Mutiara

Pendekar Ulama Betawi (2): Guru Mansur

Ulama yang ahli falak paling terkemuka pada zamannya ini ternyata yang memempopulekan Slogan ‘Rempug!’ Ia tetap mengibarkan merah putih di.menara masjid meskipun di bawah ancaman Belanda.

Kiai Haji Muhammad Mansur alias Guru Mansur adalah ulama, ahi falak, dan pejuang kemerdekaan dari Betawi. ia terkenal dengan dengan pesan-pesan yang selalu diingat orang Betawi: “Rempug! Kalau jahil belajar, kalau alim mengajar, kalau sakit berobat, kalau jahat lekas tobat “.

Ia dilahirkan di Kampung Sawah, Jembatan Lima, Jakarta Barat, pada tahun 1878. Ia putra Imam Abdul Hamid bin Imam Muhammad Damiri bin Imam Habib bin Abdul Mukhit. Abdul Mukhit adalah Pangeran Tjokrodjojo, Tumenggung Mataram. Karena itu, guru Mansur diyakini punya trah Mataram dari garis ayahnya.

Pada tahun 1894, dalam uia 16, Mansur pergi ke Mekkah bersama ibunya untuk menunaikan ibadah haji sekaligus belajar. Selama empat tahun belajar di Mekah, ia berguru kepada sejumlah ulama. Di antaranya Syaeh Sa’id Al-Yamani, Syeikh Umar Bajunaid Al-Hadrami, Syekh Muhammad Ali Maliki, Syeikh Muhammad Mukhtar Athorid A-Bogori, Syekh Umar Sumbawa, Syekh Mujitaba Sayyid Muhammad Hamid, dan Syekh Said Tamani.

Untuk ilmu falak ia belajar kepada Abdurrahman Misri, ulama dari Mesir dan Ulugh Bek, ulama asal Samarkand. Sebelum pergi ke Mekah, ia juga pernah belajar kepada seorang ulama dari Mester Cornelis (Jatineara) bernama Haji Mujaba bin Ahmad.

Setelah empat tahun belajar di Makkah, ia pulang ke kampung halamannya. Sebelumnya ia singgah di Aden, Benggala, Kalkuta, Burma, India, Malaya dan Singapura. Setiba di Jakarta, ia mulai membantu ayahnya, Haji Hamid, mengajar di rumahnya di Kampung Sawah yang menjadi tempat pemuda-pemudi Betawi belajar agama.

Pada masanya, tak ada ulama ilmu falak yang lebih terkemuka di Jakarta selain Guru Mansur. Ketertarikannya dengan ilmu falak itu dipicu atas sering terjadinya perbedaan penetapan awal Ramadhan dan hari raya Idul Fitri. Atas perbedaan itu, puasa atau hari raya Idul Fitri dirayakan dalam waktu yang berbeda. Untuk mengatasi masalah ini, ia kemudian mendalami ilmu falak berdasarkan perhitungan ilmu hisab.

Pada tahun 1946, ketika Belanda menduduki Jakarta, ia termasuk ulama yang keras menentang Belanda. Ia memerintahkan agar di Menara Mesjid Jembatan Lima(sekarang Masjid Al-Mansur) dikibarkan bendera Merah Putih. Ia memang ulama pejuang kemerdekaan Indonesia. Ia menyerukan agar bangsa Indonesia memasang atau mengibarkan bendera merah putih. Karena itu ia sering berurusan dengan Hoofd Bureau kepolisian di Gambir. Meskipun di bawah ancaman senjata NICA/Belanda, Ia tetap mempertahankan sang saka merah putih berkibar di menara mesjid.

Guru Mansur menyerukan persatuan umat dengan slogannya yang terkenal “Rempug”, yang artinya musyawarah. Ia juga menuntut agar hari Jumat dijadikan hari libur bagi umat Islam. Perlawanan guru Mansur terhadap Belanda sesunguhnya sudah dimulai tahun 1925, ketika masjid Cikini di Jalan Raden Saleh akan di bongkar . Pembongkaran ini disetujui oleh Raad Agama (Pengadilan Agama), Ia melancarkan protes keras sehingga akhirnya pembongkaran mesjid tersebut dibatalkan.

Cita-cita dan pengalamannya dalam mengamalkan ajaran-ajaran Islam, ia buktikan dengan jalan berdakwah, mendidik dan membina anak-anak

muda. Sebagai sarana penunjang cita-citanya tadi, ia mendirikan sekolah, madrasah, pesantren serta majelis taklim. Ia mengajar di Madrasah Jamiatul Kheir, Pekojan, sejak tahun 1907. Saat mengajar di Jamiatul Kheir inilah ia mengenal banyak tokoh-tokoh Islam, seperti Syaikh Ahmad Soorkati, K.H. Ahmad Dahlan yang juga anggota perkumpulan Jamiatul Kheir. Kemudian ia diangkat menjadi penghulu daerah Penjaringan dan pernah juga menjabat sebagai Rois Nahdhatul Ulama cabang Betawi pada masa K.H. Hasyim Asy’ari.

Di samping menggunakan metode berdakwah secara lisan, ia juga menuangkan pemikirannya melalui tulisan termasuk tulisan tentang ilmu falak (astronomi Islam) antara lain Sullam An-Nayrain. Beberapa hasil karya tulisnya Khulashoh Al-Jadawil; Kaifiyah Al-Amal Ijtima; Mizan Al-Itidal, dan Washilah Ath-Thulab

Kakek-buyut Ustadz Yusuf Mansur ini wafat pada tanggal 12 Mei 1967. Jenazahnya dimakamkan di halaman Kakek buyut Usta Mesjid Al-Mansur Kampung Sawah, Jembatan Lima.

About the author

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda