Hamka

Hamka Tentang Hamka (14)

Selain mengunjungi Bung Karno dan ayahnya, Hamka bertemu dengan sejumlah pemimpin pergerakan. Di antaranya tokoh gerakan perempuan, SK Trimurti, yang suaminya ditahan Jepang. Kata Bung Karno, “Pemipin mesti berjiwa besar. Pemimpin tidak boleh melihat kerugian karena mencari keuntungan yang lebih besar. “

Ke Jawa Menemui Bung Karno

Dalam bulan Oktober 1943 surat ayahnya datang menyatakan beliau sakit dan telah ingin hendak bertemu. Maka dalam bulan Desember dia pun berangkatlah ke Tanah Jawa. Di awal Januari 1944 dia sampai di Jakarta. Di Jawa, dapatlah dilihat dari dekat apa yang sebenarnya kejadian.  Membaca surat-surat kabar Jawa yang sampai ke Medan, dia mendapat kesan seakan-akan rakyat Tanah Jawa telah benar-benar berdiri di belakang Jepang.

Mula-mula diadakan di Jawa gerakan Tiga “A” yang dipimpin oleh Mr. Syamsudin untuk membela tentara Jepang, untuk mencapai kemenangan terakhir. Sesudah itu gerakan Tiga “A” dilanjutkan dengan gerakan PUTERA yang dipimpin oleh Empat Serangkai, Ir. Soekarno, Drs. Mohamad Hatta, Ki Hajar Dewantara, dan KH Mas Mansur. Tujuan PUTERA adalah menggembleng semangat rakyat supaya berjiwa perang.

Di Jawa dia bertemu pemimpin-pemimpin besar dan pemimpin kecil. Bercakap-cakap dengan rakyat, membuat perhubungan dengan PUTERA sendiri dan dengan Masyumi, yang menjadi ganti daripada MIAI (Majlis Islam A’laa Indonesia). Rata-rata tidak ada yang setuju dengan Jepang. Ketika bertemu dengan Nyonya S.K Trimurt,  penganjur kaum wanita yang terkenal itu, didengarnya Srikandi itu menumpahkan perasaan hatinya: “Saudara Hamka, kita sekarang mesti pandai main sandiwara!”

Wajah Srikandi itu kelihatan muram saja. Suaminya Sayuti Melik, ditahan Jepnag, sebagai Mr. Amir Syarifudin juga.

Di antara perasaan anti-Jepang yang sangat mendalam bukan didapatnya di tempat lain, melainkan dari ayahnya sendiri. Kerap ayahnya berkata, “Akan dibikinnya bagaimanakah umat ini oleh Jepang? Belum ada kezaliman yang melebihi daripada itu.

Pemimpin-pemimpin yang dituduh anti-Jepang, hilang saja entah ke mana perginya. Di antara begitu banyak pemimpin, yang tidak sedikit juga jemu menggembleng semangat rakyat, supaya membantu peperangan, ialah Bung Karno sendiri. Rakyat telah mulai jemu dan marah! Ketika dia mengadakan rapat-rapat raksasa di tanah lapang yang mulanya di hadiri oleh beribu-ribu orang. Kian lama kian berkurang yang datang. Tetapi dia tidak mau jemu. Keluarlah semboyan yang terkenal pada masa itu: “Amerika kita seterika, Inggris kita liggis!” Beliau mengerahkan rakyat jadi romusha ke tempat yang jauh-jauh! Beliau mengerahkan pemuda memasuki PETA; Pembela Tanah Air.

“Kalau Jepang kalah, tentu Empat Serangkai dituduh penjahat perang dan akan dihukum mati atau dibuang semua,” kata Hamka San pula!

“Hal seperti itu tidak boleh menjadikan kecutnya seorang pemimpin. Pemimpin wajib bertanggung jawab dan berani menempuh pengorbanan untuk kepentingan bangsanya. Kalau Jepang menang kami terus pimpin bangsa Indonesia mencapai kemerdekaan dalam lingkungan Asia Timur Raya sebagai Laurel, U Ba Mau, Subhes Cendra Bose, dan lain-lain. Dan kalau Jepang kalah kami menjadi korbannya, dan masih banyak lagi pemimpin yang lain yang akan menggantikan kami, di antaranya Bung sendiri,” katanya dengan sungguh-sungguh, “yang akan tampil ke muka menggantikan kami dan mencapai kemerdekaan Indonesia menurut zamannya pula.”

“Tidak ada bayang-bayang sedikit juga bahwa Jepang akan memerdekakan kita. Dia hanya meminta tenaga kita banyak-banyak, meminta Romusha, meminta Heiho, meminta Gyu Gun, tapi dia tdak member,” kata Hamka San!

“Dan kita berkorban lagi dan berkorban lagi!”

“Tetapi rakyat tidak tahan lagi menderita.”

“Kita tidak boleh berputus asa! Di dunia ini banyak soal-soal besar yang cepat berubah, di luar dari pengiraan kita. Kita tidak boleh putus asa!”

Demikianlah kata Bung karno, yang senantiasa terlukis dalam ingatannya bertahun-tahun.

Hamka San membuka pula satu soal lain; “Lihatlah, kehormatan bangsa kita sudah dipermain-mainkan oleh serdadu Jepang. Perempuan-perempuan dirusak kehormatannya. Gadis-gadis banyak yang menjadi korban. (Baca artikel: Hamka Dituduh Menjual Kehormatan Gadis-gadis)

Beliau menjawab dengan tegas, “Pemimpin mesti berjiwa besar. Pemimpin tidak boleh melihat kerugian karena mencari keuntungan yang lebih besar. Untuk mengubah nasibnya, bangsa kita mesti menempuh kesengsaraan terlebih dahulu. Remuk hancur mana yang tidak tahan. Tetapi sejarah menyaring mana yang lebih kuat. Itulah yang akan tinggal, untuk melanjutkan cerita-cerita.”

Dan itulah dia mendapat pendirian. Dan dengan bekal itulah dia hendak kembali ke tempat dia berjuang, ke Sumatera Timur. Bung Karno sendiri yang mengantarnya ke Tanah Abang.

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda