Cakrawala

Vaksin Peradaban Adigang Adigung Adiguna

Hari-hari ini orang sedang sibuk mencari vaksin untuk menghentikan sebaran virus SARS-CoV-2 yang melahirkan wabah Covid-19 (corona virus disease 2019). Vaksin adalah bahan antigenik yang digunakan untuk menghasilkan kekebalan tubuh terhadap suatu penyakit. Vaksinasi, memberi vaksin ke tubuh manusia, selama ini memang merupakan metode yang dianggap paling efektif untuk mencegah penyakit menular.

Tapi, nanti dulu, bila sedikit kita ubah sudut pandangnya, mungkin akan kita temukan adanya perspektif lain untuk memandang kehadiran virus ini. Bukankah selama ini kesibukan mencari vaksin berangkat dari kesadaran untuk menyelamatkan manusia? Nah, kita bisa berandai-andai: bagaimana misalnya bila ternyata kehadiran virus ini justru sebagai salah satu bentuk vaksin untuk menyelamatkan kemanusiaan?

Bukankah kita berkejaran dengan waktu untuk menemukan vaksin, karena vaksin tersebut dibutuhkan untuk menyelamatkan jasad lahiriah manusia dari sakit, kerusakan atau bahkan kematian? Bagaimana misalnya bila ternyata kecuali sebagai virus bagi jasad manusia, Covid-19 juga secara sekaligus berfungsi sebagai vaksin bagi jiwa manusia untuk menyelamatkannya dari sakit, kerusakan atau bahkan kematian secara ruhaniyah?

Dampak sebaran Covid-19 yang dengan cepat dan cukup dalam mengobrak-abrik tatanan peradaban modern; tentu membuat orang tertegun. Hanya dalam waktu kurang dari empat bulan, menurut Worldometers, virus ini telah menginfeksi 374.768 orang di 192 negara, dengan korban meninggal sebanyak 16.355 orang. Kedigdayaan peradaban yang selama ini sangat diandalkan manusia, ternyata montang-manting hanya oleh mikro organisme yang ditandai sebagai SARS-CoV-2.

Peradaban ini seperti sebuah mesin besar yang tiba-tiba macet; atau seperti sebuah bus yang mendadak di-rem ketika sedang melaju kencang di jalan bebas hambatan, sehingga membuat seluruh penumpangnya kalang-kabut kehilangan pegangan.

Kalang kabut adalah kosa kata yang diserap dari kal-‘ankabut, yang berarti ‘seperti laba-laba’. Ungkapan yang berasal dari ayat al-Qur’an: “Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah, adalah seperti laba-laba yang membangun rumah. Dan sungguh, serapuh-rapuh rumah adalah rumah laba-laba, kalau mereka mengetahui” (QS: 29-41).

Kita benar-benar dibuat kaget, sehebat apa pun peradaban yang kita bangun, ternyata tetap tak lebih kokoh dari rumah laba-laba. Peradaban yang kita sangka digdaya, yang mampu menawarkan beragam kemudahan hidup, yang memamerkan segala macam kemewahan metropolis dengan pencakar langitnya, yang bisa membuat pesawat ulang-alik, yang sedang asyik-asyiknya mimpi tentang disrupsi, tentang jaringan 5G, tentang mobil mandiri, smart-town,  tentang revolusi industri 4.0 dst; tiba-tiba pingsan diserang virus yang terlihat mata pun tidak.

Bagaimana bisa peradaban yang sudah demikian canggih mengembangkan persenjataan, yang katanya dirancang untuk mempertahankan diri dari serangan sesama manusia; ternyata tak mampu mengembangkan kesadaran pertahanan yang cukup memadai terhadap musuh paling nyata bagi keberadaannya: penyakit menular yang mematikan?

Peradaban ini tampaknya hanya mampu memanjakan keserakahan untuk mengobrak-abrik alam dan mengobrak-abrik pergaulan; tapi hakikatnya tidak pernah bisa melindungi manusia. Hanya mampu memanjakan syahwat dan ghodob, sekaligus menjauhkan manusia dari kemanusiaanya sendiri.

Secara kasat mata, dalam pergaulan sehari-hari, bisa kita lihat betapa peradaban ini dibangun dengan menyatukan watak adigang, adigung, adiguna sebagai landasannya. Adigang artinya mengandalkan kekuatan, adigung adalah mengandalkan kebesaran sedang adiguna adalah mengandalkan kepandaian.

