Hamka

Hamka tentang Hamka (Bagian 13)

Written by Panji Masyarakat

Hamka terdorong untuk menyelidiki kasus pembunuhan tentara Jepang oleh seorang pemuka di Aceh. Tindakan yang  amat berisiko ini menimbulkan rasa kagum pemimpin balatentara Jepang di Sumatera Timur. Apa yang didapatnya di Aceh?    

Hamka San

Pada 12 November 1942 dengan tiba-tiba datanglah juru bahasa Yoshida menjemput Bung Haji ke rumahnya. Tyoko (pemimpin Jepang di Sumatera, Red.) minta datang lekas. Muka Tyokan kelihatan bengis sekali ini. Soal berat menimpa kepalanya rupanya.

“Hamka San! Apakah perbedaan diantara agama Islam yang dipeluk orang Aceh dengan yang dipeluk orang disini dan ditempat lain?”

“Kenapa begitu Tuan Besar?”

“Kemarin (11 November) telah terjadi hal yang sangat menyedihkan hati di Bayu dekat Lhok Seumawe di Aceh. Satu guru Islam telah melawan Dai Nippon. Tentu Islamnya lain dengan Islam di tempat lain?”

“Saya rasa tidak, Tuan!”

Tyokan terkejut mendengar jawaban itu.

“Jadi kalau tidak berlain, tentu Islam yang lain juga anti-Jepang. Hamka San juga anti-Jepang dalam hati! Yah, saya sudah belajar dari Tuan, orang Islam mempunyai pikiran supaya mendirikan Kerajaan Islam. Hamka San tidak usah sembunyi-sembunyi.”

“Tentang makhsud mendirikan pemerintahan Islam, memang ada dalam ajaran Nabi. Tetapi itu menilik kepada waktu. Ada aturannya. Teungku di Aceh itu belum berani mendirikan Kerajaan Islam kalau syarat-syarat itu belum cukup. Saya rasa di sini ada tersembunyi perkara lain.”

“Perkara apa Tuan rasa? Apa Teungku itu mata-mata Inggris Amerika?”

“Tidak mungkin! Orang Aceh anti-bangsa kulit putih sebagai Nippon juga. Barang kali ada kesalahan dari orang Nippon yang datang di sana.”

“Orang Jepang salah, kata Tuan? Orang Jepang tidak salah. Sungguh-sungguh Tenno Heika mau menolong Asia dari jajahan Barat.”

“Kalau itu tidak mungkin kata Tuan, mungkin ini dari salah terima karena kurang penerangan. Sebab sebelum Jepang masuk, orang Aceh telah berjuang mati-matian mengusir Belanda.  Orang Aceh suka kepada Jepang!”

“Apa ini sebabnya? Saya mau tahu.”

Terlintaslah pikiran Bung Haji satu tanggung jawab besar! Dia hendak melakukan tugas berat. Dia pun berkata: “Saya sendiri akan pergi ke tempat pemberontakan itu!”

Tyokan tercenggang. Disuruhnya juru bahasa menanyakan sekali lagi karena barangkali terjemahannya kurang bagus. “Apa makhsud Tuan?”

“Biar saya pergi ke tempat itu, saya periksa, dan saya nanti pulang membawa laporan yang jujur.”

“Oh, Tuan mau Pergi ke sana? Tuan tidak takut? Nanti Tuan dibunuh!”

“Kalau Jepang tidak takut datang ke negeri ini, padahal kebangsaan kita berlainan, karena kewajiban; mengapa saya mesti takut pergi ke Aceh, padahal mereka bangsa saya dan seagama dengan saya, karena kewajiban pula?”

Hormatnya luar biasa mendengar jawaban itu. Muka Bung Haji dilihatnya tenang-tenang, telunjuknya dengan tidak disadarinya menulis-menulis dipinggir kursi. Tidak lepas-lepas Bung Haji dari penglihatan matanya. Sampai Bung Haji sendiri curiga, apakah dia dicurigai pula?

“Bagaimana? Apakah Tuan Besar percaya?” tanya Bung Haji.

“Saya kagum! Semangat Hamka San serupa semangat Jepang!”

“Terima kasih.”

Maka dia pun bicara dalam bahasa Jepang dengan tolk-nya (juru bicara, Red.). Tolk-nya segera keluar, sebentar di antaranya pun datang dengan tuan kepala keuangan. Beberapa saat kemudian keluarlah tiket kereta api, satu surat istimewa dari Tyokan untuk diperlihatkan kalau ada pertanyaan di jalan. Dan uang  f 50.

Lima puluh rupiah (gulden) pada waktu itu masih “banyak”!

Dengan hati berdebar-debar Bung Haji, atau Hamka San, pulang (selama zaman Jepang ini, mari kita tukar namanya menjadi Hamka San —  ungkapan Hamka sendiri, Red). Sampai di rumah dia berpikir mengapa dia seberani itu. Baru kemarin perlawanan, dan menurut laporan, kepala pemberontak belum menyerah. Ada yang akan diturutinya ke sana? Tidakkah itu menyambung nyawa? Kepada istrinya tidak disebutnya, bahwa dia akan pergi menyelidiki atau mendamaikan pemberontakan. Cuma diterangkannya saya ada keperluan lain. Kepada kawan-kawannya di Muhamadiyah dinyatakan bahwa dia juga ada rasa cemasnya akan pergi ke sana.

