, buku babon masa lalu. Seperti buku yang berjudul Planet Under Stress dari Mungall dan McLaren, The Great Disruption yang ditulis Francis Fukuyama, dan The Great Warming. Buku-buku tersebut bercerita tentang global warming, yang isinya beberapa prediksi munculnya virus baru. Saya pernah menulis tentang itu di tahun 2002: Pembangunan yang Tidak Berkelanjutan. Saya mencermati suatu fenomena 40 tahun terakhir, alam dan lingkungan terdegradasi sangat massif.

Akibatnya kualitas sumber daya alam, seperti minyak tanah dan udara yang kian hari semakin merosot. Tempo hari, banyak sampah plastik yang mengapung di samudera-samudera. Ikan-ikan mati yang kalau diotopsi banyak sampah di perutnya. Ini menunjukan suatu gejala lingkungan hidup yang memprihatinkan. Saya merefleksikan kondisi tersebut dengan adanya virus Covid-19 ini, terkait dengan perubahan iklim yang sangat drastis dan memunculkan penyakit-penyakit yang belum ada sebelumnya.

Saya kira, kita harus mencari tahu dengan pendekatan ekologis di dalam memahami wabah Corona yang sekarang terjadi. (*)

About the author

Prof. Dr M Baiquni MA

Guru Besar dan Ketua Departemen Geografi Pembangunan UGM, Doktor bidang Pembangunan Kawasan UGM dan Utrecht University, Belanda, Master bidang Pembangunan Regional di Institute of Social Studies, Den Haag, Balanda.
S1 Fakultas Geografi UGM, pendaki gunung dan Ketua MAPAGAMA UGM, mengembangkan Sekolah Rakyat BERDAULAT, tinggal di Jogjakarta.

Tinggalkan Komentar Anda