Berbagi Cerita Corona

Terjebak Lockdown Malaysia

Salma Auriga Azhar
Written by Salma Auriga Azhar

Serial tulisan testimonial di panjimasyarakat.com ini didedikasikan untuk mendokumentasikan dan membagikan pengalaman baik dari berbagai tempat dan latar belakang penulis untuk saling menguatkan dalam menghadapi wabah Virus CORONA COVID-19.
Kami tunggu partisipasi Anda, kirim tulisan Anda via WA 0895616638283 atau email panjimasyarakat.com@gmail.com
–Pemimpin Redaksi

PAGOH, MALAYSIA – Di awal Maret 2020, saya mendengar kabar ada 2 orang mahasiswa universitas sebelah dinyatakan suspect virus Corona Covid-19. Keduanya tinggal di komplek asrama sekitar 200 meter dari tempat saya tinggal. Di asrama International Islamic University Malaysia (IIUM) Pagoh, tempat saya tinggal, ada sekitar 900 mahasiswa, sebagiannya mahasiswa internasional sekitar 25 orang, seperti dari China, Arab Saudi, Thailand. Sedangkan dari Indonesia ada 7 orang termasuk saya.

Kampus IIUM selain Pagoh, juga ada IIUM Gombak, yang jumlah mahasiswa Indonesianya jauh lebih banyak di sana. Saya, Salma Auriga Azhar, mahasiswa Indonesia di International Islamic University Malaysia (IIUM), bidang Tourism Planning & Management, tinggal di Asrama Kampus, Edu Hub Pagoh, Malaysia.

Sekitar 190 kilometer arah tenggara dari Ibukota Kuala Lumpur. Di kawasan terpadu pendidikan (Edu Hub Pagoh) itu terdapat 4 universitas dalam satu komplek termasuk gedung akomodasi (asrama) tempat mahasiswa tinggal. Selain IIUM, ada Universiti Teknologi Malaysia, Universiti Tun Hussein Onn, dan Politeknik Tun Syed Nasir. Dari perkembangan berita yang saya akses di internet maupun dari teman-teman di asrama, kedua suspect Corona itu saat ini sudah dipindahkan ke rumah sakit. Dan satu lagi masih dikarantina di sebuah bilik di asrama, yang terlihat dari jendela kamar saya. Tidak terlalu jauh.

Inilah yang menjadi salah satu sumber rasa was-was dan kekhawatiran di antara kami. Apakah jarak 200 meter tempat tinggal dengan suspect Corona bisa membahayakan kami? Karena informasi yang saat itu masih terbatas, kekhawatiran itu membuat saya cemas. Ditambah lagi suasana kampus dalam beberapa hari ini memang cukup menegangkan, bahkan mencekam, sejak diumumkan ada 2 suspect Corona di perkampungan mahasiswa ini. Meski begitu saat itu belum ada bayangan bahwa akan ada lockdown di Malaysia.

Namun tiba-tiba hari Selasa, 17 Maret 2020 Perdana Menteri Malaysia Muhyiddin mengumumkan Malaysia akan lockdown mulai 18 Maret hingga 31 Maret 2020, seiiring pengumuman dari Kementerian Kesehatan Malaysia, bahwa ada 2 korban meninggal pertama di Malaysia akibat Virus Corona Covid-19. Tentu saja saya syok, karena baru dua hari lalu ada himbauan dari Otoritas Kampus IIUM Pagoh bahwa mahasiswa asal Malaysia diminta balik kampung ke tempat tinggal masing-masing. Sementara mahasiswa internasional diminta tetap tinggal di asrama. Tidak kebayang dari kawasan pemukiman mahasiswa seluas itu, nantinya kami hanya tinggal puluhan orang. Bagaimana dengan makan kami? kebutuhan perlengkapan harian kami? Sementara untuk ke minimarket cukup jauh.

Asrama Kampus, Edu Hub Pagoh, Malaysia

Meskipun saya lihat cafetaria kampus masih buka hari itu. Tapi kalau besok benar-benar lockdown, apa iya masih buka buat kami yang hanya ber-25 orang ini. Dua minggu lagi. Aduuh. Saya berusaha menghubungi orangtua saya di Indonesia lewat WhatsApp, chatt, maupun video call. Papa menyarankan saya juga kontak Pakde yang tinggal di Jakarta, yang mungkin punya lebih banyak informasi untuk jadi pertimbangan. Kontak telpon, chatt dan video call diiringi kepanikan tak terhindarkan. Belum pernah sebelumnya saya mengalami situasi seperti ini.

Mungkin juga semua orang: belum pernah! Sementara, kami mahasiswa asal Indonesia yang hanya 7 orang membahas dan mendiskusikan serius, apa yang harus dilakukan. Sebagian sudah punya keputusan, seperti akan tinggal di rumah saudara mereka yang ada di Malaysia, ada yang di Kuala Lumpur, atau kota lain di Malaysia. Lha saya!? Tidak punya saudara yang tinggal di negara ini. Sementara Orangtua dan keluarga saya baru sebulan ini pindah tempat tinggal ke Mataram, Lombok, Nusa Tenggara Barat karena diangkat jadi direktur sebuah bank di sana, setelah sebelumnya lama berkantor di Jakarta.

Saya pun belum familiar dengan tempat tinggal keluarga di kota yang baru itu. Ini makin menambah kebingungan, saya rasakan perasaan aman juga menipis. Dari komunikasi dengan Pakde yang tinggal di Jakarta, disarankan untuk segera pulang ke Indonesia. Dia katakan, baru saja dia konsultasi dan komunikasi dengan temannya di Universitas Utara Malaysia, yang menjadi pengurusi alumni dan mahasiswa Indonesia di Malaysia. Menurut teman Pakde ini, yang saat itu baru mendarat di Jakarta dari Kuala Lumpur, disarankan sebisa mungkin semua mahasiswa Indonesia balik ke Tanah Air hari ini juga.

Sebelum situasi ditutup dan tidak menentu ke depan. Dan sampai berapa lama kelanjutan lockdown akan berlangsung. Tidak ada yang tahu. Sebenarnya, kalau pun harus kembali ke Indonesia, saya bayangkan tidak terlalu sulit hari ini. Saya tinggal berangkat ke KLIA (Kuala Lumpur International Airport) sambil pesan tiket online. Dan, cus, langsung terbang ke Indonesia. Apalagi, sekarang ada rute direct, dari KLIA ke Bandara Lombok, NTB. Tapi, ketika saya coba kontak Otoritas International Student IIUM, di seberang telpon mengatakan, mahasiswa intenasional tidak boleh keluar dari Malaysia.

Masih boleh kalau ke luar kota, di luar Pagoh, tapi tidak keluar Malaysia. Selain karena kegiatan akademik online masih terus berlangsung, juga kalau ada yang benar-benar keluar dari Malaysia, kelak bila kembali ke Malaysia, setiap orang akan harus menjalani masa karantina 14 hari, di Airport atau di pos-pos Kementerian Kesehatan Malaysia. Hi, ngeri juga, pikir saya.

Di tengah kepanikan dan suasana yang agak mencekam, diskusi dengan teman-teman saya lanjutkan. Tiba-tiba ada opsi: ayah salah satu teman punya kenalan yang punya hotel di Malaka, kota pantai sekitar 70 kilometer di sebelah barat Pagoh, menawari saya dan anaknya, dan beberapa orang, bisa tinggal sementara di hotel itu untuk 14 hari masa lockdown. Opsi yang pantas dipertimbangkan. Akhirnya, bismillah, saya dan dua teman memtuskan untuk tidak meninggalkan Malaysia. Cukup meninggalkan Pagoh. Tanpa pikir panjang, hari itu juga kami meluncur ke Malaka. Alhamdulillah. (*)

About the author

Salma Auriga Azhar

Salma Auriga Azhar

Mahasiswa Tourism Planing and Management, International Islamic University Malaysia (IIUM), pernah setahun kuliah di Arkeologi, Universitas Indonesia, alumni MAN Insan Cendekia Gorontalo.

Tinggalkan Komentar Anda