Virus adigang-adigung-adiguna tampaknya memang telah menginfeksi sedemikian rupa, sehingga bisa dikatakan peradaban ini hampir dengan sempurna mempertunjukkannya di segenap lini dan tingkatan: bagaimana yang lemah ditindas, yang kecil diinjak dan yang bodoh dibuang. Tapi, ibarat gajah yang kalah justru oleh semut, hari ini kita saksikan betapa keadigang-adigung-adigunaan tersebut justru runtuh oleh sesuatu yang berjuta kali lebih kecil dibanding semut.

Dari sisi ini, boleh saja kita melihat kehadiran Covid-19 justru sebagai vaksin bagi virus adigang-adigung-adiguna peradaban ini. Bukankah ‘keadigang-adigung-adigunaan’ virus yang pada dasarnya lembut ini terbukti berhasil memorak-porandakan kekasaran hampir semua sekat yang dibangun oleh keadigang-adigung-adigunaan peradaban kita?

Keadigang-adigung-adigunaan Covid-19 telah memaksa manusia meruntuhkan perbedaan agama, etnik, kelas, golongan dan sebagainya; yang selama ini menjubahi dan menjauhkan mereka dari hakikat kemanusiannya sendiri. Mau tidak mau, manusia dipaksa mempertimbangkan kembali posisi dasarnya sebagai ummatan wahidah (QS 2: 213); ummat yang satu; karena virus ini tidak mengancam satu kelompok saja, tapi ummat manusia secara keseluruhan yang harus bahu membahu menghadapinya.

Sudah tentu, sebagai vaksin, ketika virus ini ‘disuntikkan’ ke tubuh besar peradaban, ia pasti menghasilkan ‘demam’. Kepanikan, ketakutan, kebingungan adalah bagian kecil dari kondisi ’demam’ yang mau tak mau harus dijalani. Demikian juga guncangnya perekonomian, goyahnya pola politik global dan retaknya banyak lembaga penopang peradaban.

Demam yang di sisi lain sekaligus membuat kita menggigil oleh ketidak-tegaan melihat korban yang masih terus berjatuhan; oleh keharuan melihat para dokter, bidan dan semua yang dengan gagah berani berjibaku di garis depan, oleh harapan agar manusia terselamatkan.

Melihat harga yang harus dibayar tersebut, bila pada saatnya nanti penyebaran  Covid-19 sebagai virus bagi jasad manusia berhasil dihadang atau vaksin untuk menumbuhkan kekebalan terhadapnya berhasil ditemukan; tapi di sisi lain, secara bersamaan kehadirannya gagal menjadi vaksin yang mampu menumbuhkan kekebalan peradaban kita terhadap virus adigang-adigung-adiguna; dan virus ini kemudian terbukti berhasil menginfeksi kembali; maka kita benar-benar telah menjadi kal an’am bal hum adhol (QS 7: 179) seperti binatang bahkan lebih rendah lagi; karena sudah diberi peringatan sedemikian keras pun masih juga lalai menggunakan hati, mata, telinganya untuk belajar.

Budayawan,tinggal di Pati Jawa Tengah. Pendiri Rumah Adab Indonesia Mulia

About the author

Anis Sholeh Ba'asyin

Budayawan, lahir di Pati, 6 Agustus 1959. Aktif menulis esai dan puisi sejak 1979. Tulisannya tersebar di koran maupun majalah, nasional maupun daerah. Ia aktif menulis tentang masalah-masalah agama, sosial, politik dan budaya. Di awal 1980an, esai-esainya juga banyak di muat di majalah Panji Masyarakat. Pada 1990-an sempat istirahat dari dunia penulisan dan suntuk nyantri pada KH. Abdullah Salam, seorang kiai sepuh di Kajen - Pati. Juga ke KH. Muslim Rifai Imampuro, Klaten. Sebelumnya 1980an mengaji pada KH. Muhammad Zuhri dan Ahmad Zuhri serta habib Achmad bin Abdurrahman Al Idrus, ahli tafsir yang tinggal di Kudus. Mulai 2001 kembali aktif menulis, baik puisi maupun esai sosial-budaya dan agama di berbagai media. Juga menjadi penulis kolom tetap di beberapa media. Sejak 2007 mendirikan dan memimpin Rumah Adab Indonesia Mulia, sebuah lembaga nirlaba yang bergerak di bidang pendidikan non formal, penelitian, advokasi dan pemberdayaan masyarakat. Karya lainnya, bersama kelompok musik Sampak GusUran meluncurkan album orkes puisi “Bersama Kita Gila”, disusul tahun 2001 meluncurkan album “Suluk Duka Cinta”. Sejak 2012, setiap pertengahan bulan memimpin lingkaran dialog agama dan kebudayaan dengan tajuk ”Ngaji NgAllah Suluk Maleman” di kediamannya Pati Jawa Tengah mengundang narasumber tokoh lokal maupun nasional.

Tinggalkan Komentar Anda