Sahabtnya Adinegoro melepaskannya dengan cemas dan berkata: “Berangkatlah! Ingat saja Tuhan, ada kewajiban kepada Tanah Air.” Tetapi di atas dari kecemasannya, sudah mulai terasa olehnya, bahwa inilah kesempatan sebaik-baiknya buat menyelidiki dengan seksama dan memberikan keterangan dengan jujur kepada Jepang tentang semangat umat Islam, lebih-lebih bila tersinggung kehormatan agamanya. Kalau tidak ada sebab yang begini, tentulah tidak ada harga jika perbuat nasihat di waktu yang biasa.

Dia pun berangkatlah.

Hamka San berangkat ke Aceh tanggal 12 November. Sehari dia sampai, hari jumat itulah Jepang melakukan pembersihan ke bukit tempat Teungku bersembunyi. Dia datang hanyalah mendapati abu dan kuburan. Di Lhok Seumawe dia singgah ke tempat Kempetai yang telah membakar surau itu. Didapatinya kitab-kitab agama yang dibongkar dari surau itu telah terlonggok dilantai, berserak-serak. Di Pejabat Kempetai, Hamka San bermakhsud hendak bertemu dengan Kepala Militer Pulis (Kempetai-tyo) itu. Tetapi sangatlah dihalang-halangi dan dia dibentak-bentak dengan penghinaan.“Kalau semangat lemah, maulah pulang saja,” kata Hamka San kemudian. Diperlihatkannya surat. Bertambah diperlihatkannya surat dari Tyokan Sumatera Timur, bertambah murka serdadu-serdadu itu. Kata mereka: “Tyokan Medan tidak kuasa di sini!” Tolk pun turut menghardik-hardik: “Mengapa kowe berani masuk di sini?”

Hamka San naik palak. Dia berkata: “Saya kepala Agama Islam. Saya Kepala Muhamadiyah perkumpulan Agama yang berpusat di Jawa dan di Mekah. Saya mesti tahu! Apakah Teungku ini telah salah memakai Quran. Saya Fui-Fui Kiyo Tyo!”

Baru berubah sikap mereka. Baru dia dipersilakan duduk. “Berpusat ke Jawa, berpusat ke Mekah! Bukankah pusat ibadah Islam itu di Mekah?” tanya Hamka San di hadapan saya ketika dia menguraikan hikayat itu kepada penulis (kata kepada dirinya- Red) . “Tidak bohong, bukan?”

Baru diperbolehkan dia meminta keterangan. Sesudah itu, Hamka San, minta permisi memeriksa buku-buku yang terserak di lantai itu. Dia dibolehkan. Bertemulah beberapa kitab fikih, kitab tasawuf, dan kitab-kitab yang lain. Tersiraplah juga darah Hamka San, sebab di antara kitab-kitab itu bertemu pula majalah sendiri Pedoman Masyrakat. “Berlangganan juga Teungku ini, rupanya,” pikirnya. Kemudian bertemulah olehnya suatu buku yang menarik hati, hanya buku tulis kecil tetapi isinya penuh-penuh dengan doa-doa untuk dibaca seketika berjuang menentang musuh. Si Jepang tidak tahu, bahwa itulah “isi” yang dicari. Dengan berlengah-lengah, serupa buku kecil itu tidak penting, Hamka San pun tegak. Dia minta kepada Jepang itu supaya buku-buku ditaruh ditempat yang layak. Buku kecil itu masuk ke dalam sakunya.

Demikianlah tentang Aceh yang didapatinya. Dia pun kembali ke Medan. Setelah enam hari di Aceh lalu diperbuatnya laporan. Tetapi tidak boleh panjang-panjang. Ringkas, jitu, dan pendek! Tidak usah dengan surat. Datang saja kepada Tyokan, katakan terus terang. Nanti toh menyalin ke dalam Bahasa Jepang.

“Pada pendapat saya,” kata Hamka San, “keberanian pergi ke Lhok Seumawe karena didorong oleh ghirah agama inilah yang menyebabkan saya sesudah itu dengan sendirinya telah berdekat dengan Jepang! Banyak pemimpin yang  lebih besar kalibernya, hanya yang dapat di bawah-bawah. Mereka ingin, tetapi tidak mendapat. Saya tidak ingin. Di hadapan kawan-kawan yang akrab, seperti Yunan Nasution, Adinegoro, senatiasa saya nyatakan kalau dapat hendak menjauh dari Jepang. Tapi kesanggupannya pergi ke Lhok Seumawe menyelidiki pemberontakan itu, menyebabkan saya bertemu dengan perkara yang tidak saya ingini, yang pada akhirnya lebih banyak saya menderita batin.” Demikianlah keterangannya. Entah ya, entah tidak!
Kembali dari Aceh, diadakanlah konferensi Muhamadiyah. Seluruh cabang datang karena memang sudah lama ingin mangadakan pertemuan yang agak lengkap. Sebetulnya rapat yang demikian kalau diketahu Jepang, tentu dilarang. Tetapi sebagaimana diterangkan dahulu, dengan alasan mengaji, maka langsunglah rapatnya di Jalan Kamboja, dengan selamat. Tidak ada pula tentara yang mengganggu, sebab di mana-mana telah tersiar kabar, bahwa Hamka San “kawan” dengan Tyokan. Dan Jalan Kamboja terjauh dari jalan raya! Dalam rapat itu, setelah diberitakannya segala perhubungan dengan Jepang, perjalanannya ke Aceh dan lain-lain, dan melihat bahwa raja-raja dan sultan-sultan yang selama ini amat menghalangi Muhamdiyah sekarang mendengar konsulnya telah mulai rapat dengan Jepang, telah mulai segan. Konferensi Muhamadiyah memutuskan, hendaklah hubungan ini diteruskan.

Bersambung

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda